Bumi yang Kita Wariskan, Bukan Kita Habiskan Masih untuk adik-adikku gen-z dan gen alpha. Coba bayangkan dirimu dua puluh tahun dari s…
Hujan Bisa Memadamkan Api, tapi Tidak Memperbaiki Cara Kita Memperlakukan Alam Pagi ini mendung menggantung tipis di luar jendela, 15 Oktober 2026, tanda-tanda mau huja…
“Tetap di Rumah” Tidak Sesederhana Itu bagi Semua Orang Pagi ini aku memperhatikan grafik pergerakan angin di sebuah portal berita. Warna merah p…
Api Tidak Datang Begitu Saja: Kisah Panjang di Bawah Tanah Gambut Malam itu, sambil menyeruput kopi less sugar yang mulai dingin, jempolku terus menggeser …
Ketika Bernapas Bukan Lagi Urusan Sederhana Pagi tadi, rutinitasku berjalan seperti biasa. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Ang…
Satu Pertanyaan untuk Mengukur Kebahagiaan Rumah Tangga Duduk bersama di ruang tamu saat kumpul keluarga sering kali menghadirkan suasana yng cam…
Berhenti Jadi Hakim bagi Sesama Manusia Dulu, aku punya cara yang sangat sederhana, lebih tepatnya naif sih, dalam menilai manusi…
Belajar Tertawa daripada Terus Marah Jam menunjukkan angka 23.46, tapi jempolku masih sibuk menggulir layar ponsel. Cahaya lay…
Dihargai Karena Siapa, Bukan Karena Apa Pagi itu, AC di lobi sebuah hotel kami menunggu untuk dimulainya registrasi seminar. Aku …
Jika Tabunganku Lima Milyar Aku Akan .... Siang kemarin, di sela kunyahan mie ayam pangsit yang mengepul hangat, seorang kawanku me…
Ikhlas itu Sebenarnya Gampang Banget Dulu sekali, belasan tahun yang lalu saat aku masih tinggal di lingkungan kontrakan lama,…
Belajar Pulang dengan Dada Lapang Pagi kemarin, seperti biasa aku menyalakan podcast Pak Wayan lewat headset selama perjala…
Baca Dulu, Baru Tanya Bayangkan HP-mu bergetar. Ada notifikasi masuk dari grup WhatsApp divisi kantor, atau mun…
Lagu “Ibu dan Kamu” Saya membuat sebuah lagu berjudul “Ibu dan Kamu” . Lagu ini bercerita tentang saya sebaga…