Jika Tabunganku Lima Milyar Aku Akan ....

Siang kemarin, di sela kunyahan mie ayam pangsit yang mengepul hangat, seorang kawanku melempar celetukan sambil tertawa lebar. "Kalau saja tabunganku tembus lima miliar besok pagi," katanya sembari mengelap peluh di dahi. "Aku langsung pensiun dini. Setiap hari kerjaanku cuma santai, jalan-jalan, menikmati hidup, sama bikin postingan mengkritik pemerintah di media sosial, haha."

Kami berdua tertawa mendengar khayalan itu. Kedengarannya memang renyah dan menggelitik. Mengkritik kebijakan penguasa sering kali menjadi hiburan paling murah saat kita sedang penat dengan rutinitas harian.

Jarahan di Jalan Raya

Candaan kawan tadi rupanya tidak berhenti di meja makan. Sepanjang perjalanan pulang menembus angin sore di atas motor, obrolan tersebut mendadak terngiang. Saat motorku berhenti di sebuah perempatan dan melihat beberapa pengendara nekat menerobos lampu merah, sebuah pertanyaan mengusik pikiranku: benarkah cuma orang-orang di kursi pemerintahan yang pantas disorot kelakuannya?

Ingatanku melayang pada beberapa rekaman video berita di media sosial yang belakangan ini sering lewat di linimasa. Ada kejadian truk pengangkut telur yang terguling di tikungan jalan antarkota. Alih-alih menolong sopir yang terluka atau terjepit di ruang kemudi, warga sekitar justru berhamburan datang membawa ember, baskom, bahkan karung goni untuk menjarah telur-telur yang berserakan.

Pemandangan serupa berulang saat truk tangki minyak goreng oleng, atau mobil bak muatan ikan lele terbalik di selokan jalan raya. Orang-orang berebut memasukkan barang yang bukan haknya ke kantong plastik dengan wajah tanpa rasa bersalah. Sementara itu, sopir yang malang cuma bisa terduduk lesu di pinggir aspal, menangis meratapi muatannya yang ludes disikat massa.

Beda Panggung, Sama Niat

Mengingat kembali peristiwa-peristiwa itu, ada rasa tidak nyaman di dada. Sebagian warga yang berebut telur di pinggir jalan itu barangkali adalah orang yang sama dengan mereka yang getol mencaci koruptor di kolom komentar berita daring. Mereka menuntut keadilan, menolak kecurangan, dan mengutuk orang-orang berdasi yang menilap uang proyek.

Padahal, perbedaan di antara keduanya mungkin cuma sebatas kesempatan dan nilai nominal. Orang-orang di jalanan itu mengambil telur karena memang cuma telur yang ada di depan mata mereka saat itu. Pertanyaannya, bagaimana seandainya mereka diberi kesempatan duduk di kursi empuk dinas, memegang stempel persetujuan proyek bernilai miliaran, dan memiliki ruang aman untuk memanipulasi anggaran tanpa ketahuan? Sangat terbuka kemungkinan mereka akan melakukan hal yang persis sama. Perilaku menjarah telur di jalanan dan menjarah uang rakyat di kantor pemerintahan lahir dari rahim yang sama: ketiadaan integritas saat melihat kesempatan.

Tentu saja, kita tidak boleh memukul rata semua orang. Aku yakin masih ada pejabat publik dan aparat yang memegang teguh kejujuran. Mereka bekerja dengan tenang, menjaga amanah dengan hati-hati, meski jumlah mereka mungkin terasa sangat sedikit di tengah kabar miring yang saban hari kita dengar.

Integritas Diuji dari Hal Kecil

Mengawasi jalannya roda kepemimpinan jelas merupakan hak kita bersama. Kritik yang tajam dan membangun tetap sangat dibutuhkan agar negara ini berjalan di rel yang benar.

Namun, sebelum jari telunjuk kita melayang terlalu jauh menunjuk orang-orang di atas sana, ada baiknya kita memeriksa telapak tangan kita sendiri. Mutu para pemimpin sesungguhnya adalah cerminan dari masyarakat yang melahirkannya. Integritas kita sedang diuji bukan dari seberapa keras kita mencela kebobrokan birokrasi, melainkan dari pilihan sikap kita saat melihat celah kecil untuk berbuat curang dalam keseharian.

Kalau sekadar menahan diri dari mengambil hak orang lain di pinggir jalan saja kita masih kalah oleh hawa nafsu, rasanya kita belum pantas merasa jauh lebih bersih daripada mereka yang sedang kita kritik, itu menurut keyakinan saya :D

Yuk pake pov lain. Menurutmu nih ya, fenomena menjarah muatan truk yang terguling itu murni karena desakan kebutuhan hidup, atau memang cerminan mental aji mumpung yang sudah terlalu lama dibiarkan? Tulis sudut pandangmu di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-48 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI