Berhenti Jadi Hakim bagi Sesama Manusia

Dulu, aku punya cara yang sangat sederhana, lebih tepatnya naif sih, dalam menilai manusia. Di kepalaku, dunia ini seperti film pahlawan super zaman dulu. Isinya cuma dua kubu: orang baik yang tanpa celah, dan orang jahat yang tidak punya hati.

Namun, seiring bertambahnya usia dan semakin jauh kaki ini melangkah, kehidupan seolah menyadarkanku pada kenyataan yang sama sekali berbeda. Garis batas antara "baik" dan "jahat" itu ternyata tidak pernah berupa tembok beton, melainkan garis buram yang mudah sekali terlewati.

Ada dua kejadian berurutan di masa lalu yang sukses meruntuhkan asumsi hitam-putihku.

Urat Leher yang Menegang karena Goresan Cat

Kejadian pertama melibatkan seseorang yang akan kupanggil Pak RT (bukan jabatan sebenarnya, tapi beliau sangat dihormati di masyarakat). Beliau adalah definisi "orang baik" versi buku cetak PPKn. Rajin ibadah, tutur katanya halus, dan selalu tersenyum setiap kali berpapasan. Tidak ada yang berani meragukan keluhurannya.

Jadi beliau baru saja beli mobil. Sampai suatu sore, sebuah insiden kecil terjadi di perempatan jalan. Mobil barunya tak sengaja terserempet gerobak sampah milik seorang pemulung yang kelelahan. Goresannya sebenarnya tidak seberapa, mungkin hanya butuh sedikit polesan kompon.

Namun, apa yang kulihat hari itu membuat merinding.

Pak RT yang biasanya lembut itu turun dari mobil dengan urat leher menegang. Ia memaki pemulung yang sudah gemetar ketakutan itu dengan kata-kata yang sangat kasar, kata-kata yang merendahkan martabat dan menguliti harga dirinya. Pemulung itu sampai bersimpuh meminta maaf, tapi Pak RT seolah menutup mata dan telinganya. Hari itu, aku melihat ada "monster kecil" yang selama ini tertidur lelap di dalam diri beliau, terbangun hanya karena sebuah goresan di atas cat mobil.

Jaket Kulit untuk Anak Kucing Liar

Selang beberapa minggu kemudian, semesta seolah ingin menunjukkan sisi mata uang yang lain. Di ujung gang dekat pasar, ada seorang preman yang penampilannya saja sudah cukup membuat orang menghindar kalau ketemu. Badannya penuh tato pudar, bicaranya selalu dengan nada tinggi, dan ia sering keluar masuk sel tahanan karena kasus perkelahian. Sebut saja namanya Bang Jaggo.

Suatu malam saat gerimis turun cukup lebat, aku berteduh di emperan sebuah ruko yang sudah tutup. Dari kejauhan, aku melihat sosok Bang Jaggo berjalan menembus hujan. Aku reflekslah menyusut ke sudut gelap, enggan berurusan dengannya.

Tapi apa yang terjadi? Langkahnya terhenti di dekat tong sampah. Ia menunduk cukup lama, lalu perlahan membuka jaket kulitnya yang sudah kusam. Rupanya, ada seekor anak kucing liar yang sedang kedinginan. Dengan sangat hati-hati, sebuah gestur yang sangat kontras dengan perawakannya yang sangar, ia membungkus anak kucing itu dengan jaketnya, mengusap kepalanya pelan, dan membawanya lari mencari tempat yang lebih hangat.

Di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang itu, aku melihat setitik cahaya dari dalam diri seorang yang selama ini dicap sebagai sampah masyarakat.

Potensi Jahat yang Masih Tertidur

Dua kejadian itu memaksaku merenung panjang. Hingga akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan yang mungkin agak gengsi untuk diakui, tapi riil sih, yaitu: sebaik-baiknya orang, selalu ada potensi jahat di dalam dirinya yang belum terstimulasi. Dan sejahat-jahatnya orang, selalu ada setitik kebaikan yang kalau dirawat, akan semakin membesar.

Mungkin nih ya, kita sering kali terlalu bangga menyebut diri kita sebagai "orang baik". Padahal, jangan-jangan kita terlihat baik hanya karena Tuhan belum menempatkan kita pada kondisi yang memicu sifat jahat kita keluar. Kita belum diuji dengan rasa marah yang memuncak, himpitan ekonomi yang mencekik, atau kekuasaan yang tak terbatas. Potensi jahat itu ada, tertidur di sudut hati kita, menunggu tombol pemicunya ditekan.

Sebaliknya, mereka yang kita cap sebagai "orang jahat", sering kali adalah manusia yang kehilangan arah. Mereka bukan iblis. Di dasar hati mereka yang paling berdebu, ada setitik nurani. Entah itu rasa iba pada hewan yang lemah, kasih sayang pada seorang ibu, atau kesetiakawanan. Jika titik kecil itu ditemukan dan dirawat, bukan dihakimi, ia bisa menyala terang dan membakar habis keburukannya.

Merawat Titik Terang

Menyadari hal ini membuatku belajar satu hal penting: berhenti menjadi hakim bagi orang lain.

Ketika melihat orang baik melakukan kesalahan fatal, aku belajar untuk tidak langsung menghapus semua kebaikannya di masa lalu. Dan ketika melihat orang yang dicap buruk, aku mencoba mencari "titik terang" di dalam dirinya, alih-alih hanya fokus pada sisi gelapnya.

Lebih dari itu, ini adalah pengingat untuk diriku sendiri juga. Dan, kita perlu untuk selalu waspada menjaga "monster" di dalam diri kita, ngerti manakala ia mulai terstimulasi, seperti Bruce Banner yang ngerti manakala akan menjadi Hulk. Pembelajaran lainnya adalah kita perlu terus menyirami "titik kebaikan" yang kita miliki agar tidak mati kekeringan.

Karena pada akhirnya, tidak ada manusia yang benar-benar putih bersih atau hitam legam. Kita semua sedang berjalan tertatih-tatih diantaranya.

Bagaimana dengan kamu? Pernahkah kamu merasa sangat kecewa melihat orang baik melakukan hal buruk, atau justru terharu melihat "orang nakal" melakukan kebaikan yang rasanya kok asli ikhlas? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-52 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI