Lagu “Ibu dan Kamu”
Saya sengaja memaknai lagu ini bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk anak saya. Saya ingin suatu hari nanti, ketika ia sudah cukup besar untuk memahami isi lagu ini, ia tahu bagaimana sikap saya atas kehadirannya. Ia tahu bahwa kehadirannya bukan sekadar bagian dari perjalanan hidup yang terjadi begitu saja, tetapi sesuatu yang benar-benar mengubah cara saya memandang rumah, pulang, dan keluarga.
Sebelum ia hadir, hidup kami hanya berdua. Waktu itu Ibu masih kuliah. Hari-hari kami biasa saja: pulang kuliah bersama, makan, bercanda, bercerita, lalu menjalani rutinitas seperti pasangan lain pada umumnya. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa. Hari-hari ya begitu saja. Namun sekarang, ketika diingat kembali, justru hal-hal sederhana itulah yang terasa hangat.
Ada masa ketika pekerjaan membuat saya harus pergi bertugas dan meninggalkan Ibu sendiri di rumah. Dari situ sering muncul obrolan kecil tentang bagaimana kalau suatu hari ada teman kecil di rumah. Mungkin rumah akan lebih ramai, mungkin tidak akan terasa terlalu sepi. Saat itu hanya angan-angan sederhana. Lalu waktu berjalan, Ibu akhirnya menyelesaikan kuliahnya, dan tidak lama kemudian datang kabar bahwa akan ada seseorang yang baru dalam hidup kami.
Ada kamu.
Sejak saat itu, arti pulang mulai berubah. Sebelumnya, ketika saya pulang, hanya ada satu orang yang ingin saya temui: Ibu. Setelah kamu hadir, menjadi dua. Dari situlah bagian utama lagu ini lahir. Bukan sekadar soal siapa yang menunggu di rumah, tetapi tentang bagaimana kehadiran seorang anak bisa menambah alasan seseorang untuk kembali.
Saya masih ingat pertama kali memelukmu. Tubuhmu kecil sekali di tangan ini. Rasanya seperti mimpi. Ada rasa bahagia, ada rasa tidak percaya, dan mungkin juga ada sedikit kebingungan karena sejak saat itu saya benar-benar menjadi seorang bapak. Tidak ada yang tiba-tiba membuat saya langsung tahu bagaimana caranya menjadi orang tua. Semuanya dipelajari sambil berjalan.
Setelah itu datang hal-hal yang sangat biasa dalam kehidupan orang tua. Tangisan di malam hari. Bergantian menggendong. Terbangun ketika sedang lelah. Kadang saya dan kamu tertidur bersama tanpa sengaja. Ibu lalu mengambil foto kita. Mungkin bagi orang lain foto semacam itu tampak biasa saja, tetapi bagi saya justru menjadi bagian dari cerita yang ingin saya simpan.
Saya juga tidak ingin lagu ini memberi kesan bahwa menjadi orang tua selalu indah atau bahwa saya selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tidak begitu. Ada lelah, ada salah, ada hari-hari ketika semuanya terasa tidak mudah. Tetapi di tengah semua itu, saya ingin anak saya tahu satu hal: kehadirannya selalu punya tempat yang besar dalam hidup saya.
Suatu hari nanti ia akan tumbuh besar. Ia akan punya pilihan sendiri, kesibukan sendiri, teman sendiri, dan jalan hidupnya sendiri. Mungkin ketika itu ia sudah tidak lagi mengingat malam-malam ketika saya menggendongnya, atau bagaimana kami pernah tertidur berdua sementara Ibu mengambil foto. Tidak masalah. Saya yang akan mengingatnya.
Yang paling penting, saya ingin ia tahu bahwa jauh sebelum ia mengerti apa itu cinta, ia sudah tumbuh di dalamnya. Bukan cinta yang selalu sempurna, bukan keluarga yang tanpa masalah, tetapi cinta dari dua orang yang menerima kehadirannya dengan bahagia dan belajar menjalani hidup baru bersamanya.
Jadi, “Ibu dan Kamu” pada akhirnya bukan lagu tentang kisah yang luar biasa. Ini hanya lagu sederhana tentang hal yang mungkin dialami banyak orang. Tetapi bagi saya, lagu ini adalah cara untuk meninggalkan pesan kepada anak saya: bahwa kehadirannya mengubah arti pulang, mengubah arti rumah, dan menambah satu alasan lagi untuk selalu kembali.
Dulu ada Ibu. Lalu datang kamu. Dan sejak itu, rumah bagi Bapak adalah Ibu dan kamu.