Dua Serigala di Kepala Kita: Siapa yang Menang Hari Ini?
Kamu mungkin pernah mendengar sebuah kisah klasik dari suku Cherokee tentang seorang kakek yang sedang menasihati cucunya. Sang kakek berkata, "Di dalam diri kita ini, selalu ada pertarungan sengit. Pertarungan antara dua ekor serigala."
Serigala pertama adalah serigala putih. Ia mewakili segala hal baik dalam diri kita: kedamaian, cinta, harapan, kerendahan hati, kebaikan, dan empati.
Serigala kedua adalah serigala hitam. Ia adalah wujud dari sisi gelap kita: kemarahan, rasa iri, kesedihan, keserakahan, ego, kesombongan, dan rasa mengasihani diri sendiri.
Mendengar itu, sang cucu yang penasaran bertanya, "Lalu, serigala mana yang akan menang, Kek?"
Sang kakek tersenyum dan menjawab singkat, "Serigala yang paling sering kamu beri makan."
Medan Perang Itu Bernama Keseharian
Kisah ini mungkin terdengar sederhana, tapi coba kita tarik ke realita hidup yang aku dan kamu jalani setiap hari. Pertarungan kedua serigala ini sebenarnya jarang terjadi dalam bentuk dilema moral yang besar atau dramatis layaknya di film-film. Sebaliknya, medan perangnya justru ada di momen-momen kecil yang sunyi dan remeh dalam keseharian kita.
Setiap pilihan, setiap reaksi, dan setiap pikiran yang kita izinkan menetap di kepala, adalah "makanan" yang kita lemparkan untuk salah satu dari mereka.
Coba ingat-ingat lagi, seberapa sering kita tanpa sadar menyuapi serigala hitam sampai ia tumbuh besar dan menguasai kita?
Saat kamu melihat story Instagram teman yang sedang liburan mewah, lalu muncul bisikan sinis, "Ah, paling dia pakai paylater" atau merasa hidupmu jalan di tempat, di detik itu, kamu sedang memberi makan serigala hitammu (rasa iri dan insecurity).
Saat badan sedang capek sepulang kerja, lalu pasangan atau orang rumah melakukan sedikit kesalahan kecil, dan kamu meresponsnya dengan bentakan dan ego, di situlah serigala hitam (kemarahan) sedang berpesta.
Kebaikan yang Nggak Harus Muluk-Muluk
Sisi baiknya, kita punya kendali penuh atas "makanan" ini. Kita bisa memilih untuk menyuapi si serigala putih, meski terkadang rasanya jauh lebih berat dan butuh kesadaran penuh (mindfulness).
Memberi makan serigala putih bukan berarti kita harus jadi orang suci. Wujudnya bisa sangat sederhana. Misalnya, ketika kamu mendapat pesan yang menyebalkan, alih-alih langsung membalas dengan emosi, kamu memilih untuk menarik napas panjang, meletakkan ponsel sejenak, dan meresponsnya nanti saat sudah tenang. Itu adalah nutrisi untuk serigala putihmu (kesabaran).
Ketika kamu berbuat salah, lalu kamu memilih untuk berdamai, memaafkan dirimu sendiri, dan belajar dari kesalahan itu daripada terus-terusan merutuki kebodohanmu. Itu adalah makanan bergizi untuk serigala putihmu (welas asih pada diri sendiri).
Sisi Gelap yang Memang Akan Selalu Ada
Satu hal yang sering kita lupakan: kita tidak akan pernah bisa membunuh si serigala hitam. Ia akan selalu ada di sana, karena rasa marah, kecewa, dan ego adalah bagian dari paket lengkap menjadi manusia. Fitrahnya memang kita punya dua potensi itu.
Tugas kita bukanlah membunuh sisi gelap itu, melainkan membuatnya kelaparan. Membiarkannya mengecil di sudut pikiran kita karena tidak pernah kita beri ruang dan perhatian untuk tumbuh.
Pada akhirnya, hidup kita ini dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Kalau hari ini hidupmu terasa penuh dengan energi negatif, selalu merasa kurang, dan mudah tersinggung, mungkin ini saatnya untuk berhenti sejenak dan bertanya pada dirimu sendiri:
Sudah berapa banyak makanan yang kuberikan pada serigala hitam hari ini?
