Gantungan Kunci dari Bungkus Jajan: Pelajaran Kecil di Tengah Maraknya Program Lingkungan
Ini bukan program besar yang menyasar satu kota lho, cuma inisiatif seorang guru yang memanfaatkan sampah sebagai media belajar. Tujuannya sederhana, yakni melatih kemandirian, motorik halus, dan memberi ruang untuk anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka merasa bisa berkarya juga. Kecil sih, tapi jelas arahnya, dan pas sasarannya.
Mendengar cerita itu, pikiranku malah melayang ke hal lain yang jauh lebih besar. Praktik sederhana dari kelas kecil ini justru bikin aku mikirin berita-berita soal program-program lingkungan skala raksasa yang sering digembar-gemborkan di luar sana.
Sempat kebayang hal-hal ideal soal gerakan peduli lingkungan yang masif. Tapi ucapan seorang kawanku yang usianya senior tiba-tiba muncul lagi di kepala. Dia pernah ngomong gini:
"Kamu jangan naif begitu lah bro. Orang-orang itu begitu SPJ (Surat Pertanggungjawaban) selesai, tutup buku, ya akan ditinggalkan itu kegiatannya. Biasanya seperti itu."
Ketika "Eco" dan "Green" Cuma Jadi Bahan Laporan
Ucapan temanku itu bukan buat mengecilkan apa yang kami lakukan selaku guru di SLB. Justru sebaliknya, itu kritik buat penyelenggara program-program besar. Fenomena ini sebenarnya bukan cuma soal isu lingkungan. Kita hidup di tengah budaya di mana banyak program, apa pun temanya, kerap digerakkan oleh kebutuhan mengejar akreditasi, serapan anggaran, atau sekadar bahan laporan, bukan oleh masalah yang benar-benar ingin diselesaikan.
Begitu acara selesai, anggaran cair, laporan sudah dijilid rapi, semangat pedulinya ikut menghilang. Tidak ada pembiasaan, tidak ada keberlanjutan. Cuma tutup buku, lalu ditinggalkan. Habis manisnya, sisa sepahnya dibiarkan berserakan.
Bukti Nyata dari Darurat Sampah Jogja
Kalau mau lihat rapuhnya angan-angan dan program itu, tidak perlu cari contoh jauh-jauh. Dulu, Jogja sendiri pernah jadi buktinya.
Waktu TPA (Tempat Pembuangan Akhir) bermasalah dan tidak bisa lagi menerima kiriman sampah, wajah asli pengelolaan lingkungan kita langsung kelihatan. Semua teori bagus, seminar-seminar, jargon "peduli bumi", ambruk begitu saja saat sistem besarnya macet. Yang terjadi? Masyarakat kebingungan, lalu ambil jalan pintas. Sampah numpuk tiba-tiba di jembatan, di bawah pohon pinggir jalan, di lahan-lahan kosong.
Ini nunjukkin satu hal, jika ada program yang dibuat cuma untuk pencitraan, maka tidak akan pernah cukup buat menyelamatkan kita dari krisis lingkungan yang sesungguhnya.
Biar Alam yang Menyeleksi
Dari renungan ini, aku sadar satu hal: gantungan kunci dari bungkus jajan itu mungkin tidak akan mengurangi tumpukan sampah di TPA secara signifikan. Berapa sih yang digunakan untuk bikin keyring ini, dibandingkan dengan jumlah semua sampah yang ber-ton-ton. Hmm, tapi esensi dari kelas kecil itu memang bukan soal tonase, melainkan soal membiasakan hal baik untuk membentuk karakter anak-anak.
Sebaliknya, oknum pelaksana program-program besar dengan anggaran miliaran yang cuma mengejar SPJ, ujung-ujungnya tidak menyumbang apa-apa selain tumpukan kertas laporan, dan publik pun akan mempertanyakan pertanggungjawaban.
Tinggal soal waktu saja. Alam dan waktu yang akan menyeleksi siapa yang benar-benar konsisten menjalankan nilai-nilai baik dalam keseharian, dan siapa yang cuma numpang tenar di isu lingkungan yang sedang ramai dibahas. Inisiatif yang lahir dari niat baik akan jadi kebiasaan, sementara yang lahir dari pencitraan akan hilang ditelan waktu. Ibarat hubungan, yang beneran tulus akan kelihatan, yang cuma modus tinggal nunggu waktu aja ketahuan, hehe. Udah, mau nulis itu aja. Tidak ada pertanyaan reflektif di akhir tulisan ini.
