Berapa Kali Kamu Bilang "Anu" Hari Ini?
Sebab ternyata, kebiasaan ini bisa menimpa siapa saja. Termasuk diriku sendiri.
Bayangkan seseorang yang berdiri di depan kelas, berusaha menjaga fokus pendengarnya, di tengah udara Jogja yang memasak pukul 11 siang. Selama bertahun-tahun mengajar, fokus utamaku bukan tampil memukau dengan teori-teori rumit atau diksi yang spektakuler. Sebaliknya, aku selalu putar otak untuk menyederhanakan materi—mencari analogi paling sederhana dan kosakata paling sehari-hari agar benar-benar mudah masuk ke kepala para murid.
Tapi hari itu, tepat saat otakku sedang 'berlari maraton' memilah kata yang paling merakyat, lidahku mendadak mogok.
Yang seharusnya meluncur adalah kesimpulan yang jernih dan ramah cerna. Yang benar-benar keluar justru ini:
"Jadi anak-anak, kalau seseorang menemui keadaan seperti ini, cara paling gampang menyelesaikannya adalah dengan... anu... pakai itu lho, si anu..."
Dalam semenit, kata "anu" muncul lebih dari lima kali tanpa permisi. Beberapa murid di barisan depan mulai gelisah pengen segera istirahat. Di momen itu, aku benar-benar merasakan buffering parah—seperti komputer jadul yang dipaksa memproses data terlalu berat.
Dan ternyata, "virus" anu ini memang menular ke mana-mana. Coba amati orang-orang di sekitarmu: mulai dari obrolan di ruang guru, bapak-bapak yang bernostalgia di acara kumpul trah, sampai narasumber yang sedang diwawancarai di tipi. Hampir semua orang punya momen blank—dan hampir semua akhirnya berlindung di balik satu kata sakti yang sama: "anu."
Dulu, aku sempat berpikir: jangan-jangan sering bilang "anu" memang tanda kosakata seseorang terbatas, atau pikirannya lambat. Tapi setelah direnungkan—dan setelah aku merasakannya sendiri—ternyata tidak sesederhana itu.
Sering mengucapkan "anu" bukan tanda kebodohan. Kadang, justru sebaliknya: itu sinyal bahwa otak seseorang sedang bekerja keras menerjemahkan ide di kepala menjadi bahasa yang paling mudah diterima lawan bicaranya. Kapasitas memori sedang penuh, sampai koneksi ke pita suara pun ikut mengalami jeda sinkronisasi. Sebuah error yang sangat manusiawi.
Dari pengalaman memalukan di depan kelas itulah aku akhirnya mencoba satu eksperimen kecil: berlatih secara sadar untuk mengurangi kata "anu" dari percakapanku. Caranya? Sederhana saja. Alih-alih refleks melempar "anu" saat otak sedang buffering, aku memilih diam sejenak. Jeda satu-dua detik itu dampaknya ternyata luar biasa—memberi ruang napas sekaligus waktu ekstra untuk menemukan kata yang paling pas, tanpa kalimat yng menggantung tak tentu arah.
Nah, kalau kamu sendiri—pernah nggak, iseng menghitung berapa kali orang bilang "anu" saat sedang ngomong? :)
Salam,
Agus Tri Yuniawan
