Siapa yang Mengombang-ambingkan Pikiran?
Pernah nggak sih, ada hari-hari tertentu di mana kepala rasanya penuh, padahal nggak ada yang "kelihatan" terjadi?
Kadang gara-gara kebanyakan scroll medsos. Kadang gara-gara mikirin tanggal tua sementara tabungan menipis. Kadang gara-gara target kerjaan yang belum juga kelar-kelar. Atau gara-gara masalah keluarga yang muncul lagi, padahal kirain udah selesai.
Beda-beda pemicunya. Tapi rasanya sering mirip.
Bukan cuma capek di badan, tapi capek di "ruang" dalam kepala.
Pikiran jadi lebih gampang muter-muter sendiri. Lebih gampang tersinggung. Susah diam.
Dari situ muncul pertanyaan yang sederhana, tapi entah kenapa nyangkut terus: sumber kegelisahan atau ketenangan itu emang di pikiran, tapi siapa sebenarnya yang mengombang-ambingkannya?
Diri saya sendiri? Proses otomatis di otak yang di luar kendali sadar? Atau ada tangan Tuhan di balik semua ini?
Dulu, saya maunya pilih satu jawaban aja. Biar simpel.
Kadang saya nyalahin diri sendiri, "Ah, ini karena saya nggak cukup kuat ngatur pikiran." Kadang saya anggap ini murni soal kimia otak dan kelelahan neurologis, titik. Di lain waktu, saya berharap ketenangan cuma datang kalau saya makin dekat sama Tuhan — seolah usaha psikologis itu sesuatu yang "kurang rohani".
Tapi makin diamati, makin kelihatan: ketiganya nggak berdiri sendiri-sendiri. Mereka saling memengaruhi. Saling kasih ruang. Kadang malah saling menutupi.
Waktu kegelisahan itu muncul, apapun pemicunya, saya coba amati pelan-pelan, dan nemu tiga lapisan yang jalan bersamaan.
Ada lapisan otomatis. Sistem saraf yang kelebihan beban stimulus, entah dari notifikasi yang nggak berhenti, dari angka-angka di kepala soal keuangan, atau dari tumpukan kerjaan yang belum kelar.
Ada lapisan pikiran, cara saya memaknai kelelahan itu. Apakah saya anggap sebagai kegagalan pribadi, atau sebagai sinyal yang memang perlu didengar.
Dan ada lapisan hati, rasa terputus dari sumber ketenangan yang lebih dalam. Entah karena lupa mengingat Tuhan, entah karena terlalu sibuk mikirin hal-hal yang sebenarnya di luar kendali saya.
Menariknya, ketenangan juga nggak datang dari satu pintu aja.
Kadang ia datang waktu saya berhasil geser cara pandang — melihat situasi dari sudut yang lebih lapang, keluar dari cerita "semua ini harus beres sekarang juga, dan harus saya yang beresin".
Kadang ia datang setelah saya berbagi. Entah ke satu-dua orang yang aman, atau bahkan cuma dengan menuliskannya.
Dan kadang, yang paling bikin saya kaget sendiri: ia datang setelah saya diam-diam berdonasi. Bukan soal jumlahnya besar atau kecil. Tapi ada sesuatu yang bergeser di dada, waktu memberi tanpa ada yang tahu. Seolah hati diingatkan bahwa saya bukan pusat dari segalanya, dan bukan cuma saya sendirian yang sedang berjuang.
Dari situ saya mulai sadar, pendekatan tunggal aja nggak cukup.
Cuma andalin "atur pikiran" terasa kering kalau hati lagi lapar makna. Cuma andalin dzikir dan ibadah tanpa paham pola psikologis diri sendiri, kadang malah bikin saya menyalahkan diri waktu ketenangan belum juga datang. Dan cuma nyalahin "proses otomatis" atau keadaan di luar sana tanpa ada usaha sadar, bikin saya ngerasa nggak berdaya.
Mungkin yang lebih jujur adalah mengakui: pikiran itu medan pertempuran, tapi hati adalah tempat ketenangan menetap.
Dan di antara keduanya, ada tindakan — refleksi, berbagi, memberi — yang jadi jembatan.
Jadi waktu kepala lagi penuh, apapun sebabnya — medsos, uang, kerjaan, keluarga — mungkin yang dibutuhkan bukan cuma rehat sejenak dari sumbernya. Tapi satu tindakan kecil yang mengembalikan hati ke posisinya: sebagai sesuatu yang bisa menerima dan memberi, di waktu yang sama.
Saya sendiri nggak yakin ada satu jawaban yang berlaku buat semua orang.
Mungkin buat sebagian orang, jawabannya lebih condong ke psikologis. Buat yang lain, lebih spiritual. Buat yang lain lagi, lebih ke soal menerima keterbatasan diri sendiri, dan menerima bahwa nggak semua hal ada di tangan kita.
Dan anehnya, saya makin nyaman dengan ketidakpastian ini. Karena justru waktu saya berhenti maksain satu penjelasan tunggal, saya jadi lebih bebas nyoba apa yang benar-benar dibutuhkan saat itu juga.
Jadi mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi "siapa yang mengombang-ambingkan pikiran saya?"
Tapi, "apa yang sedang dibutuhkan hati saya saat ini, dan gimana saya bisa menjawabnya secara utuh — pikiran, tubuh, dan ruh?"
Dan mungkin, jawabannya nggak selalu sama tiap hari.
Kalau kalian, biasanya pikiran paling gampang "penuh" gara-gara apa? Medsos? Kerjaan? Keuangan? Atau yang lain? Yuk cerita di kolom komentar!
Salam,
Agus Tri Yuniawan
