Belajar Tahu Diri Menjelang Ramadan
Sobat, sebentar lagi kita akan menyambut kedatangan tamu agung bernama Ramadan. Biasanya, persiapan kita sangat sibuk di ranah fisik dan jadwal. Mencuci mukena, merencanakan menu sahur, hingga menyusun target ibadah harian. Namun, ada satu persiapan maha penting yang sering kali luput dari kalender kita: mengkondisikan hati agar benar-benar "tahu diri".
Hari ini saya melihat story teman, dan ini jadi pengingat yang sukses menampar ego saya jelang bulan suci ini. Kalimatnya singkat sih: "Tangisan taubat seorang pendosa lebih Allah cinta daripada tasbihnya seorang yang sombong". Pesan ini seolah menjadi alarm darurat bagi kita yang mungkin sedang merasa "paling siap" menyambut Ramadan hanya karena merasa ibadahnya belakangan ini sedang rajin-rajinnya.
Mari kita jujur pada diri sendiri, terutama saya. Sering kali tanpa sadar, kita membawa kesombongan spiritual saat bersiap menyambut bulan puasa. Kita merasa pantas mendapat pahala berlipat ganda. Kita merasa sudah menjadi hamba level atas. Saat melihat teman yang belum menutup aurat atau masih bolong-bolong salatnya, terbersit di hati kita rasa iba yang merendahkan. Di titik itulah, ibadah kita perlu direnungkan ulang.
Ramadan adalah bulan pengampunan dan hidayah. Logikanya sederhana: bagaimana mungkin kita bisa diampuni jika kita merasa tidak punya dosa? Bagaimana mungkin cahaya hidayah bisa masuk jika hati kita sudah penuh sesak dengan kebanggaan atas amal-amal fisik itu?
Inilah rahasia mengapa air mata penyesalan seorang pendosa begitu bernilai di hadapan Sang Pencipta. Saat pendosa itu menangis, egonya hancur lebur. Ia menempatkan dirinya di titik paling bawah, menyadari bahwa ia kotor, rapuh, dan sangat kelaparan akan belas kasih Tuhannya. Di wadah hati yang remuk, kosong, dan "tahu diri" itulah, rahmat Tuhan justru mengalir masuk dengan sempurna. Sebaliknya, seseorang yang bibirnya basah oleh tasbih tapi hatinya merendahkan orang lain, ibadahnya justru menjadi hijab (penghalang) antara dirinya dengan Tuhan. Ia sedang mabuk oleh ilusi kesalehan.
Maka, sebelum hilal Ramadan benar-benar terlihat, mari kita bersihkan rumah hati kita dari perabotan usang bernama kesombongan. Mari kita masuki bulan suci ini, bukan dengan langkah tegap layaknya orang suci yang siap menagih surga, melainkan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk layaknya seorang fakir yang mengemis ampunan.
Sebagai "oleh-oleh" untuk renungan kita hari ini:
Jangan jadikan ibadahmu sebagai alas untuk merasa lebih mulia dari mereka yang sedang bergelimang salah. Di hadapan Tuhan, kita semua pada dasarnya adalah pasien yang sama-sama butuh disembuhkan. Menangislah. Mengakulah bahwa kita masih fakir ilmu dan banyak dosa. Kosongkan gelas egomu. Karena hanya dengan hati yang merendah, hancur, dan sadar diri, Dia akan membukakan pintu hidayah-Nya lebar-lebar untuk menyambutmu di bulan yang suci nanti.
Btw, maaf ya di tulisan ini saya pakai kata ganti "kita". Saya hanya ingin mengajak kalian yang membaca tulisan ini untuk bersama-sama mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Karena kita sama-sama manusia, hamba-Nya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Agus Tri Yuniawan
