Sisi Lain dari Sebuah Story Bahagia
Sobat, pernahkah kamu melihat teman yang story Instagram atau WhatsApp-nya begitu "berisik" dengan pencapaian?
Hari ini dia memamerkan sertifikat pelatihan. Besok dia mengunggah foto liburan di tempat estetik. Lusa dia memperlihatkan tumpukan buku yang sedang dibacanya.
Respons otomatis otak kamu biasanya langsung menghakimi: "Wah, flexing terus nih orang," atau "Hidupnya enak banget ya, jalan-jalan terus."
Tapi, pernahkah kamu berhenti sejenak dan berpikir sebaliknya?
Bagaimana jika deretan story bahagia itu sebenarnya bukanlah teriakan kesombongan, melainkan teriakan bertahan hidup?
Saya punya seorang kawan. Di media sosial, hidupnya tampak penuh warna. Prestasinya berderet, perjalanannya jauh. Namun, saya tahu fakta di baliknya. Di dunia nyata, bahunya sedang memikul beban yang nyaris meremukkan tulang. Masalah keluarga yang tak berujung, tekanan finansial, atau rasa sepi yang menyiksa.
Bagi dia, dan mungkin banyak orang lain di luar sana, satu klik "tombol berbagi" adalah sebuah terapi.
Saat kenyataan kehidupan terasa begitu sumpek dan menyakitkan, mereka butuh satu hal kecil untuk membesarkan hati mereka sendiri.
Mereka mengunggah foto sertifikat itu bukan agar kita memuji, "Wah hebat!". Tidak. Mereka mengunggahnya untuk mengingatkan diri mereka sendiri: "Hei, di tengah kekacauan ini, aku masih berguna lho. Aku masih bisa berprestasi."
Mereka mengunggah foto senja di tempat wisata bukan untuk membuat kita iri. Mereka mengunggahnya sebagai bukti visual bagi jiwa mereka yang lelah: "Lihat, dunia masih indah. Hidupku tidak melulu soal masalah. Masih ada kekuatan untuk terus melangkah."
Itu adalah mekanisme penyeimbang. Itu adalah cara mereka menciptakan "Oase buatan" di tengah gurun masalah yang sedang mereka seberangi.
Maka, jika nanti kamu melihat teman yang rajin memposting sisi-sisi "wah" dari hidupnya, cobalah tahan jempol dan hatimu dari prasangka buruk. Jangan buru-buru melabeli "tukang pamer".
Bisa jadi, itu adalah cara dia merawat kewarasannya. Bisa jadi, dia sedang berusaha sekuat tenaga meyakinkan dirinya sendiri bahwa di balik badai yang sedang ia hadapi, hidup ini masih layak untuk diperjuangkan.
Kita tidak pernah tahu seberapa berat perang yang sedang mereka hadapi, jadi biarkanlah mereka merayakan kemenangan-kemenangan kecilnya di panggung maya itu.
Teruntuk teman-temanku. Semoga tahun ini, bebanmu terangkat satu persatu. Mentari menyambut, dan harapan-harapanmu terwujud.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Agus Tri Yuniawan
