Sang Nakhoda dan Angin yang Tak Bisa Dikendalikan
Aku duduk berhadapan dengan seorang teman. Wajahnya tampak lelah. Dari sorot matanya, aku bisa melihat jejak rentetan ujian hidup yang seolah tak pernah memberinya jeda untuk sekadar menarik napas panjang.
Di tengah sayup-sayup suara kendaraan yang berlalu-lalang, ia tiba-tiba menatapku. Dengan suara pelan namun sarat kegetiran, ia bertanya:
"Pak, kalau saya pernah difitnah oleh orang, kemudian saya sampai saat ini tidak memaafkan, gapapa kan?"
Pertanyaan itu mengudara, lalu jatuh menjadi keheningan yang lumayan panjang di antara kami.
Aku tidak langsung menjawab. Kutatap perlahan gelas minuman di atas meja. Di kepalaku sebenarnya ada banyak sekali deretan teori moral dan nasihat bijak yang bisa saja langsung kulontarkan. Tapi aku memilih menahan lidah.
Aku tahu persis siapa yang sedang duduk di hadapanku. Ia sudah terlalu lelah dihantam berbagai masalah. Menceramahinya dengan kalimat panjang lebar tentang kebaikan justru akan terdengar seperti omong kosong belaka.
Maka setelah hening sejenak, aku menatap matanya kembali dan menjawab singkat,
"Iya, tidak apa-apa."
Jawaban itu meluncur begitu saja. Tapi obrolan singkat itu ternyata terus membekas, dan membawaku pada perenungan baru: tentang bagaimana kita, sebagai manusia, memegang kemudi atas diri kita sendiri di tengah badai.
Kemudi dan Angin yang Tak Tertebak
Bayangkan kita adalah seorang nakhoda yang berdiri di balik kemudi kapal, mengarungi lautan lepas.
Di kedua tangan kita tergenggam erat kemudi kapal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Kemudi itu adalah representasi dari pikiran dan perasaan kita sendiri. Kitalah yang berkuasa penuh menentukan ke arah mana kapal ini akan berlayar.
Tapi sebagai nakhoda, kita juga tahu: di atas lautan sana ada hembusan angin dan perubahan cuaca yang bergerak liar, di luar batas kendali kita. Angin ini adalah situasi eksternal, perlakuan buruk orang lain, fitnah yang menyayat hati, atau waktu yang berjalan hingga akhirnya membawa karma kepada mereka yang pernah menyakiti kita.
Ketika angin tiba-tiba berembus mendukung, ada kalanya alam semesta seolah menciptakan situasi yang pas untuk memaafkan. Di momen itulah pergolakan batin terjadi, konflik melawan diri sendiri, saat kita harus memutuskan ke mana kemudi akan diarahkan.
Sebuah Pilihan yang Sah
Sang nakhoda akhirnya dihadapkan pada persimpangan.
Ia bisa saja memilih tetap menahan kemudinya kuat-kuat, menggenggam pemikiran lama untuk tidak memaafkan. Pilihan ini sah-sah saja. Kita tidak bisa menghakimi, luka akibat badai yang telah ia lewati tentu sangat membekas dan tidak mudah dihilangkan begitu saja.
Tapi jika sang nakhoda memilih melonggarkan genggamannya dan memutuskan memaafkan, itu pun sama sahnya. Memilih memaafkan sejatinya adalah langkah membuka peluang perbaikan, terutama bagi diri nakhoda itu sendiri.
Menyelamatkan Kewarasan Sendiri
Aku sengaja tidak ingin melabeli situasi turunnya keikhlasan ini sebagai sebuah "hidayah". Sebutan itu rasanya terlalu religius, dan aku juga enggan memakai ungkapan-ungkapan klise tentang moralitas yang sering kali sudah terlalu umum didengar orang.
Bagiku, memaafkan atau tetap memendam marah adalah urusan yang sangat pribadi.
Hanya saja, barangkali ketika badai fitnah itu sudah berlalu cukup lama, dan orang yang menyakiti kita mungkin sudah menerima balasan atas perbuatannya sendiri, maka memilih memaafkan adalah sebuah pelepasan. Sang nakhoda akan merasa dadanya jauh lebih lapang.
Pada akhirnya, keputusan memaafkan bukan soal membenarkan kesalahan orang lain. Ia adalah pilihan pragmatis yang berkorelasi positif bagi kesehatan fisik dan mental kita sendiri.
Kita memang tidak bisa mengatur ke mana angin akan berembus. Tapi kita selalu punya hak prerogatif untuk memilih kapan harus berdamai dengan cuaca, demi kewarasan dan kedamaian kapal kita sendiri.
Kalau kamu jadi nakhoda dalam cerita ini, kemudi kamu sedang mengarah ke mana sekarang?
Salam,
Agus Tri Yuniawan
