Punggung-punggung yang Mengajariku Berdoa
Pemandangan ini sebenarnya sudah ratusan kali kulihat. Namun siang itu, ada perasaan ganjil yang tiba-tiba menyusup ke kepalaku: aku merasa bosan.
Entah kenapa, gerakan mengangkat tangan dan membaca rentetan permohonan pribadi terasa begitu mekanis. Kepalaku terasa kosong saat hendak menyusun daftar permintaan yang itu-itu lagi, soal kelancaran kerjaan, kesehatan badan, atau rezeki harian. Rasanya seperti menyodorkan daftar belanjaan yang sama berulang-ulang tanpa rasa. Tanganku sempat terangkat beberapa senti, lalu perlahan kuletuskan kembali ke atas paha. Aku terdiam memandangi lantai, merasa bersalah sekaligus jenuh dengan caraku sendiri menghadapi waktu setelah salat.
Punggung yang Menyimpan Banyak Cerita
Karena memilih tidak mengangkat tangan, pandanganku akhirnya mengembara memperhatikan punggung jemaah lain di sekitarku. Di barisan depanku, ada seorang bapak paruh baya mengenakan kemeja yang warnanya sudah agak kusam. Telapak tangannya terangkat tinggi dan gemetar tipis, sementara kepalanya tertunduk sangat dalam.
Tak jauh dari pilar tengah, seorang pemuda memejamkan mata rapat-rapat. Bibirnya komat-kamit begitu cepat, menyiratkan desakan yang sangat mendesak di dalam dadanya. Pundaknya turun, tampak seperti orang yang baru saja menghabiskan sisa tenaganya di jalanan kota.
Melihat mereka, rasa bosanku tadi mendadak lenyap, berganti dengan rasa penasaran yang membumi. Bapak itu mungkin sedang memikirkan biaya sekolah anaknya yang jatuh tempo minggu depan. Pemuda di dekat tiang itu mungkin baru saja ditolak dalam wawancara kerja, atau sedang bingung mencari jalan keluar atas masalah keluarga yang tak bisa ia ceritakan ke siapa pun. Di ruangan ini, puluhan orang sedang menyodorkan kecemasan hidupnya masing-masing ke langit.
Membalik Arah Permintaan
Di detik itulah terbersit sebuah ide sederhana. Alih-alih sibuk merangkai doa untuk kepentinganku sendiri, aku memutuskan untuk menjadi penonton yang mengaminkan mereka.
Pandanganku beralih ke bapak berkemeja kusam tadi. Di dalam hati, aku berbisik pelan, "Ya Allah, apa pun yang sedang diminta bapak itu dengan sungguh-sungguh, tolong kabulkanlah."
Lalu mataku bergeser ke pemuda di dekat pilar yang masih khusyuk komat-kamit. "Ya Allah, angkatlah beban berat yang lagi dipikul anak muda itu, permudah urusannya hari ini."
Satu per satu orang yang tampak bersungguh-sungguh di saf depan kudoakan secara bergantian. Dan anehnya, ada sensasi berbeda yang langsung menjalari rongga dadaku. Rasanya sangat plong dan lapang. Tidak ada tuntutan, tidak ada kecemasan apakah permintaanku bakal lekas terwujud atau tidak, dan tidak ada beban ambisi pribadi yang menekan pikiran.
Lega karena Melupakan Diri Sendiri
Kamu dan aku sering kali merasa lelah dalam menjalani rutinitas harian, bahkan saat beribadah, karena isi kepala kita terlalu penuh disesaki oleh urusan diri sendiri. Kita begitu sibuk menghitung kekurangan hidup kita, memikirkan target yang belum tercapai, dan merisaukan masa depan yang belum tentu terjadi. Fokus yang melulu terkunci pada diri sendiri itulah yang kerap membuat hati kita terasa sempit dan pengap.
Menitipkan harapan bagi orang asing yang bahkan tidak mengenal nama kita ternyata bekerja seperti tombol penyegar di kepala. Ego kita mendadak mencair. Membayangkan orang-orang di depanku tadi pulang ke rumah dengan masalah yang selesai dan wajah yang berseri-seri, entah bagaimana caranya, justru ikut menularkan ketenangan ke dalam hatiku sendiri.
Terkadang, jalan keluar dari rasa jenuh itu bukan dengan meminta lebih banyak untuk diri kita, melainkan dengan meminjamkan doa kita untuk orang lain yang sedang tertatih-tatih di sebelah kita.
Pernahkah kamu mencoba mendoakan orang asing yang kebetulan kamu lihat di jalan atau di tempat umum tanpa sepengetahuan mereka? Sensasi apa yang kamu rasakan waktu itu? Ceritakan di kolom komentar, ya.
