Orang yang Menyebalkan Itu Juga Punya Catatan Kebaikan

Hampir semua kita punya satu atau dua nama di daftar orang yang membuat kita menghela napas panjang. Mungkin ia suka menyela, mulutnya tajam, gemar pamer, selalu terlambat, atau punya kebiasaan yang membuat hari kita terasa lebih berat. Kita sudah mencoba maklum, tapi ada sifat tertentu yang rasanya tidak sanggup kita toleransi.

Kalau dipikir-pikir, ini wajar. Tiap orang punya batas toleransinya sendiri. Sifat yang bagi orang lain dianggap biasa saja, bagi kita bisa terasa mengganggu sekali.

Setiap Orang Membawa Dua Sisi

Manusia itu campuran. Ada sisi baik, ada sisi buruk. Masalahnya, sisi buruk yang tidak bisa kita toleransi punya kekuatan yang aneh: ia bisa menutupi semua yang lain. Satu sifat yang mengganggu cukup untuk membuat kita lupa pada sepuluh kebaikan orang itu, kalaupun kebaikan itu pernah kita lihat.

Dan aku harus jujur pada diri sendiri. Hampir pasti aku juga menjadi salah satu nama di daftar seseorang. Ada sifatku yang membuat orang lain menghela napas, tanpa pernah kuketahui.

Masuk Surga dengan Kebaikan Masing-Masing

Menurut keyakinanku, kelak manusia akan masuk surga dengan sisi baik yang mereka miliki masing-masing. Dan semuanya karena kasih sayang Allah. Aku teringat pesan yang pernah kudengar, bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga semata-mata karena amalnya. Semuanya karena rahmat Allah.

Kalau begitu, orang yang paling menyebalkan di mata kita pun punya catatannya sendiri. Mungkin ada sedekah yang ia berikan diam-diam. Doa yang ia panjatkan untuk orang tuanya. Kesabaran merawat keluarga yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Kita hanya melihat sebagian kecil halamannya, dan itu pun dari sudut yang paling mengganggu kita.

Tiap orang akan memperoleh catatannya sendiri-sendiri. Catatan itu tidak ditimbang dengan selera kita.

Kalau Tidak Kuat, Beri Jarak

Lalu bagaimana bersikap selama masih di dunia ini? Menurutku sederhana. Kalau ada sesuatu pada orang lain yang tidak kita sukai, biarkan saja selama kita bisa. Tidak semua hal perlu ditegur, dan tidak semua orang perlu diubah.

Kalau ternyata tidak kuat, beri jarak. Jarak itu bukan permusuhan. Ia bisa berupa mengurangi intensitas bertemu, tidak membalas semua pesan, atau pamit lebih awal dari obrolan yang mulai melelahkan. Tujuannya menjaga hati dan pikiran kita sendiri supaya tidak ikut kusut oleh jengkel yang dipelihara.

Catatan penting, yang kumaksud di sini adalah sifat yang menyebalkan. Kalau sudah menyangkut kezaliman, kekerasan, atau hal yang membahayakan, melindungi diri dan menghentikannya tetap perlu dilakukan.

Tetap Adil dalam Pikiran

Jarak itu urusan langkah kaki. Pikiran punya aturan lain: tetap adil.

Artinya, meski menjauh, aku tidak perlu menyimpulkan bahwa orang itu buruk seluruhnya. Aku tidak perlu menyimpan daftar kesalahannya sebagai bahan cerita. Aku bisa memberi ruang dalam pikiran bahwa ia pun punya sisi baik yang tidak kulihat, dan yakin bahwa ia akan mendapatkan keadilan dari kehidupan, termasuk apresiasi atas kebaikan yang ia lakukan. Semoga kebaikan itulah yang kelak mengantarkannya ke surga, dengan kasih sayang Allah.

Ada rasa lega di sini. Menimbang catatan manusia bukan tugasku. Aku boleh tidak cocok, boleh menjauh, tapi tidak perlu menjadi hakim.

Catatan Kita Sendiri

Pada akhirnya, aku ingin diperlakukan dengan cara yang sama. Ketika orang lain jengkel pada sisi burukku, aku berharap mereka memilih memberi jarak dengan baik, tidak menghukumku dalam pikiran, dan masih ingat bahwa aku pun punya kebaikan yang kujalani diam-diam.

Maka mungkin cara paling adil menyikapi orang yang menyebalkan adalah memperlakukannya seperti yang kita harapkan dari orang lain: tidak harus akrab, tidak perlu disukai, tapi tetap dihormati sebagai manusia yang punya catatannya sendiri.

Siapa satu orang yang paling sulit kamu toleransi? Kalau kamu coba mencari, kebaikan apa dari dia yang diam-diam pernah kamu lihat? Ceritakan di kolom komentar, ya.