Mengingat Fase Labay Masa Lalu
Malam tadi, sambil menunggu rasa kantuk datang, aku membuka laptop dan membaca beberapa tulisan blog. Salah satu artikel yang kuklik berisi curahan hati seseorang tentang pengalamannya menghadapi kegagalan dan kekecewaan terhadap temannya. Gaya bahasanya sangat meledak-ledak, penuh kata-kata puitis yang mendramatisir keadaan, dan kesimpulannya terasa sangat mendasar. Kalau pakai istilah anak sekarang, tulisannya terasa agak lebay.
Jika aku membaca tulisan semacam itu beberapa tahun yang lalu, reaksiku pasti sudah bisa ditebak. Keningku akan berkerut, bibirku tersenyum miring, lalu di dalam hati aku akan bergumam sinis, "Ah, cuma seperti ini isinya. Aku sudah pernah melewati fase ini dari dulu."
Dulu, ada semacam kebanggaan semu di dalam dada ketika aku merasa sudah lebih dulu menamatkan sebuah ujian hidup dibandingkan orang lain. Saat melihat orang lain baru menyadari sebuah prinsip hidup yang bagiku sudah biasa, aku gampang sekali meremehkannya. Aku lupa bahwa sebelum sampai di titik paham, aku juga pernah merangkak di titik kebingungan yang sama.
Bercermin Lewat Kalimat Orang Lain
Anehnya, malam tadi tidak ada lagi cibiran yang muncul di kepalaku saat membaca kalimat-kalimat hiperbolis itu. Aku membacanya sampai titik terakhir, lalu bersandar di kursi sambil tersenyum geli.
Ada cara pandang baru yang pelan-pelan tumbuh di kepalaku belakangan ini. Ketika membaca sesuatu yang sudah pernah kulewati, atau melihat luapan ekspresi yang kuanggap berlebihan, hatiku langsung berbisik hangat, "Ah, dia sedang bertumbuh. Aku pernah berada di fase itu dulu, dan kalau diingat-ingat lagi, lucu juga ya."
Tulisan orang itu mendadak berubah menjadi cermin waktu. Lewat paragraf-paragrafnya yang masih meledak-ledak, aku seperti sedang mengintip isi kepalaku sendiri di masa lalu. Aku jadi ingat betapa seriusnya aku dulu saat menghadapi masalah serupa. Dulu, hal-hal kecil terasa seperti kiamat, dan ketika berhasil melewatinya sedikit saja, rasanya aku sudah menjadi manusia paling bijak sedunia.
Melihat orang lain menuliskan fase itu hari ini membuatku menertawakan diriku yang dulu dengan perasaan yang sangat lega.
Roda Pertumbuhan yang Berjalan Alami
Kamu dan aku hidup di dunia dengan garis waktu yang berbeda-beda. Pertumbuhan cara berpikir manusia itu berjalan sangat alami, persis seperti pohon yang butuh waktu untuk berakar sebelum akhirnya berbuah.
Bayangkan seorang anak kecil yang baru saja berhasil mengayuh sepeda roda dua tanpa bantuan orang tuanya. Dia pasti akan berteriak kegirangan dan memamerkannya ke seluruh penghuni rumah seolah baru saja menaklukkan dunia. Bagi kita yang sudah setiap hari mengendarai motor atau mobil menembus kemacetan, pencapaian anak itu tentu terlihat sangat sepele. Namun, apakah pantas kita mencibir anak tersebut dan menyuruhnya berhenti bergembira? Tentu saja tidak.
Begitu pula dengan perjalanan hati dan pikiran manusia. Apa yang menurut kita hari ini adalah hal biasa dan klise, boleh jadi merupakan temuan besar yang sangat berharga bagi orang lain yang baru saja sampai di titik tersebut.
Tidak Semua Kepala Harus Sama
Berhenti meremehkan fase tumbuh orang lain ternyata membuat hati terasa jauh lebih lapang. Kita tidak lagi menuntut semua orang di sekitar kita untuk memiliki isi kepala, kedewasaan, dan sudut pandang yang seragam dengan kita detik ini juga.
Biarkan saja orang-orang menulis dengan gaya yang mungkin terlihat berlebihan di mata kita. Biarkan mereka merayakan pemahaman-pemahaman baru yang sebenarnya sudah lama kita ketahui. Itu tandanya mereka sedang bergerak maju dan berproses mencerna kehidupannya sendiri.
Saat kita mampu tersenyum ramah melihat orang lain melewati jalan yang pernah kita lalui, di situlah tanda bahwa kita sendiri sedang ikut bertumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Pernahkah kamu membaca kembali status media sosial atau tulisan lamamu sendiri dari beberapa tahun silam, lalu kamu senyum-senyum sendiri melihat betapa dramatisnya pola pikirmu waktu itu? Ceritakan kenangan lucumu di kolom komentar, ya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Agus Tri Yuniawan
