Hujan Bisa Memadamkan Api, tapi Tidak Memperbaiki Cara Kita Memperlakukan Alam
Saat air akhirnya tumpah dari langit dan membasahi bumi yang kering, semua orang pasti menghela napas lega. Api perlahan mereda dan kepulan asap mulai menipis. Aku sangat memahami kelegaan itu.
Tapi tepat setelah rasa lega itu lewat, ada satu pertanyaan yang mengganjal di kepalaku. Setelah hujan benar-benar mengguyur lahan yang terbakar, apakah persoalannya otomatis ikut selesai?
Dari Sekolah Tutup sampai Satwa Kehilangan Rumah
Beberapa hari terakhir, aku menyimak banyak sekali laporan tentang kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Mulai dari kabut asap yang memaksa sekolah kembali ditutup, petugas yang jatuh bangun memadamkan bara di bawah tanah gambut, warga yang menuntut hak hidup sehat ke pengadilan, sampai satwa liar yang kehilangan rumahnya.
Makin banyak laporan yang kubaca, makin sulit rasanya menganggap kejadian ini sebagai bencana musiman yang lumrah.
Memang benar, kemarau panjang dan cuaca panas membuat lahan jauh lebih gampang terbakar. Iklim punya peran yang sangat besar. Tapi kondisi alam bukan satu-satunya penentu seberapa parah kebakaran terjadi. Cara manusia mengelola lahan, menjaga cadangan air di rawa gambut, membuka kawasan perkebunan, dan mengawasi kegiatan di atasnya ikut menentukan besarnya risiko bencana.
Perhatian yang Menguap Bersama Asap
Kabar baiknya, langkah pencegahan itu bukan hal yang mustahil. Di sejumlah daerah, warga sudah mulai diperkenalkan dengan cara bertani tanpa membakar lahan. Ada pula ikhtiar menjaga kelembapan gambut lewat pengaturan tata air, termasuk membangun sekat kanal agar air tidak langsung terkuras habis.
Tentu pekerjaan semacam itu butuh pendampingan rutin, biaya besar, dan kesabaran jangka panjang. Tidak ada cara instan untuk memulihkan bentang alam yang sudah berubah selama puluhan tahun.
Dan barangkali di titik inilah tantangan terbesar kita.
Kamu dan aku sering baru memberi perhatian besar saat api sudah berkobar tinggi. Ketika foto kebakaran tersebar dan berita jadi ramai, rasa khawatir muncul di mana-mana. Tapi begitu hujan turun dan langit kembali biru bersih, perhatian itu pelan-pelan menguap. Orang-orang kembali bekerja, anak-anak kembali ke sekolah, dan hidup berjalan seperti sedia kala. Kita seolah menutup buku, lalu diam-diam menunggu musim kemarau berikutnya datang membawa masalah yang sama.
Jangan Terlalu Cepat Melupakan
Aku sama sekali tidak menganggap pemerintah, masyarakat, atau para petugas di lapangan berdiam diri. Banyak sekali orang yang sudah bekerja keras memeras keringat, terutama mereka yang setiap hari berada di garis depan pemadaman api.
Yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana kerja keras itu bisa melahirkan perubahan yang bertahan lama. Pencegahan semestinya jadi pekerjaan rutin sepanjang tahun. Pengelolaan lahan butuh pengawasan ketat, dan masyarakat kecil perlu didukung dengan pilihan mata pencaharian yang layak. Selain itu, ketika terjadi pelanggaran aturan, penegakan hukum harus berjalan tegas sebagaimana mestinya.
Sementara bagi kita yang tinggal jauh dari Kalimantan, ada satu hal sederhana yang bisa dijaga: jangan terlalu cepat melupakan. Kita mungkin tidak pernah melihat langsung hutan yang hangus atau merasakan langit tertutup asap pekat berminggu-minggu. Tapi semua kepedihan itu terjadi di negeri yang sama dengan tempat kita berpijak hari ini.
Harapan yang Tidak Boleh Digantungkan ke Langit
Oke, pembahasan tulisan ini masih di Kalimantan, meski ada titik lainnya di bumi Indonesia ini yang mengalami hal serupa. Tapi aku membayangkan suatu hari nanti, anak-anak di Kalimantan bisa berangkat sekolah sepanjang musim kemarau dengan tenang tanpa mencemaskan udara yang mereka hirup. Para petani bisa mengolah lahannya dengan aman, warga tidak perlu lagi memperjuangkan hak bernapas lewat ruang sidang, dan hutan punya waktu cukup untuk pulih kembali.
Entah butuh berapa lama untuk sampai ke titik itu. Yang jelas, kita tidak bisa terus menggantungkan harapan pada datangnya hujan. Sebab hujan memang bisa membantu memadamkan api di atas tanah, tapi memperbaiki cara kita memperlakukan alam sepenuhnya adalah pekerjaan manusia.
Menurutmu, langkah kecil apa yang bisa kita lakukan agar urusan lingkungan seperti ini tidak cuma ramai dibicarakan saat bencananya sedang viral? Bagikan pandanganmu di kolom komentar, ya.
