Digarap Karo Nggrundel: Cara Waras Menghadapi Kerjaan Dadakan
Di layar laptopnya terpampang deretan data siswa yang mendadak harus direkap ulang. Kabarnya ada perubahan format dari pusat, dan dokumen itu wajib dikumpulkan sore ini juga.
Melihat tumpukan angka yang harus dipindah satu per satu, wajah kawanku langsung berkerut dalam. Ia menarik napas panjang, lalu mulutnya mulai merapal rentetan omelan.
"Jan, gawean kok yo ra ono enteke. Wingi jarene wis beres, saiki dikongkon baleni meneh. Ndhas e mumet kepyur rasane," rutuknya kesal. (Wah, kerjaan kok ya nggak ada habisnya. Kemarin katanya sudah beres, sekarang disuruh ngulang lagi. Kepala pusing rasanya).
Aku cuma bisa tersenyum kecil menahan tawa dari kursiku. Mulut kawanku sibuk melempar protes panjang lebar soal ribetnya birokrasi pendidikan kita. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku siang itu. Walaupun bibirnya terus menggerutu, jari-jarinya tetap lincah menari di atas keyboard. Matanya tak lepas dari layar, dan berlembar-lembar berkas laporan itu perlahan mulai tertata rapi.
Ikhlas Sempurna Cuma Enak di Buku Motivasi
Pemandangan di meja kerjanya itu cerminan paling jujur dari kehidupan kita. Ada satu istilah Jawa yang pas banget untuk situasi ini: digarap karo nggrundel. Artinya, tugasnya tetap diselesaikan meskipun diselingi omelan.
Selama ini kita sering dijejali nasihat motivasi yang menuntut kesempurnaan sikap. Kita disuruh selalu ikhlas, pantang mengeluh, bekerja harus pakai senyum, dan menerima semua beban dengan dada lapang. Konsep itu memang terdengar indah di buku-buku pengembangan diri.
Kenyataannya, sebagai manusia biasa, hati kita pasti berontak saat dihadapkan pada tugas yang memberatkan atau aturan yang berubah seenaknya. Di titik inilah nggrundel alias mengomel mengambil peran penting. Menggerutu pelan berfungsi sebagai katup pengaman bagi kewarasan kita. Itu cara paling instan untuk melepaskan stres dan emosi negatif supaya dada tidak meledak sungguhan.
Mulut Protes, Tangan Tetap Bekerja
Orang yang suka mengeluh acap kali dicap pemalas atau tidak profesional. Padahal di lapangan, orang yang mulutnya paling berisik komplain justru sering menjadi sosok yang paling bertanggung jawab menuntaskan pekerjaan.
Kawanku ini tahu persis bahwa tugas itu kewajibannya. Ia sadar kalau pekerjaan ditinggal, dampaknya akan merepotkan banyak orang. Akhirnya ia memilih jalan tengah yang paling realistis. Mulutnya boleh protes, misuh-misuh pelan menyalahkan keadaan, tapi tangannya tetap bergerak menyelesaikan tanggung jawab sampai titik terakhir.
Tanggung jawab ternyata tidak harus selalu dibungkus senyum manis dan keikhlasan tingkat tinggi. Kadang ia hadir lewat omelan tertahan dan wajah kusut masai, ditemani segelas kopi yang sudah terlanjur dingin. Yang paling utama pada akhirnya bukan seberapa lebar senyum kita saat bekerja, melainkan seberapa tuntas pekerjaan itu diselesaikan.
Kapan terakhir kali kamu melihat rekan kerjamu mengomel panjang lebar tapi tugasnya justru selesai dengan sempurna? Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya.
