Doa Sebenarnya Ada di Rasa

Kemarin aku ikut menjenguk seorang teman yang sedang sakit. Seperti kebiasaan kita saat menjenguk, menjelang pulang dibacakanlah doa bersama-sama. Dan kali ini, aku yang diminta memimpin.

Permintaan itu datang dari barisan para ibu yang ikut hadir. Sebelum mulai, aku spontan berkata, "Sebenarnya, ketika kita sudah sampai di sini dan bertemu bareng-bareng dengan teman yang sakit ini, itu sudah merupakan bentuk doa."

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa kurencanakan.

Antara Mengatakan dan Menuruti

Tapi aku melihat wajah para ibu. Mereka ingin doa itu dibacakan, dan aku tidak ingin mengecewakan mereka. Permintaan itu sendiri terasa hangat. Mereka ingin menitipkan harapan untuk kesembuhan temanku dengan cara yang mereka kenal dan yakini. Jadi kami tetap membaca doa bersama-sama, sebagaimana teks doa yang biasa dibaca umat Muslim.

Aku tidak menyesal. Doa yang diucapkan itu indah, ada tuntunannya, dan menyatukan hati orang-orang yang hadir dalam satu harapan. Kalimat spontanku tadi tidak bermaksud menolak doa lisan. Aku hanya sedang mengingatkan diriku sendiri tentang sesuatu yang sering terlewat.

Kata Menegaskan, Rasa yang Berdoa

Menurutku, ucapan itu menegaskan doa. Doa yang sesungguhnya ada di dalam hati, pada rasa yang kita bawa.

Coba pikirkan perjalanan menuju tempat temanku dirawat itu. Ada waktu yang disisihkan, ada langkah yang diniatkan, ada rasa khawatir, dan ada harapan agar dia lekas pulih. Semua itu sudah terjadi bahkan sebelum satu kalimat doa pun terucap. Rasa itulah yang berdoa lebih dulu.

Lisan itu seperti tanda tangan di ujung surat. Ia menegaskan, melengkapi, dan memberi bentuk. Tapi isi suratnya ada pada apa yang kita rasakan. Tanda tangan tanpa isi surat tidak berarti apa-apa.

Doa Kakek dan Nenek Kita

Aku lalu teringat kakek dan nenek kita dahulu. Sebagian besar dari mereka tidak banyak menghafal teks doa resmi. Banyak yang bahkan tidak punya hafalan doa khusus supaya sehat. Tapi yang kuamati, hati mereka welas dan asih. Mereka senang menyapa tetangga, menengok yang sakit, berbagi makanan, dan tidak lama menyimpan marah. Dan sejauh yang kuingat, kebanyakan dari mereka sehat, secara fisik maupun jiwanya.

Aku tidak sedang mengatakan welas asih bisa menggantikan dokter dan obat. Berobat dan berikhtiar tetap bagian dari jalan. Tapi aku sering bertanya-tanya, jangan-jangan hati yang lembut dan penuh sayang itu ikut menjaga mereka. Mungkin cara hidup mereka sendiri adalah doa yang dijalani setiap hari, tanpa perlu diucapkan dengan kalimat panjang.

Membawa Rasa ke Mana-Mana

Kalau doa sebenarnya ada di rasa, berarti doa tidak harus menunggu di ujung acara. Ia bisa hadir saat kita menengok teman yang sakit, menyapa orang yang sedang kesepian, meluangkan waktu untuk mendengarkan, atau menahan kata yang bisa menyakiti.

Dan saat membaca doa yang sudah kita hafal, mungkin kita bisa mencoba hal sederhana: hadirkan rasanya. Bayangkan wajah orang yang kita doakan, rasakan harapannya, lalu biarkan kata-kata itu mengalir bersama rasa tersebut. Kata yang diucapkan bersama rasa terasa berbeda dengan kata yang cuma lewat di lidah.

Mungkin yang paling dirasakan orang sakit adalah kehadiran kita: waktu yang disisihkan, wajah yang datang, dan rasa yang kita bawa. Maka kunjungan kemarin, dengan segala kesederhanaannya, mungkin sudah menjadi doa yang paling utuh. Kata-kata di ujungnya hanya menegaskan.

Kapan terakhir kali kamu berdoa tanpa kata-kata, hanya dengan rasa? Atau pernah merasakan kehadiran seseorang yang terasa seperti doa untukmu? Ceritakan di kolom komentar, ya.

Salam,
Agus Tri Yuniawan