Setelah Kursi Itu Ditinggalkan
Mungkin ada yang menganggapnya biasa saja. Namanya juga orang berkuasa, begitulah gayanya. Tapi bagi sebagian orang lain, terutama yang perasaannya mudah tersentuh, satu kalimat ketus bisa dibawa pulang dan dipikirkan semalaman. Daya tahan tiap orang memang berbeda. Yang sama cuma satu: hampir tidak ada yang benar-benar lupa.
Drama yang Akhirnya Bubar
Coba tarik garis waktunya lebih panjang. Sebesar apa pun drama yang ramai hari ini, ia akan berlalu. Orang-orang kembali ke kehidupan masing-masing, sibuk dengan keuangan, urusan anak, pekerjaan, dan upaya mencari bahagianya sendiri. Unggahan yang tadi diperdebatkan tenggelam di linimasa, dan rapat yang tadi tegang tinggal jadi cerita yang jarang disebut lagi.
Tapi ada satu hal yang sering tidak ikut bubar, yaitu rasa yang tertinggal pada orang yang pernah disenggol. Ia tidak selalu diucapkan. Kadang cuma disimpan rapi di sudut ingatan.
Ketika Kuasa Ditanggalkan
Jabatan selalu punya masa berlaku. Ada pensiun, rotasi, pergantian periode, atau kontrak yang berakhir. Pada saatnya, kursi itu ditinggalkan, dan orang yang dulu duduk di sana kembali menjadi orang biasa.
Bayangkan ia berjalan ke warung kopi tanpa seragam dan tanpa orang yang menunggu perintahnya. Di meja sebelah, ada seseorang yang dulu pernah ia remehkan. Dulu orang itu tidak punya pilihan selain menelan kata-katanya. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk menahan diri. Sebagian mungkin sudah memaafkan dan lupa. Tapi sebagian lain masih memelihara jengkelnya, dan bisa saja berubah jadi musuh, atau minimal jadi orang yang tidak menyapa ketika ia sedang butuh pertolongan.
Saat kuasa sudah tidak ada, yang tersisa adalah hubungan. Dan hubungan itu dibangun dari cara kita memperlakukan orang justru ketika kita sedang berada di atas.
Kuasa Kecil yang Kita Pegang
Semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa ini bukan cuma soal pejabat atau orang besar. Hampir semua kita memegang kuasa kecil di suatu tempat. Guru di depan murid. Kepala sekolah di depan guru dan karyawan. Orang tua di depan anak. Admin di grup WhatsApp. Senior di depan yang baru masuk. Tidak ada yang menyorot, tidak ada yang menegur, dan di situlah ujian sebenarnya.
Pertanyaannya sederhana: ketika orang lain tidak punya pilihan selain diam, bagaimana aku memilih bersikap?
Dua Pesan dari Satu Pengamatan
Untuk yang sedang memegang kuasa, kuasa itu titipan yang masa berlakunya kadang penuh kejutan. Nada bicara yang hari ini terasa tanpa risiko bisa jadi tagihan di kemudian hari.
Untuk yang pernah disenggol, jengkel yang dipelihara terlalu lama akhirnya melelahkan diri sendiri. Menjaga jarak boleh, mencatat pelajaran juga boleh, tapi tidak perlu membawa beban itu ke mana-mana. Orang yang dulu merasa tinggi pun nanti akan kembali berjalan di tanah yang sama dengan kita.
Pada akhirnya, kuasa bisa mengubah nada suara dengan cepat, tapi tidak bisa mengubah kenyataan bahwa kelak kita semua kembali menjadi orang biasa. Maka mungkin pertanyaan yang layak dibawa pulang adalah: kalau besok semua jabatan dan gelarku dilepas, aku ingin diingat sebagai orang yang seperti apa?
Salam,
Agus Yuniawan
