Kukira Aku yang Paling Benar
Ada semacam rasa puas yang muncul. Aku merasa sudah mikir dari segala sisi dan yakin tidak ada yang kelewatan.
Satu Pertanyaan yang Mengubah Semuanya
Rasa paling benar itu pernah diuji waktu rapat beberapa waktu lalu. Kami sedang membahas cara membagikan informasi sekaligus mengurus pendaftaran untuk sebuah kegiatan bersama. Dengan percaya diri, aku mengusulkan supaya semua prosesnya dipindah ke formulir daring lewat ponsel.
Menurutku itu solusi paling masuk akal. Bisa hemat biaya cetak, rekap data otomatis rapi di komputer, orang juga tidak perlu repot bawa berkas fisik. Aku menyampaikan itu dengan yakin sekali.
Setelah aku selesai bicara, seorang teman yang duduk di seberang meja mengangkat tangan pelan. Dia tidak langsung membantah, cuma bertanya. Dia tanya bagaimana dengan peserta yang usianya sudah sepuh, yang jarang pegang ponsel pintar, apalagi harus isi formulir lewat tautan. Bagi mereka, datang langsung bawa kertas justru lebih nyaman daripada harus berurusan dengan layar yang bikin bingung.
Mendengar hal itu, aku diam. Apa yang dia katakan masuk akal juga. Ide yang tadinya kuanggap paling praktis dan memudahkan semua orang, ternyata ada celahnya. Aku kebanyakan mikir dari sisi kerja di belakang meja, sampai lupa melihat kondisi orang lain di lapangan.
Memberi Ruang untuk Salah
Dari kejadian kecil itu aku belajar satu hal soal cara memperlakukan isi kepala sendiri. Sebagus apa pun ide yang kita susun, ia tetap lahir dari sudut pandang yang terbatas. Mata kita cuma dua, dan pengalaman hidup kita tidak mungkin cukup untuk merangkum semua keadaan orang lain.
Makanya, kita perlu memberi ruang untuk salah di dalam pikiran sendiri. Perlu ada jeda untuk bilang ke diri sendiri bahwa pendapat yang kita pegang hari ini bisa saja ada bagian yang keliru.
Cara paling gampang untuk cek apakah pemikiran kita sudah cukup matang adalah dengan membawanya keluar, diuji di depan orang lain. Kita butuh telinga yang mau dengar keberatan orang. Begitu ide kita ketemu pengalaman orang yang berdiri di posisi berbeda, celah yang tadinya tidak kelihatan jadi terlihat.
Belajar Tidak Ngotot
Sadar bahwa pikiran kita selalu ada celahnya ternyata membuat perasaan lebih enteng. Kita jadi lebih gampang rendah hati. Pas lagi diskusi atau tukar pikiran, kita tidak lagi merasa harus ngotot mempertahankan argumen sampai ngotot-ngototan.
Kalau ternyata pendapat orang lain memang lebih masuk akal dan bisa menutup kekurangan ide kita, ya terima saja. Tidak ada yang perlu dibela mati-matian, karena dari awal kita memang sudah sadar bisa saja salah.
Pada akhirnya, perjalanan memperhatikan diri sendiri ini bikin aku sadar satu hal. Semakin banyak kita belajar dan semakin sering kita dengar isi kepala orang lain, kita justru makin sadar berapa banyak hal yang belum kita tahu. Kebenaran di dunia ini terlalu luas untuk dikuasai satu kepala saja.
Pernah tidak kamu merasa sangat yakin dengan satu ide, lalu tiba-tiba sadar ada yang kelewatan setelah dengar cerita dari sudut pandang orang lain? Cerita pengalamanmu di kolom komentar, ya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Sumber gambar: generate AI
