Kenapa Hidup Terasa Dua Kali Lebih Berat

Sore tadi aku baru sampai di rumah setelah menembus jalanan kota yang padat merayap. Punggung kaku, betis tegang, setelah seharian mengerjakan pekerjaan yang seolah beranak-pinak di meja. Aku melepas sepatu, menyandarkan punggung di kursi teras, lalu menyeruput teh hangat buatan sendiri sambil menunggu anak-anak datang mengaji.

Jujur saja, hari ini memang melelahkan. Ada beberapa urusan yang belum beres dan harus kupikirkan lagi besok pagi. Namun di titik itu, lelahku masih wajar. Badan capek, tapi pikiran masih cukup tenang menikmati angin sore.

Suasana itu mendadak berubah ketika tanganku iseng merogoh saku celana dan membuka layar ponsel.

Di beranda media sosial, muncul deretan foto seorang kawan lama. Pada jam yang sama saat aku terjebak macet dan memikirkan tenggat pekerjaan, ia tampak duduk santai di kafe tepi pantai. Di unggahan lain, seorang kenalan sebaya baru membagikan kabar keberhasilannya meraih posisi impian, posisi yang dulu sekali pernah sangat kuinginkan.

Batu Tambahan di Dalam Ransel

Seketika teh hangat di tanganku terasa hambar. Angin sore di teras tak lagi menyegarkan. Lelah yang tadinya cuma menempel di punggung dan betis tiba-tiba merembet ke dada dan membuat napas terasa sesak. Aku mendadak merasa tertinggal jauh di belakang.

Kejadian sore tadi membuatku sadar akan satu penyakit pikiran yang sering kita pelihara diam-diam.

Hidup ini pada dasarnya memang sudah berat. Setiap bangun pagi, kamu dan aku sudah harus menggendong ransel masing-masing, berisi tanggung jawab keluarga, cicilan, target pekerjaan, sampai urusan kesehatan. Membawa ransel sendiri saja kadang sudah bikin langkah gontai.

Masalahnya, kita sering kurang kerjaan: memungut batu besar dari pinggir jalan, lalu memasukkannya ke ransel sendiri. Batu tambahan itu muncul saat kita mulai membandingkan hidup kita hari ini dengan hidup orang lain yang sangat kita inginkan.

Kita melihat orang lain punya waktu luang lebih banyak, penghasilan lebih longgar, atau karier lebih mentereng, lalu menuntut diri sendiri berada di posisi yang sama detik ini juga. Akibatnya, beban yang tadinya cuma satu ransel mendadak terasa dua kali lipat lebih menyiksa.

Silau pada Potongan Gambar

Bayangkan kamu sedang berjalan kaki di jalan menanjak sambil menenteng belanjaan. Tiba-tiba seseorang melintas mulus di atas motor bagus, tanpa setetes keringat pun. Kalau matamu terus terkunci pada pengendara itu sambil merutuki nasib karena harus jalan kaki, sisa tanjakan di depan pasti terasa seperti siksaan panjang.

Saat menginginkan hidup orang lain, kita lupa bahwa yang tampak di permukaan hanyalah potongan gambar terbaik yang sengaja mereka pilih untuk dipamerkan. Kita iri pada ketenangan finansial mereka, padahal kita tidak tahu seberapa berat tekanan mental atau masalah keluarga yang harus mereka telan setiap malam.

Setiap orang punya jatah kesulitannya masing-masing. Tidak ada hidup yang benar-benar bebas masalah. Saat sibuk mengincar panggung hidup orang lain, kita sedang tidak adil terhadap perjuangan sendiri yang sudah bertahan sejauh ini.

Meletakkan Kembali yang Bukan Milik Kita

Setelah anak-anak datang, aku mematikan layar ponsel dan meletakkannya terbalik di atas meja. Aku menarik napas panjang, lalu mencoba memisahkan mana lelah yang memang berasal dari pekerjaanku hari ini, dan mana sesak palsu yang muncul gara-gara unggahan orang lain.

Mengakui bahwa hidup itu berat adalah hal yang sangat manusiawi. Kita boleh mengeluh sesekali, boleh capek, boleh mengambil jeda. Namun jangan sampai kita memperberat langkah sendiri dengan memikul iri pada jalan hidup orang lain.

Cara paling sederhana untuk meringankan pundak sore ini adalah memulangkan beban pikiran yang bukan milik kita. Biarkan orang lain berjalan di lintasannya dengan segala keberuntungan dan ujiannya sendiri. Kita cukup merawat apa yang sudah ada di genggaman hari ini, selangkah demi selangkah, tanpa perlu menoleh dengan cemas ke halaman tetangga.

Ah, saatnya menemani anak-anak yang polos ini. Mereka ini selalu berhasil membuatku ingat untuk bersyukur. Alhamdulillah.

Salam,
Agus Tri Yuniawan