Ketika Bernapas Bukan Lagi Urusan Sederhana

Pagi tadi, rutinitasku berjalan seperti biasa. Aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Angin sejuk langsung menerobos masuk, dan aku menghirupnya dalam-dalam. Tak ada perasaan istimewa sama sekali. Aku bahkan tidak pernah repot memikirkan apakah udara yang masuk ke paru-paruku aman atau justru mengandung racun.

Barangkali karena selama ini kamu dan aku terlalu terbiasa mendapatkan napas secara cuma-cuma.

Rasa biasa saja itu mendadak hilang saat mataku menangkap rentetan berita tentang Kalimantan hari ini. Di Pontianak, anak-anak harus kembali belajar dari rumah karena kepungan kabut asap yang pekat. Di Palangka Raya, kegiatan tatap muka di sekolah berkali-kali terpaksa dihentikan.

Udara yang seharusnya jadi bagian paling biasa dalam keseharian, mendadak berubah menjadi ancaman yang harus diwaspadai terus-menerus.

Sekolah dari Rumah, Lagi-lagi

Aku mencoba membayangkan betapa sesaknya keadaan itu bagi sebuah keluarga. Anak-anak yang semestinya berlarian bebas di halaman sekolah terpaksa dikurung di dalam rumah. Para orang tua harus kembali memutar otak mengatur jadwal pendampingan belajar.

Ingatanku langsung mundur ke beberapa tahun lalu, saat pandemi memaksa kita memindahkan sekolah ke rumah. Kita pernah merasakan betapa melelahkannya situasi itu. Anak-anak kehilangan waktu bermain, sementara orang tua kewalahan membagi peran. Kini, di sejumlah wilayah Kalimantan, gangguan serupa kembali hadir dengan alasan yang berbeda.

Seorang anak seharusnya bisa pergi menuntut ilmu tanpa harus mengkhawatirkan kualitas udara. Seorang ibu seharusnya tidak perlu terus-menerus cemas pada setiap tarikan napas anaknya. Seorang ayah semestinya bisa bekerja di luar ruangan tanpa harus berjudi antara mencari penghasilan atau menjaga kesehatan. Tapi keadaan hari ini sama sekali tidak memberi mereka pilihan yang mudah. Asap tebal itu tidak akan berhenti di depan pintu hanya karena penghuninya memilih bersembunyi di dalam.

Cerita di Balik Ribuan Hektare yang Terbakar

Ada satu hal yang selalu mengusik pikiranku setiap kali melihat tayangan tentang kebakaran hutan dan lahan. Di layar televisi atau ponsel, kita terlalu sering disuguhi deretan angka statistik: sekian ratus titik panas, sekian ribu hektare lahan hangus terbakar, dan sekian personel pemadam diturunkan.

Angka-angka itu memang penting untuk menakar skala bencana. Tapi di baliknya, ada kehidupan manusia yang tidak pernah cukup diceritakan lewat angka.

Ada jam belajar yang hilang, ada periuk nasi harian yang terancam, ada biaya pengobatan yang mendadak membengkak. Dan yang paling berat, ada kecemasan yang menetap di dada warga jauh lebih lama daripada gumpalan asap di langit sana.

Cara Kecilku Ikut Peduli

Ya, mungkin tulisan semacam ini tak ada bedanya dengan ribuan tautan berita yang gampang kamu temukan saat scrolling medsosmu. Tapi lewat baris demi baris ini, aku cuma ingin bilang pada semesta: aku peduli lho, aku ikut merasakan.

Di antara sekian banyak tulisanku di blog ini yang biasanya berputar pada tema yang itu-itu saja, hari ini aku merasa harus ikut merespons kondisi negeri kita yang belakangan sedang banyak diuji.

Okey, aku menulis catatan ini dari tempat yang cukup jauh dari Kalimantan. Pagi ini, aku masih bebas membuka jendela dan bernapas dengan lega. Justru karena kemewahan itulah aku merasa perlu menuliskannya.

Sering kali kita baru sadar betapa mahalnya sesuatu setelah melihat orang lain megap-megap memperjuangkannya. Udara bersih ternyata salah satunya. Dan rasanya perih ketika hal yang begitu mendasar harus jadi barang mewah yang didoakan setiap hari oleh saudara kita sendiri.

Bagaimana kondisi langit di tempat tinggalmu hari ini? Masihkah udaranya bebas dihirup, atau kamu sudah harus mulai memakai masker saat keluar rumah? Ceritakan di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-57 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI