Bersyukur Boleh, Pamer Jangan: Etika Story di Masa Sulit
Saat jempolku tinggal sejarak satu sentimeter dari tombol share, gerakanku tiba-tiba terhenti. Ingatanku melayang ke obrolan di grup pesan singkat beberapa jam sebelumnya. Ada kawan yang mengeluh dagangannya sepi pembeli sejak awal bulan. Ada kawan lain yang pusing memikirkan biaya sekolah anaknya karena uang lembur di kantornya dipangkas. Dan ada satu teman yang ingin pinjam seratus, tapi kutolak.
Untuk Apa Sebenarnya Aku Mengunggah Ini?
Situasi ekonomi belakangan ini memang sedang menguji banyak orang. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, sementara pemasukan sebagian orang di sekitar kita sedang seret.
Di depan layar ponsel yang masih menyala itu, muncul satu pertanyaan yang mengusik hati: sebenarnya untuk apa aku mengunggah foto ini sekarang?
Kamu dan aku tahu betul, hati manusia sering pandai menyembunyikan motif. Kadang di balik keisengan mengunggah aktivitas harian, terselip niat halus untuk menunjukkan bahwa hidup kita baik-baik saja. Ada dorongan tersembunyi untuk memperlihatkan bahwa kita lebih beruntung atau lebih mapan daripada orang lain. Padahal, unggahan yang didasari keinginan terlihat lebih unggul seperti itu bisa membuat orang yang sedang kesulitan merasa makin kecil dan rendah diri.
Syukur yang Tidak Menggores Orang Lain
Menyadari hal itu, rasanya kita perlu lebih peka saat hendak mempublikasikan sesuatu ke ruang maya. Kalau sebuah unggahan berisiko menggores perasaan kawan yang sedang jatuh secara finansial, ada baiknya kita membatasi siapa saja yang bisa melihatnya. Fitur untuk menyembunyikan Story dari kontak tertentu, atau membatasinya khusus untuk teman dekat, sudah tersedia dan gampang dipakai.
Lalu bagaimana kalau kita sedang tidak sempat mengatur daftar penonton satu per satu?
Kalau memang tetap ingin mengunggahnya secara terbuka, pastikan urusan di dalam dada sudah beres dulu. Periksa lagi niat awalnya. Kalau unggahan itu bebas dari keinginan terlihat lebih hebat dari orang lain, dan diniatkan sebagai tahadduts binni’mah, yaitu menceritakan nikmat Tuhan sebagai wujud syukur, maka tidak apa-apa. Merayakan kebahagiaan itu wajar, selama hati kita bersih dari rasa ingin merendahkan sesama.
Menjadi Pengamat bagi Diri Sendiri
Inti dari perkara unggah-mengunggah di masa sulit ini sebenarnya bermuara pada satu latihan penting: menjadi manusia yang berkesadaran.
Hidup dengan kesadaran berarti kita mau mengambil jeda beberapa detik untuk mengamati diri sendiri. Kita belajar menjadi pengawas bagi pikiran dan perasaan kita sebelum bertindak. Saat tangan hendak membagikan sesuatu ke publik, kita hadir secara sadar untuk melihat niat apa yang sedang menyetir perilaku kita detik itu.
Kita sama sekali tidak dilarang membagikan momen bahagia ke media sosial. Kita cuma perlu memastikan bahwa setiap hal yang kita lepaskan ke layar ponsel sudah melewati saringan empati dan kejujuran. Dengan cara sederhana itu, kita tetap bisa bersyukur tanpa membuat orang lain merasa berkecil hati.
Pernahkah kamu mengurungkan niat mengunggah sesuatu ke media sosial karena tiba-tiba teringat kondisi temanmu yang sedang melewati masa sulit? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
