Alhamdulillah Hujan: Catatan Kecil Saat Ingin Dikenali Semesta Sebagai Orang Biasa
Aku berjalan ke teras, menatap air yang mulai menetes dari ujung atap, lalu merogoh ponsel dari saku celana. Tanpa banyak berpikir, aku membuka WhatsApp dan mengunggah sebuah status singkat: "Alhamdulillah hujan".
Sesaat setelah menekan tombol kirim, aku menatap layar ponselku sambil tersenyum tipis. Status yang baru saja kubuat itu rasanya biasa banget. Kalau aku menggeser layar dan melihat deretan status teman-teman di kontakku pagi ini, sebagian besar dari mereka pasti sedang mengunggah kalimat atau video rintik hujan yang serupa.
Tidak Sedang Kekeringan dan Tidak Punya Sawah
Melihat unggahanku sendiri yang begitu klise, pikiranku mulai mengajak ngobrol. Sebenarnya kenapa aku ikut-ikutan heboh menyambut turunnya hujan pertama ini?
Kalau mau jujur melihat kondisi di rumah, selama musim kemarau kemarin air di tempatku masih mengalir lancar. Aku tidak mengalami kesulitan air bersih atau harus mengantre jeriken bantuan sebagaimana yang dialami saudara-saudara kita di berbagai daerah yang dilanda kekeringan.
Aku juga tidak memiliki petak sawah atau ladang yang tanamannya sangat bergantung pada curahan air dari langit. Rutinitas harianku tetap berjalan normal meskipun matahari bersinar terik berbulan-bulan. Namun, pagi ini aku tetap memilih menuliskan rasa syukur itu dan membagikannya.
Ingin Dikenali Semesta Sebagai Orang yang Bersyukur
Di sela suara gemericik air yang memenuhi halaman, aku mengamati isi kepalaku sendiri secara sadar. Di balik status WhatsApp yang sangat pasaran itu, ada satu keinginan sederhana di dalam hati. Aku hanya ingin semesta mengenali diriku sebagai orang yang ikut bahagia dan ikut bersyukur atas hadirnya hujan hari ini.
Rasa bahagia menyambut rahmat Tuhan ternyata tidak harus menunggu sampai keran air di rumah kita mengering lebih dulu. Kita tidak harus menjadi petani yang sawahnya retak untuk bisa mengucap syukur saat mendung akhirnya pecah menjadi hujan. Ketika alam menerima guyuran air setelah sekian lama menahan dahaga, ikut merasa lega adalah cara paling sederhana untuk menyelaraskan hati kita dengan kehidupan di sekitar.
Lega Rasanya Menjadi Orang Biasa
Ada satu hal lagi yang membuatku merasa nyaman dengan unggahan sederhana pagi ini. Selama ini, ruang media sosial sering kali mendorong kamu dan aku untuk tampil istimewa. Kita terbiasa mengunggah sesuatu yang berkaitan dengan pencapaian, keberhasilan pekerjaan, atau prestasi pribadi agar terlihat punya nilai lebih di mata orang lain.
Sementara itu, turunnya hujan hari ini jelas terjadi bukan karena pencapaianku. Aku tidak punya andil sedikit pun dalam menggerakkan awan atau menurunkan air dari langit.
Lewat satu kalimat singkat tentang hujan itu, aku justru merasa sedang meletakkan beban untuk terlihat hebat. Aku ingin terlihat sebagai orang biasa yang melakukan hal-hal biasa, dan ikut merasakan kebahagiaan dari peristiwa alam yang bisa dinikmati siapa saja secara gratis. Menjadi orang biasa yang masih bisa tersenyum melihat air turun dari langit ternyata bikin dada terasa lapang.
Apakah di tempat tinggalmu hari ini juga sudah mulai turun hujan pertama setelah kemarau? Hal sederhana apa yang langsung melintas di pikiranmu saat mencium aroma tanah basah pagi tadi? Ceritakan di kolom komentar, ya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
