Mengelola Energi, Bukan Cuma Mengatur Waktu

Selama ini kita sering diajari mengatur waktu: membuat jadwal, menentukan target, menyusun daftar pekerjaan, lalu mencoba memasukkan sebanyak mungkin kegiatan ke dalam dua puluh empt jam yang kita punya.

Belakangan aku menemukan sudut pandang yang sedikit berbeda dari buku The Power of Full Engagement karya Jim Loehr dan Tony Schwartz. Salah satu gagasan utamanya sederhana: yang perlu kita kelola bukan hanya waktu, tetapi juga energi. Waktu kita memang sama-sama dua puluh empat jam, tetapi energi kita tidak pernah sama sepanjang hari. Ada pagi ketika dua jam terasa begitu produktif, pikiran jernih, ide mengalir, pekerjaan cepat selesai. Ada pula hari ketika duduk di depan komputer selama tiga jam tetapi rasanya tidak menghasilkan banyak hal.

Dari situ aku mulai berpikir bahwa skala prioritas sebenarnya bukan hanya soal memilih pekerjaan mana yng harus didahulukan. Lebih dari itu, prioritas adalah keputusan tentang kepada siapa dan kepada apa energi kita akan diberikan.

Tidak Semua Hal Layak Mendapat Energi yang Sama

Ada orang-orang tertentu yang akhirnya aku batasi intensitas interaksinya. Bukan karena mereka pasti buruk, dan bukan pula berarti aku merasa lebih baik daripada mereka. Aku hanya mulai menyadari bahwa ada interaksi yang membutuhkan energi jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Percakapannya mungkin hanya berlangsung lima belas menit, tetapi setelahnya isi kepala masih sibuk selama dua jam. Ada ucapan yang terus dipikirkan, ada perasaan yang perlu dinetralkan, atau ada persoalan yang sebenarnya bukan urusan kita tetapi tanpa sadar ikut kita bawa pulang. Kalau itu terjadi berkali-kali, aku kira wajar bila kemudian kita belajar membuat jarak yang sehat, sebab menjaga energi bukan berarti memusuhi orang lain. Kadang justru berarti memahami kapasitas diri sendiri.

Satu Pesan Bisa Lebih Mahal dari Satu Menit

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan digital. Sebuah pesan WhatsApp mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit untuk dibalas, tetapi persoalannya sering bukan satu menit itu.

Kita membuka WhatsApp untuk membalas satu pesan, kemudian melihat pesan lain, masuk ke sebuah grup, membaca percakapan yang sebenarnya tidak penting, melihat sebuah tautan, lalu berpindah ke aplikasi lain. Ketika kembali ke pekerjaan semula, konsentrasi yang tadi sudah terbentuk harus dibangun lagi dari awal. Yang terbuang ternyata bukan cuma waktu, energi untuk kembali fokus juga ikut terpakai. Karena itu aku semakin memahami mengapa notifikasi kecil bisa terasa begitu melelahkan ketika datang terus-menerus sepanjang hari.

Tidak Semua Pendapat Harus Ditanggapi

Media sosial juga mempunyai cara tersendiri dalam mengambil energi. Kadang kita membaca sebuah pendapat yang terasa keliru, dan jari rasanya ingin segera membalas. Kita mengetik komentar, orang itu menjawab, kita membalas lagi, lalu beberapa menit kemudian kita membuka aplikasi hanya untuk melihat apakah ada tanggapan baru.

Padahal setelah dipikir-pikir, hidup kita sebenarnya tidak berubah sedikit pun karena memenangkan perdebatan tersebut. Tetapi perhatian kita sudah tersita, dan bahkan ketika ponsel sudah diletakkan, percakapannya masih berjalan di kepala.

Pada titik tertentu mungkin kita perlu bertanya, apakah semua hal yang bisa saya tanggapi memang harus saya tanggapi? Ternyata tidak. Ada kalanya diam bukan berarti kalah, kita hanya memilih tidak mengeluarkan energi untuk sesuatu yang memang tidak terlalu penting.

Terlalu Banyak Mengatakan Iya

Kebocoran energi lainnya kadang datang dari hal yang kelihatannya baik: terlalu mudah mengatakan iya. Diminta membantu, iya. Diajak terlibat dalam kegiatan, iya. Ada pertemuan, datang. Ada kepanitiaan, masuk. Ada pekerjaan tambahan, diterima.

Satu per satu tampaknya ringan, tetapi ketika semua berkumpul dalam minggu yang sama, barulah terasa bahwa kapasitas kita mempunyai batas. Mungkin persoalannya bukan kita tidak mampu. Kita hanya perlu menerima bahwa mampu melakukan sesuatu tidak selalu berarti harus melakukannya. Setiap kali mengatakan iya kepada satu hal, sebenarnya kita sedang mengalokasikan sebagian energi yang tidak bisa diberikan kepada hal lain.

Jangan Sampai Prioritas Orang Lain Menguasai Hari Kita

Ada kebiasaan kecil lain yang sekarang terasa menarik bagiku: bangun tidur lalu langsung membuka ponsel. Belum sempat menentukan apa yang hendak kita lakukan hari itu, pikiran sudah dipenuhi pesan pekerjaan, grup, berita, notifikasi, dan berbagai permintaan. Tanpa sadar, pagi kita dimulai dengan mengerjakan prioritas orang lain.

Padahal mungkin justru pada jam-jam itulah energi mental kita sedang berada dalam kondisi terbaik. Sayang sekali kalau energi terbaik tersebut habis hanya untuk merespons hal-hal kecil. Barangkali pekerjaan yang paling penting seharusnya mendapatkan energi terbaik kita, bukan energi yang tersisa.

Prioritas Berarti Berani Memilih

Dari sini aku mulai melihat skala prioritas dengan cara yang sedikit berbeda. Biasanya kita bertanya, apakah ini penting, apakah ini mendesak. Mungkin perlu ditambahkan satu pertanyaan lagi: berapa banyak energi yang akan saya keluarkan untuk ini, dan apakah hasilnya sepadan?

Pertanyaan itu bisa digunakan ketika menerima pekerjaan, mengikuti pertemuan, menjawab pesan, menanggapi komentar, bahkan ketika memutuskan seberapa dekat kita berinteraksi dngan seseorang. Bukan berarti hidup harus dihitung untung-ruginya secara kaku, tetapi energi manusia memang terbatas. Ada keluarga yang membutuhkan perhatian kita, ada pekerjaan yang benar-benar penting, ada orang-orang yang ingin kita dampingi, ada tubuh yang perlu beristirahat, dan ada pula waktu untuk berdoa, membaca, berpikir, atau sekadar duduk tanpa harus melakukan apa-apa. Semua itu juga membutuhkan energi.

Maka mungkin kedewasaan bukan hanya terlihat dari kemampuan mengerjakan banyak hal. Kadang kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengatakan: ini penting, itu tidak terlalu penting, ini perlu aku tanggapi, itu cukup aku lewatkan, kepada yang ini aku ingin hadir sepenuhnya, sedangkan dari yang itu aku perlu menjaga jarak.

Kita memang tidak bisa menambah jumlah jam dalam sehari, tetapi kita masih mempunyai hak untuk menentukan ke mana perhatian, pikiran, tenaga, dan perasaan kita diarahkan. Dan barangkali pertanyaan yang layak kita bawa pulang bukan lagi soal "hari ini waktu aku habis untuk apa", melainkan: kalau energi hidupku terbatas, apakah selama ini aku sudah memberikannya kepada hal-hal yang memang layak menerimanya?

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-34 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI