Belajar Pulang dengan Dada Lapang
Episode itu memang membahas soal kematian, topik yang biasanya dihindari banyak orang. Ketika lawan bicaranya bilang bahwa rasa takut mati itu wajar karena kita cemas membayangkan apa yang ada di depan sana, Pak Wayan justru menjawab santai. Menurut beliau, sebagian besar dari kita sebenarnya bukan takut pada kematian itu sendiri. Yang membuat kita gemetar adalah bayangan harus meninggalkan kehidupan yang lagi terasa begitu indah ini.
Coba perhatikan perasaan kita sendiri. Saat hidup sedang nyaman-nyamannya, rekening aman, keluarga lengkap, tawa anak terdengar renyah, hari-hari terasa begitu manis, kematian tampak seperti pencuri yang sangat kejam. Keterikatan kita pada dunia begitu erat, sampai membayangkan semua kesenangan itu lenyap saja sudah membuat dada terasa sesak. Kita takut kehilangan hal-hal menyenangkan yang setiap hari kita dekap erat.
Sebaliknya, ada juga orang yang seolah tidak punya rasa takut sama sekali menghadapi kematian. Namun sering kali, keberanian itu muncul bukan karena jiwanya sudah matang, melainkan karena ia sudah terlanjur benci dan muak dengan hidupnya. Hari-harinya terasa begitu menyiksa sampai ada yang tega menjemput ajal sebelum waktunya tiba. Dua keadaan ini sama-sama berangkat dari posisi yang berat sebelah, yang satu terlalu rakus menggenggam, yang satu lagi putus asa ingin kabur.
Di titik itulah Pak Wayan menyodorkan sebuah jalan tengah lewat prinsip yang moderat yaitu hidup senang, mati tenang.
Artinya, kamu dan aku tetap boleh menikmati setiap detik kebaikan yang ada hari ini. Nikmati kopi pagi sebelum berangkat, nikmati tawa bersama kawan-kawan, dan syukuri setiap kemudahan yang datang. Nikmati hidup ini dengan riang tanpa rasa bersalah. Tapi kuncinya, jangan pernah menggenggam semuanya terlalu kencang. Sadari sejak awal bahwa segala hal yang ada di pelukan kita hari ini statusnya hanya barang titipan.
Kematian adalah sebuah kepastian yang tanggal mainnya sudah terkunci rapi. Dengan belajar membuka genggaman tangan sedikit demi sedikit, kita bisa menjalani hari ini dengan bahagia, sekaligus siap berangkat dengan dada yang lapang saat waktu pulang itu benar-benar tiba.
Kira-kira, hal apa di hidupmu hari ini yang rasanya paling berat untuk kamu lepaskan kalau sewaktu-waktu giliranmu tiba? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya.
