Cita-cita Kecil dari Ruang Mengaji

Sore itu, seperti sore-sore biasanya, ruang TPA Al-Mustaqim Plempoh penuh suara anak-anak. Ada yang mengeja Iqra' dengan suara pelan dan ragu-ragu, ada yang sudah lancar melafalkan ayat Al-Qur'an sambil sesekali melirik teman di sebelahnya, berharap disimak. Suasananya tidak pernah benar-benar tenang, tapi justru dari keriuhan itulah saya belajar banyak hal.

Karena di sela-sela bacaan yang kadang masih terbata, ada cerita-cerita kecil yng tumbuh begitu saja. Tentang keseharian mereka. Tentang kebaikan yang mereka coba pahami, meski dengan cara anak-anak yang polos dan kadang lucu. Dan tentang cita-cita, yang kalau didengarkan satu per satu, bisa bikin para pengasuh tersenyum sendiri.

Dokter, Tentara, Sopir, sampai Pramugari

Setiap anak punya jawaban sendiri kalau ditanya mau jadi apa kalau sudah besar nanti. Ada yang mantap bilang mau jadi dokter. Ada yang matanya berbinar membayangkan jadi tentara. Ada juga yang kepingin jadi sopir, ada yang cita-citanya malah juragan traktor, dan ada yang ingin jadi pramugari, lengkap dengan gaya tangan menyapa penumpang.

Saya selalu suka momen seperti ini. Bukan karena cita-citanya muluk atau tidak, tapi karena dari situ kita bisa melihat dunia lewat mata mereka. Dunia yang masih sederhana, di mana jadi sopir sama kerennya dengan jadi dokter, dan jadi juragan traktor sama membanggakannya dengan jadi tentara.

Surga yang Bisa Dijemput dari Hal-hal Kecil

Tapi yang paling saya ingat bukan soal cita-cita itu saja. Pelan-pelan, di TPA ini, anak-anak juga diajak memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar mau jadi apa nanti. Mereka belajar bahwa jalan menuju surga itu ternyata banyak sekali, dan sebagian besar dari jalan itu justru dekat sekali dengan keseharian mereka sendiri.

Membuang sampah pada tempatnya, itu bisa jadi ladang pahala. Berbicara dengan baik kepada teman, itu juga bisa. Isah-isah, umbah-umbah, menyapu, membantu teman yang kesulitan, semua hal kecil yang sering dianggap remeh itu, ternyata punya tempat tersendiri di hadapan Allah, asal dilakukan sesuai kemampuan mereka.

Saya kira ini salah satu hal paling berharga yang bisa diajarkan sejak dini. Bahwa kebaikan tidak selalu harus besar dan mentereng untuk dianggap berarti. Kadang cukup dengan menyapu lantai atau membantu teman mengambil barang yang jatuh.

Menjaga Teman, Bukan Menjatuhkan

Ada satu hal lagi yang terus ditanamkan di TPA ini, dan menurut saya ini penting sekali untuk terus diingatkan. Bahwa jadi anak baik juga berarti menjaga sesama. Tidak mengejek. Tidak merendahkan. Apalagi membuli teman.

Sebab membuli itu bukan cuma soal melukai perasaan orang lain untuk sesaat. Membuli bisa meninggalkan luka yang dibawa jauh lebih lama dari yang kita kira, dan bisa menghambat cita-cita, baik cita-cita anak yang dibuli maupun yang membuli. Anak-anak perlu tahu ini sejak kecil, bukan supaya mereka takut, tapi supaya mereka terbiasa memilih bersikap baik, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Doa untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh

Sebagai orangtua dan pengasuh, yang bisa kita lakukan selain menemani, ya mendoakan. Semoga kelak ada di antara mereka yang menjadi dokter yang ramah dan tulus menolong pasiennya. Tentara yang jujur dan bertanggung jawab. Sopir yang tertib menjaga keselamatan penumpangnya. Juragan traktor yang amanah dalam setiap urusannya. Pramugari yang cekatan sekaligus peduli pada orang-orang yang ia layani.

Apa pun pekerjaan yang mereka jalani nanti, saya berharap mereka selalu ingat satu hal. Bahwa jadi orang baik itu selalu ada tempatnya, di profesi apa pun yang mereka pilih. Kebaikan bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita sebagai orang dewasa.

Semoga anak-anak TPA Al-Mustaqim Plempoh tumbuh dengan cita-cita yang tinggi, hati yang baik, dan kesadaran bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, ada artinya di hadapan Allah. Semoga setiap langkah kecil hari ini mengantarkan mereka, juga kita semua, pada ridho Allah.

Aamiin.

Selamat Hari Santri, untuk santri-santri kecil TPA Al-Mustaqim Plempoh, dan untuk seluruh santri di mana pun berada. 

Salam,
Agus Tri Yuniawan