Berhenti Jadi Orang Baik, Mulai Jadi Orang Berkesadaran
Tepat di samping warung, mengalir Air Terjun Payung. Bentuk jatuhan airnya melebar menyerupai payung terbuka, ukurannya terbilang kecil sehingga tidak ada suara gemuruh yang memekakkan telinga. Yang terdengar hanya suara gemericik air yang jatuh pelan di antara bebatuan, berpadu dengan hembusan angin hutan yang sepoi-sepoi dan membuat badan kami yang basah makin menggigil.
Dua cangkir kopimik yang mengepul disajikan ke meja kayu, berdampingan dengan sepiring tahu isi dan tempe mendoan.
Namun di hadapanku, kawan perjalananku tampak tidak benar-benar menikmati suasana istirahat itu. Pandangannya menatap ke cangkir kopi, lalu ia menghela napas panjang. Ini kali ketiga dalam beberapa bulan terakhir ia meluapkan keluhan yang sama persis: ia merasa selalu dimanfaatkan oleh orang-orang di kampungnya.
Ceritanya selalu berulang seputar urusan warga. Dari kepengurusan tingkat RT, kepanitiaan acara hari besar, jadwal ronda malam, sampai urusan gotong royong yang menyita habis waktu liburnya. Tiap kali ada tugas melelahkan atau urusan yang dihindari warga lain, selalu namanya yang disodorkan. Masyarakat di sekitarnya tahu betul ia adalah orang yang tidak pernah bisa menolak. Sambil menggigit ujung gorengannya pelan, ia berujar dengan nada putus asa, "Kenapa ya, orang kalau niatnya baik dan suka ngalah di lingkungan masyarakat malah selalu dimanfaatin dan diinjak-injak begini?"
Sebenarnya cuma Takut Dicap Buruk aja
Hemm, beberapa tahun lalu, jika mendengar keluhan seperti itu, aku pasti akan langsung membelanya. Dulu aku membenarkan anggapan umum bahwa orang baik memang sering menjadi korban dari lingkungan sosial yang egois. Namun siang itu, sambil meniup uap kopi panas, aku justru melihat kenyataan yang berbeda.
Ada hal ganjil yang mendadak terasa begitu jelas. Ibaratnya nih ya, kawan ini terus mengeluh karena rumahnya kemalingan, padahal dialah orang yang sengaja membiarkan pintu pagar dan pintu depannya terbuka lebar setiap hari.
Ia sebenarnya punya hak penuh untuk menolak ketika tenaganya diperas di luar batas kemampuan. Ia bisa saja berkata tidak saat diserahi beban tambahan yang seharusnya dipikul bersama oleh warga lain. Namun setiap kali kesempatan itu datang, ia memilih mengangguk dengan senyum kecut, lalu menelan sendiri rasa jengkelnya.
Ia melakukan itu bukan karena berjiwa sosial tinggi, melainkan karena takut dicap buruk oleh lingkungan. Ia ovt jika menolak, tetangga akan membicarakannya di pos ronda atau menganggapnya sombong dan enggan membaur.
Sabar Itu Pilihan, Bukan Keterpaksaan
Di titik itulah aku menyadari satu hal. Kamu dan aku sering kali memberi nama yang indah pada sikap selalu mengalah, pasrah, dan rasa tidak enakan. Kita menganggap sikap itu sebagai bukti kebaikan hati dan merasa diri kita sedang berkorban demi kerukunan warga.
Padahal kalau kita berani jujur menggali niat dalam diri masing-masing, sikap seperti itu lebih tepat disebut lemah, bukan baik.
Kebaikan yang sesungguhnya lahir dari sebuah pilihan sadar dan adanya kekuatan. Seseorang baru bisa disebut sabar jika ia sebenarnya punya daya untuk menolak dan menegakkan batas, tetapi ia sengaja memilih memaklumi. Sebaliknya, kalau seseorang diam saja saat hak istirahatnya dirampas hanya karena ia gemetar menghadapi omongan orang kampung, itu murni ketidakberdayaan. Kita menumbalkan ketenangan diri sendiri demi membeli rasa aman yang rapuh dari lingkungan.
Belajar Berkata Tidak Tanpa Merasa Bersalah
Itulah sebabnya banyak orang kini mulai belajar untuk berhenti sekadar menjadi "orang baik", lalu memilih menjadi orang yang berkesadaran.
Menjadi orang yang berkesadaran berarti kita melihat kenyataan hidup dengan mata terbuka lebar. Kita tidak lagi haus pengakuan sebagai sosok manis yang bisa disuruh apa saja oleh masyarakat. Orang yang sadar memiliki pagar batas yang jelas di sekeliling hidupnya. Ia tahu kapan tenaganya pantas disumbangkan untuk kegiatan warga, dan ia tahu kapan harus berdiri tegak berkata "tidak" tanpa perlu dirayapi rasa bersalah.
Ia paham bahwa membuat orang lain sedikit kecewa adalah hal yang wajar demi menjaga kewarasan hidupnya sendiri. Berani bersikap tegas bukan berarti kita memusuhi masyarakat. Ketegasan itu adalah cara kita menghargai diri sendiri, agar orang lain pun belajar untuk menghormati batasan yang kita buat.
Kapan terakhir kali kamu memaksakan diri mengiyakan permintaan orang-orang di lingkungan sekitarmu padahal badan dan pikiranmu sudah lelah? dan ternyata itu kamu lakukan cuma karena takut dicap bukan orang baik? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya.
