Api Tidak Datang Begitu Saja: Kisah Panjang di Bawah Tanah Gambut
Pertanyaan ini wajar. Api pasti ada pemicunya. Kalau ada kesengajaan yng melanggar hukum, pelakunya wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Tapi setelah membaca lebih banyak laporan dan literatur soal karakteristik lahan di Kalimantan, aku merasa pertanyaan tadi belum cukup menjawab akar persoalan. Pertanyaan utamanya bergeser, mengapa siklus panas ini terus berulang seolah tidak ada habisnya?
Spons Raksasa yang Mengering
Kalimantan menyimpan kawasan gambut yang sangat luas. Tanah gambut ini unik karena terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk perlahan selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, tanah ini bekerja mirip spons raksasa yang menahan air. Sayangnya, ketika air di dalam gambut dikeringkan demi berbagai proyek atau perluasan lahan, hamparan spons basah itu berubah menjadi hamparan bahan bakar yang gampang sekali tersulut.
Keadaannya makin mengerikan ketika kemarau datang. Bahkan setelah api di permukaan berhasil dipadamkan, bara panas masih bisa bertahan di bawah tanah. Coba bayangkan betapa menguras tenaga dan emosinya pekerjaan para petugas pemadam di lapangan. Dari kejauhan apinya mungkin sudah padam, tapi begitu tanah itu diinjak, hawa panasnya masih tersimpan rapat di bawah telapak sepatu mereka, menunggu angin untuk kembali berkobar.
Pilihan Sulit di Antara Asap dan Dapur
Persoalannya makin rumit karena ada denyut kehidupan manusia yang berjalan di atas dan di sekitar lahan rawan itu. Ada petani kecil yang menggantungkan dapurnya dari hasil bumi. Ada juga usaha perkebunan besar yang memang menuntut pembukaan lahan sangat luas. Pembangunan kanal untuk menguras air, perubahan bentuk alam, dan kepentingan ekonomi saling berbenturan di satu titik.
Bagi sebagian petani kecil, memakai api pernah menjadi jalan paling mudah dan murah untuk membersihkan lahan tanam baru. Biaya yang terasa murah bagi satu orang ini pelan-pelan membesar dan berubah menjadi kerugian raksasa bagi jutaan warga saat api meluas dan asap beracun menyebar ke kota-kota.
Di sisi lain, menyalahkan petani seratus persen juga kurang pas. Kita perlu menarik mundur masalah ini dan mempertanyakan tata kelola lahan, pengawasan aparat, sampai pilihan teknologi yang ditawarkan kepada masyarakat bawah. Kalau seorang petani dilarang keras memakai cara lama yang murah, apakah sudah ada cara baru yang benar-benar aman dan terjangkau untuk kantong mereka? Kalau sebuah hamparan gambut sudah telanjur dikeringkan bertahun-tahun lalu, apakah cukup dengan memasang papan peringatan larangan menyalakan api?
Percikan Pertama Hanya Ujung dari Cerita Panjang
Aku sering merasa kita semua terlalu sibuk dan baru terjaga ketika bencana sudah meledak di depan mata. Helikopter diterbangkan membelah langit, ratusan petugas dikerahkan menembus asap, masker dibagikan, dan jumpa pers digelar di berbagai stasiun televisi. Semua langkah darurat itu wajib dilakukan, dan aku sangat menghormati keringat para petugas yang bertaruh nyawa menghadapi api secara langsung.
Lalu, bagaimana dengan pekerjaan sepi yang harus dilakukan berbulan-bulan sebelum kemarau tiba?
Menata kembali saluran air agar gambut tetap basah, membantu petani menerapkan cara tanam tanpa bakar, dan menegakkan aturan perizinan lahan adalah deretan tugas yang sangat panjang. Pekerjaan ini mungkin membosankan dan kurang laku untuk jadi tajuk berita utama. Hasilnya pun tidak bisa langsung terlihat dalam hitungan hari.
Padahal, justru di ruang-ruang sepi itulah akar persoalan ini harus diselesaikan. Api yang melahap dahan pohon hari ini sangat mungkin buah dari serangkaian keputusan keliru yang diketuk bertahun-tahun sebelumnya.
Maka setiap kali melihat foto langit yang mengabu karena hutan terbakar, aku ingin melatih pikiranku untuk tidak berhenti pada pertanyaan soal siapa yang memegang korek api. Aku ingin bertanya lebih jauh soal bagaimana kita memperlakukan tanah, air, pepohonan, dan manusia yang hidup berbaur di dalamnya. Sebab ketika api akhirnya menyala tak terkendali, ada banyak hal yang sebenarnya sudah rusak jauh sebelum percikan pertama jatuh ke tanah.
