Ternyata Sesederhana Itu

Sudah sekitar sebulan saya mengalami kendala dengan tanda tangan elektronik.

Sebagai sekretaris, urusan tanda tangan elektronik tentu bukan sesuatu yang bisa saya abaikan begitu saja. Ada dokumen yang harus segera diproses, ada surat yang perlu diselesaikan, tetapi setiap kali saya mencoba membubuhkan tanda tangan, sistem selalu gagal.

Awalnya saya masih santai. Saya pikir mungkin hanya masalah kecil: ukuran file terlalu besar, format dokumennya kurang cocok, atau ada sesuatu yang perlu disesuaikan. Sya pun berkonsultasi dengan admin secara daring. Saran awalnya adalah mengompres dokumen yang hendak ditandatangani. Admin bahkan sempat menunjukkan bahwa dengan cara itu prosesnya berhasil.

Saya pun mencobanya.

Tidak berhasil.

Saya kompres lagi.

Masih tidak berhasil.

Saya mencoba dengan metode kompresi lain, mengecek ukuran file, format dokumen, bahkan mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan. Karena masalah tidak kunjung selesai, pembicaraan pun perlahan naik kelas. Dari sekadar urusan file, kami mulai membicarakan backend, frontend, hak akses akun, kemungkinan perbedaan pengaturan pengguna, sampai dugaan bahwa ada sesuatu yang berbeda antara akun saya dan akun administrator.

Pada titik tertentu saya merasa persoalan ini tampaknya sudah cukup serius. Tinggal sedikit lagi mungkin kami akan membahas arsitektur sistem dan siapa yang pertama kali menulis kode aplikasinya.

Semakin lama, masalahnya terasa semakin rumit.

Ada kecenderungan aneh ketika kita sudah terlalu lama menghadapi sebuah persoalan. Karena persoalannya tidak selesai-selesai, kita mulai beranggapan bahwa penyebabnya pasti juga rumit. Kita lalu mencari jawaban semakin jauh, semakin dalam, dan semakin teknis.

Sampai akhirnya, setelah kira-kira sebulan, saya kembali berkomunikasi dengan admin.

Jawabannya kali ini sederhana:

"Untuk kolom nomor surat, dikosongi saja."

Saya mencobanya.

Dan...

berhasil.

Saya sempat terdiam.

Jadi, setelah sekian lama mencoba berbagai kemungkinan, setelah sempat membicarakan sistem, hak akses, kompresi dokumen, backend, frontend, dan hal-hal teknis lainnya, ternyata yang perlu dilakukan hanya mengosongkan satu kolom.

Ternyata sesederhana itu.

Terlepas dari pertanyaan mengapa kolom nomor surat harus dikosongkan atau bagaimana sistem itu sebenarnya bekerja, perhatian saya justru berhenti pada hal lain.


Kita yang Membuatnya Terasa Rumit

Betapa sering kita menjalani hidup seperti itu.

Kita menghadapi sebuah masalah, lalu karena masalah itu sudah berlangsung lama, kita menganggap jalan keluarnya pasti sulit. Semakin lama kita terjebak, semakin besar pula persoalan itu di dalam kepala. Kita mulai membangun berbagai kemungkinan, membuat banyak asumsi, bahkan kadang menyiapkan solusi untuk masalah yang sebenarnya tidak pernah ada.

Padahal bisa jadi ada satu hal kecil yang belum kita lihat.

Mungkin bukan karena masalahnya terlalu rumit, tetapi karena kita terus melihatnya dari arah yang sama.


Pengalaman-Pengalaman Serupa

Saya jadi teringat pada banyak pengalaman lain yang kurang lebih serupa. Pernah mencari barang cukup lama, ternyata berada di tempat yang sejak awal sudah kita lihat. Pernah bingung dengan sebuah pekerjaan, kemudian seseorang datang dan mengatakan satu kalimat sederhana yang langsung membuat semuanya jelas. Pernah pula memikirkan hubungan dengan seseorang berhari-hari, padahal yang sebenarnya dibutuhkan hanyalah satu percakapan jujur.

Kadang-kadang hidup tidak meminta kita berpikir lebih keras.

Ia hanya meminta kita melihat lebih sederhana.


Tidak Semua Masalah Butuh Jawaban Besar

Tentu saja tidak semua persoalan mempunyai solusi mudah. Ada masalah yang memang kompleks dan membutuhkan waktu panjang. Tetapi pengalaman kecil ini mengingatkan saya bahwa kita juga perlu berhati-hati agar tidak membuat sesuatu menjadi lebih rumit daripada yang sebenarnya.

Mungkin karena manusia senang merasa bahwa masalah besar harus mempunyai jawaban besar.

Padahal tidak selalu begitu.

Ada pintu yang macet bukan karena rumahnya harus dibongkar, tetapi karena kuncinya perlu diputar sedikit ke arah yang berbeda.

Ada persoalan yang terlihat seperti labirin, tetapi ternyata pintu keluarnya hanya beberapa langkah dari tempat kita berdiri.

Dan ada hal yang kita pikir membutuhkan penjelasan panjang, padahal jawabannya hanya:

"Coba bagian itu dikosongi."

Lalu selesai.


Pertanyaan yang Layak Ditanyakan

Sejak kejadian itu, saya merasa punya satu pertanyaan baru setiap kali menghadapi sesuatu yang mulai terasa terlalu rumit:

Apakah masalah ini memang serumit yang saya pikirkan, atau saya hanya belum melihat hal sederhana yang selama ini terlewat?

Dan mungkin pertanyaan yang lebih penting:

Dalam persoalan yang sedang saya hadapi hari ini, adakah satu hal kecil yang belum saya coba karena saya terlalu sibuk mencari jawaban yang besar?

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-29 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI