Melihat ke Bawah Seharusnya Membuat Kita Bergerak

Ada nasihat yang sudah terlalu sering kita dengar: Kalau ingin bersyukur, lihatlah ke bawah. Kalau ingin maju, lihatlah ke atas.

Nasihat itu tidak salah. Hanya saja, saya kadang berpikir, jangan-jangan kita terlalu nyaman dengan bagian melihat ke bawah-nya.

Kita melihat orang yng hidupnya lebih sulit, lalu berkata dalam hati, "Untung hidup saya tidak seperti itu." Setelah itu merasa lega, lalu pulang. Selesai.

Padahal mungkin, melihat ke bawah tidak seharusnya berakhir pada rasa lega.

Jangan-Jangan Kita Salah Memahami Rasa Syukur

Bayangkan seseorang memiliki penghasilan yang cukup untuk makan tiga kali sehari. Ia masih bisa mengeluh karena rumahnya kecil, kendaraannya sudah tua, atau pekerjaannya membosankan.

Kemudian ia melihat seseorang yang bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Ia merasa lebih beruntung. Bagus. Tetapi setelah itu apa?

Kalau rasa syukur hanya membuat kita berkata, "Untung saya masih lebih baik," bukankah kita sebenarnya hanya sedang mencari pembenaran untuk merasa nyaman?

Ada sesuatu yang lebih jauh dari itu. Ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang yang belum mendapatkan apa yang kita punya, seharusnya muncul pertanyaan lain: "Kalau saya sudah diberi lebih, lalu apa yang bisa saya lakukan dengan kelebihan itu?"

Di situlah rasa syukur mulai berubah bentuk. Bukan hanya perasaan, tetapi tanggung jawab.

Yang Biasa Bagi Kita, Berharga bagi Mereka

Mungkin kita menganggap pekerjaan sebagai rutinitas: datang pagi, bekerja, pulang sore, begitu terus. Tetapi bagi seseorang yang sedang berbulan-bulan mencari pekerjaan, rutinitas seperti itu adalah sesuatu yang sangat ingin dimiliki.

Kita mungkin bosan dengan makanan yang ada di meja, sementara bagi orang lain, bisa makan dengan tenang hari ini saja sudah menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Kita mungkin mengeluhkan rumah yang terasa sempit, sementara ada orang yang malam ini belum tahu akan tidur di mana.

Masalahnya bukan karena kita tidak boleh mengeluh. Kita manusia. Tetapi sesekali mungkin kita perlu bertanya: "Apa yang selama ini saya anggap biasa, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat berharga?" Pertanyaan itu bisa mengubah cara kita memandang hidup.

Orang Lain Bukan Cermin untuk Kita Merasa Lebih Baik

Ada satu hal yang menurut saya juga perlu dikritisi. Melihat kehidupan orang yang lebih sulit lalu merasa kasihan memang mudah. Bahkan merasa bersyukur karena hidup kita lebih baik juga mudah. Yang sulit adalah mengubah kesadaran itu menjadi tindakan.

Sebab kalau setiap kali melihat kesulitan orang lain kita hanya merasa beruntung, kita sebenarnya masih menjadikan mereka sebagai cermin untuk kepentingan diri sendiri. Saya lebih beruntung. Saya lebih baik. Saya tidak separah mereka.

Padahal mungkin mereka tidak hadir dalam hidup kita hanya untuk membuat kita merasa lebih baik. Mungkin mereka juga mengajarkan sesuatu, bahwa apa yang kita punya ternyata bisa dipakai untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Bukan Harus Menjadi Kaya Dulu

Kadang kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, kita harus menunggu punya banyak: punya uang lebih, punya jabatan, punya usaha besar, punya banyak waktu.

Padahal membantu tidak selalu membutuhkan kelebihan yang besar. Guru bisa berbagi ilmu. Orang yang pandai membaca Al-Qur'an bisa mengajari orang lain. Orang yang punya kendaraan bisa sesekali mengantar. Orang yang punya sedikit rezeki bisa berbagi sedikit. Bahkan seseorang yang hanya punya waktu beberapa menit bisa mendengarkan orang lain yang sedang membutuhkan teman bicara.

Mungkin persoalannya bukan kita tidak punya sesuatu untuk diberikan. Kita hanya terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya.

Maka, Lihatlah ke Bawah dengan Cara yang Berbeda

Melihat ke bawah bukan berarti kita harus merasa lebih tinggi. Justru sebaliknya. Kita sedang diingatkan bahwa hidup memberi kita posisi yang berbeda-beda. Hari ini kita mungkin sedang berada dalam keadaan yang lebih baik. Besok belum tentu.

Karena itu, ketika melihat seseorang yang sedang berada di bawah kita, jangan hanya berkata, "Syukurlah saya tidak seperti dia." Cobalah menambahkan satu pertanyaan: "Dengan apa yang saya punya sekarang, apa yang bisa saya lakukan untuknya?"

Pertanyaan kedua itulah yang mungkin membuat rasa syukur menjadi lebih hidup. Sebab syukur yang hanya berhenti di dada mungkin cukup untuk membuat kita tenang, tetapi syukur yang sampai ke tangan bisa membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan.

Dan mungkin, inilah cara lain memahami nasihat lama tentang melihat ke bawah. Bukan supaya kita merasa lebih tinggi, tetapi supaya kita tahu untuk siapa kita perlu terus bertumbuh.

Lalu, kalau hari ini kita merasa sudah cukup beruntung, satu pertanyaan sederhana mungkin layak dibawa pulang:

Apa yang sudah kita miliki hari ini yang sebenarnya bisa menjadi manfaat bagi orang lain?

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-36 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI