Kukira Tuhan Mencabut Keberkahan Waktu, Ternyata Begini Logikanya

Masih meneruskan tulisan yang kemarin, tentang waktu. Beberapa waktu lalu aku pernah merenung: jangan-jangan sekarang ini Tuhan sedang mencabut keberkahan waktu kita. Sebab rasanya aneh.

Orang-orang dahulu, dengan fasilitas yang jauh lebih terbatas, bisa mengerjakan begitu banyak hal. Menulis buku dengan tangan, bepergian tanpa kendaraan secepat sekarang, berkomunikasi tanpa pesan instan, mencari informasi tanpa mesin pencari. Semuanya membutuhkan waktu lebih panjang. Sekarang hampir semuanya dipercepat oleh teknologi.

Surat yang dahulu menunggu berhari-hari bisa sampai dalam hitungan detik. Dokumen bisa diketik, disalin, dikirim, bahkan diringkas oleh mesin. Belanja tidak perlu pergi ke pasar. Rapat tidak selalu mengharuskan perjalanan. Informasi apa pun bisa kita temukan dari benda kecil di genggaman. Secara logika, mestinya kita memiliki jauh lebih banyak waktu.

Tetapi mengapa justru sering merasa tidak sempat melakukan apa-apa? Hari terasa cepat habis, pekerjaan penting tertunda, buku yang ingin dibaca tidak kunjung selesai. Bahkan menonton film selama dua jam saja kadang terasa terlalu lama tanpa sesekali memeriksa ponsel.

Awalnya aku mengira mungkin memang keberkahan waktunya yang berkurang. Namun setelah aku renungkan lagi, jangan-jangan persoalannya bukan pada waktu. Mungkin perhatian kita yang semakin tercerai-berai.

Semakin Jarang Kita Benar-Benar Hadir

Kita sebenarnya masih mempunyai dua puluh empat jam yang sama. Hanya saja, semakin sedikit bagian dari dua puluh empat jam itu yang benar-benar kita jalani secara utuh.

Sedang bekerja, WhatsApp berbunyi. Membuka WhatsApp, melihat ada tautan. Membuka tautan, muncul notifikasi aplikasi lain. Lalu teringat sesuatu dan membuka mesin pencari. Beberapa menit kemudian kita sadar sudah berada jauh sekali dari pekerjaan yang tadi sebenarnya sedang dilakukan.

Kita memang tidak kehilangan waktu dalam jumlah besar sekaligus. Yang hilang adalah potongan-potongan kecil perhatian: lima menit di sini, tiga menit di sana, dua menit mengecek notifikasi, sepuluh menit melihat sesuatu yang awalnya tidak sedang kita cari.

Masalahnya, setelah perhatian terputus, kita tidak selalu bisa langsung kembali ke kedalaman konsentrasi sebelumnya. Jadi yang terbuang bukan hanya menitnya. Fokus yang sudah dibangun ikut runtuh.

Paradoks Kehidupan Modern

Di sinilah paradoks kehidupan modern terasa menarik. Teknologi memang berhasil menghemat banyak waktu, tetapi pada saat yang sama, banyak teknologi juga dirancang untuk terus meminta perhatian kita.

Ada pesan baru, ada komentar baru, ada video berikutnya, ada berita terbaru, ada sesuatu yang katanya sedang ramai. Dan semuanya terasa seolah perlu diketahui sekarang.

Akhirnya waktu yang berhasil dihemat teknologi tidak selalu kembali kepada kita dalam bentuk waktu luang. Kadang ia justru segera diisi oleh distraksi baru.

Dahulu mungkin seseorang membutuhkan satu jam untuk sebuah pekerjaan. Sekarang teknologi membuatnya selesai dalam tiga puluh menit. Tetapi tiga puluh menit yang tersisa tidak otomatis digunakan untuk membaca, beristirahat, bercakap dengan keluarga, atau mengerjakan sesuatu yang penting. Bisa jadi habis begitu saja dalam guliran layar yang bahkan beberapa jam kemudian sudah tidak kita ingat isinya.

Pikiran yang Terbiasa Berpindah

Aku juga mulai menyadari sesuatu pada diri sendiri. Kadang bukan karena aku tidak punya waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Aku hanya tidak cukup lama tinggal bersama pekerjaan itu.

Baru beberapa menit mengerjakan sesuatu, muncul keinginan mengecek pesan. Ketika membaca sesuatu yang agak panjang, tangan seperti ingin mencari stimulus lain. Ketika ada jeda beberapa detik, refleks pertama adalah meraih ponsel. Seolah-olah pikiran kita mulai terbiasa berpindah sebelum sempat masuk lebih dalam.

Mungkin inilah sebabnya pekerjaan tertentu terasa semakin berat. Bukan karena pekerjaannya menjadi lebih sulit, tetapi karena kemampuan kita untuk memberikan perhatian yang panjang kepadanya mulai jarang dilatih.

Menulis membutuhkan ketekunan berada bersama satu gagasan. Membaca membutuhkan kesediaan tinggal bersama satu halaman. Mendengarkan orang lain membutuhkan kemampuan menahan keinginan untuk melihat hal lain. Berdoa pun membutuhkan kehadiran. Hampir semua hal yang bernilai membutuhkan perhatian yang tidak terburu-buru.

Mungkin Berkah Waktu Berhubungan dengan Kehadiran

Dari situ aku mulai melihat kembali renungan awal tadi. Mungkin terlalu cepat kalau aku mengatakan Tuhan mencabut keberkahan waktu. Jangan-jangan justru kita sendiri yang membuat waktu kehilangan keutuhannya.

Kita mempunyai satu jam, tetapi pikiran berada di lima tempat. Kita sedang bersama keluarga, tetapi perhatian berada di layar. Kita sedang bekerja, tetapi sebagian pikiran menunggu notifikasi. Kita sedang beristirahat, tetapi kepala masih berpindah-pindah dari satu informasi ke informasi berikutnya.

Secara fisik kita berada di satu tempat, tetapi perhatian kita tercerai ke mana-mana. Barangkali salah satu bentuk keberkahan waktu justru sederhana: mampu hadir penuh pada apa yang sedang kita jalani. Satu jam yang utuh mungkin jauh lebih bernilai daripada tiga jam yang terus terpotong.

Ini juga terasa berhubungan dengan persoalan energi yang sebelumnya aku renungkan. Distraksi bukan hanya mengambil waktu, ia mengambil energi mental. Setiap perpindahan perhatian membuat kita harus memulai lagi, mengingat lagi, dan membangun konsentrasi lagi.

Tidak heran jika pada akhir hari kita merasa sangat lelah, padahal ketika ditanya apa yang benar-benar sudah dikerjakan, jawabannya tidak sebanyak rasa lelah itu.

Menjaga Perhatian

Maka mungkin yang perlu kita jaga hari ini bukan hanya waktu. Kita juga perlu menjaga perhatian.

Tidak semua pesan harus dibuka saat itu juga. Tidak setiap waktu kosong harus diisi dengan layar. Tidak semua informasi perlu diketahui. Tidak setiap rasa bosan harus segera diobati dengan hiburan. Ada saatnya kita perlu membiarkan diri berada cukup lama dalam satu pekerjaan, satu percakapan, satu bacaan, bahkan satu keheningan.

Mungkin produktivitas bukan selalu soal bergerak lebih cepat. Kadang justru soal berhenti berpindah-pindah. Teknologi telah membuat banyak hal menjadi lebih cepat, tetapi keputusan untuk tetap tinggal pada satu hal masih menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Dan barangkali sebelum bertanya, "Mengapa sekarang waktu terasa semakin tidak cukup?" ada pertanyaan lain yang lebih layak kita ajukan:

Apakah memang waktunya yang semakin sempit, atau perhatian kita yang semakin sulit menetap?

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-35 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: generate AI