Kehidupan Punya Rekening, Namanya Tabungan Rasa
Tapi tepat di sepersekian detik itu, ada sesuatu dari dalam diri yang mendadak menahan jemariku. Napas kutarik dalam-dalam. Tombol klakson itu kubiarkan bergeming, tanganku mengendur, dan kubiarkan pengendara itu melesat menjauh. Rasa sesak akibat menahan amarah memang sempat mengganjal, tapi anehnya, ada rasa lega sesudahnya.
Auto-Debet dari Kehidupan
Peristiwa sepele di lampu merah tadi membawaku pada sebuah perenungan tentang bagaimana hidup ini bekerja. Aku punya imajinasi bahwa semesta ini punya semacam sistem perbankan rasa, yang neracanya sangat presisi. Rasa yang kukelola dengan baik itu menjadi tabungan, contohnya ketika emosi di jalan tadi. Ujungnya adalah setiap rezeki yang mampir, kemudahan urusan yang mendadak lancar, atau tubuh yang tetap sehat, bukan melulu datang secara kebetulan belaka. Di baliknya, ada kontribusi dari semua yang pernah kita tanam. Kita sedang menikmati pencairan saldo dari tabungan kebaikan yang pernah kita setor di masa lalu.
Nah, menariknya adalah saat kita terlalu serakah mengeruk keuntungan, menyakiti orang lain, atau merampas hak yang bukan milik kita, saldo rasa kita langsung berada di zona merah. Di titik itu, kehidupan punya cara unik untuk melakukan auto-debet secara paksa: ban motor sobek di tengah perjalanan, handphone jatuh dan layarnya retak pas lagi ada urusan penting, atau datang tagihan mendadak yang nominalnya setara dengan hak orang lain yang pernah kita tahan. Jadi, neraca kehidupan selalu menuntut keseimbangan. Seperti itu imajinasiku.
Setoran Tanpa Penonton
Selama ini, kita sering mengira bahwa menabung kebaikan itu melulu soal hal-hal yang kelihatan secara fisik, seperti mentransfer uang donasi, memberi makan kucing liar, atau menyumbang tenaga di lingkungan warga. Padahal, ada mata uang lain yang nilainya jauh lebih mahal dan langka: tabungan rasa.
Tabungan rasa adalah bentuk sedekah energi yang paling mendasar. Hal ini karena terjadi di ruang yang gelap gulita di dalam diri kita, tanpa penonton, dan nihil tepuk tangan. Ketika kamu punya seribu alasan dan amunisi untuk mempermalukan orang yang menzalimimu di depan umum tapi kamu memilih diam demi menjaga air mukanya, detik itu juga kamu sedang menyetor saldo dalam jumlah besar. Ketika kamu sebenarnya sanggup membalas perlakuan kasar seseorang dengan rasa sakit yang setimpal, tapi kamu memilih mengalah agar lingkaran kebencian terputus, itulah tabungan rasa.
Bahkan sesederhana menahan diri untuk tidak memamerkan pencapaianmu saat tahu kawan di sebelahmu baru saja kehilangan pekerjaan, itu adalah wujud kepedulian yang sebenarnya. Kamu memilih mengorbankan kepuasan egomu demi memberi ruang bagi orang lain agar bernafas.
Mencair di Saat yang Tepat
Saldo dari tabungan rasa inilah yang sering kali dicairkan semesta dalam wujud dividen yang tak terduga. Entah berbentuk reflek tangan saat menghindari insiden di jalan raya, birokrasi rumit yang tiba-tiba dipermudah oleh orang yang tidak kita kenal, atau tidur malam yang begitu pulas tanpa dihantui rasa waswas sedikit pun.
Menahan diri dan mengalah bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah kesadaran untuk berani menolak menjadi perusak, sekaligus ikhtiar untuk terus mengisi saldo keselamatan bagi diri kita sendiri di masa depan.
Kapan momen terakhir kali kamu memilih menahan amarah dan menolak membalas, yang anehnya justru membuatmu merasa lebih damai dan lapang? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya.
