Batuk yang Mengajariku soal Prasangka

Akhir-akhir ini, rutinitas malamku sering kali terganggu oleh batuk kering yang rasanya tak kunjung reda. Sudah sepekan penuh dadaku terasa sesak dan tenggorokan selalu gatal. Setelah kuingat-ingat kembali, siksaan fisik ini berawal dari sebuah ruangan tertutup yang penuh dengan kepulan asap rokok. Berada dalam kondisi tubuh yang sangat tidak nyaman dan membatasi ruang gerak ini, ingatanku tiba-tiba melayang pada sosok seorang teman kerja di masa lalu.

Teman yang Kuanggap Terlalu Rewel

Dulu, aku selalu memandang teman yang satu ini sebagai sosok yang berlebihan dan sedikit aneh. Setiap kali ada orang yang mulai menyalakan rokok di sekitarnya, ia pasti langsung memalingkan wajah, menutup hidung, dan bergegas mencari udara segar. Puncaknya, saat kami sedang mengadakan sebuah rapat penting dan salah satu peserta dengan santainya mengepulkan asap rokok, ia tanpa ragu langsung meminta izin untuk keluar ruangan. Waktu itu, aku diam-diam sering membatin dan menghakiminya. Rasanya ia terlalu kaku dan rewel dalam menghadapi hal yang menurutku biasa-biasa saja.

Ternyata Aku yang Salah

Kini, keadaan seolah memutarbalikkan segalanya. Aku terpaksa menelan mentah-mentah prasangka masa laluku sendiri. Setelah merasakan langsung bagaimana siksaan batuk tak berkesudahan akibat terpapar asap rokok di ruangan yang pengap, mataku akhirnya terbuka lebar. Ternyata, tindakan temanku saat rapat waktu itu sama sekali bukan wujud keangkuhan atau sikap caper belaka. Ia hanya sedang melindungi batas toleransi tubuhnya sendiri dari sesuatu yang benar-benar bisa merusak kesehatan dan kenyamanan napasnya.

Paham Setelah Merasakan Sendiri

Pengalaman tidak mengenakkan minggu ini menampar egoku dengan cukup keras. Terkadang, kamu dan aku begitu mudah melabeli seseorang sebagai orang yang aneh hanya karena kita belum pernah berada di posisi mereka atau belum merasakan dampaknya secara langsung. Pelajaran terbesar yang kudapatkan dari dada yang sesak ini adalah bahwa empati sering kali baru benar-benar tumbuh saat kita merasakan kepedihan yang serupa. Di dalam hati, aku mengirimkan sebuah permintaan maaf yang tertunda untuk temanku itu.

Apakah kamu pernah punya pengalaman salah menilai sikap seseorang, lalu berbalik memahaminya setelah mengalami hal yang sama? Ceritakan di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 
_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-16 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay Sumber 
gambar: AI generation