Ransel Tak Kasat Mata: Mengapa Sebuah Teguran Bisa Terasa Sangat Menyakitkan?

Bayangkan ada dua guru yang dipanggil ke ruang kepala sekolah. Mereka ditegur soal RPP yang belum juga rampung meski tenggat sudah lewat. Kepala sekolah bicara lugas dan langsung ke inti. Dua guru yang menerima teguran persis sama bisa bereaksi sangat berbeda. Guru pertama mengangguk santai dan segera mencatat poin perbaikan, sementara guru kedua kembali dengan dada sesak, menahan tangis, dan langsung mengecap kepala sekolahnya sebagai orang yng tidak berperikemanusiaan.

Membawa Ransel Masa Lalu ke Tempat Kerja

Kenapa reaksi dua orang bisa sekontras itu? Ternyata, respons seseorang banyak dipengaruhi oleh "ransel berat" tak kasat mata yang selalu dibawa ke mana pun, termasuk ke tempat kerja, ke sekolah. Isinya adalah tumpukan pengalaman yang belum tuntas.

Bisa jadi, guru kedua pernah punya pengalaman pahit dengan kepala sekolah di tempat mengajarnya dulu. Ditegur di depan rekan-rekan guru lain saat rapat, disindir soal kompetensi tanpa ruang untuk menjelaskan, atau dievaluasi dengan cara yang terasa merendahkan. Luka semacam itu tidak benar-benar hilang begitu ganti kepala sekolah, ataupun ketika ia pindah sekolah. Luka itu hanya tersimpan rapi di dalam ransel, menunggu dipicu lagi.

Luka yang Tersentuh

Pada cerita di awal tadi, sebenarnya cara bicara kepala sekolah yang sekarang itu netral saja, sekadar gaya kepemimpinannya saja yang tegas. Yang memberi warna adalah respons guru itu sendiri. Bagi guru yang ranselnya kosong dari luka semacam itu, teguran tegas hanyalah arahan biasa untuk memperbaiki kinerja.

Tapi bagi guru yang dulu pernah dipermalukan oleh kepala sekolah lama, teguran hari ini langsung terasa seperti pengulangan pengalaman buruk itu. Ia cepat membatin bahwa kepala sekolahnya sekarang juga akan bersikap sama, kepala sekolahnya toksik, padahal sering kali itu hanya luka lama yang kebetulan tersentuh oleh situasi yang mirip.

Move on, dan Menjadi Dewasa

Kalau tidak segera disadari, beban masa lalu ini gampang dijadikan alasan untuk menutup diri atau bersikap defensif di lingkungan sekolah yang baru, dan orang akan terus-menerus merasa jadi korban.

Kuncinya adalh kesadaran diri. Kita perlu berhenti sejenak, mengenali emosi apa yang sebenarnya sedang terpantik, lalu memisahkan bayang-bayang kepala sekolah lama dari kepala sekolah yang ada di depan kita sekarang. Move on lah istilahnya. So, memulihkan luka batin adalah tanggung jawab kita sendiri sebagai pendidik yang dewasa, bukan tanggung jawab kepala sekolah atau rekan sejawat.

Kalau kamu sendiri, apa pernah merasa sangat sedih saat ditegur atasan di tempat kerja sekarang? lalu sadar kalau itu sebenarnya perasaanmu itu dipicu pengalaman lama dengan atasan sebelumnya? Ceritakan di kolom komentar, ya.


Salam,
Agus Tri Yuniawan

_______

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81.

Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-6 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay

Sumber gambar: AI generation