Katanya Cinta Pertama, Tapi Kok Bikin Nenek Menangis?
Di dunia parenting, ada satu quote legendaris yang sering banget seliweran di timeline media sosial kita: "Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya."
Kalimatnya syahdu banget, kan? Bikin kita para bapak-bapak langsung ngerasa punya tanggung jawab besar buat jadi sosok pahlawan tanpa jubah di mata anak gadis kita. Tapi, belakangan ini aku lagi merenung keras gara-gara melihat realita di sekitarku yang bikin dada agak nyesek.
Aku kenal seseorang. Saat ini dia sudah berkeluarga dan punya anak perempuan yang masih balita. Kalau dilihat sekilas, dia ini tipe bapak yang sayang banget sama anaknya. Rela jadi kuda-kudaan, ngomongnya dilembut-lembutin, pokoknya perfect lah di depan si kecil.
Masalahnya, ada sisi lain dari dirinya yang bikin aku kepikiran sampai sekarang. Di balik topeng "ayah idaman" itu, dia sering banget bersikap kurang ajar sama kedua orang tuanya sendiri. Ngebentak bapaknya udah jadi hal biasa. Bahkan, dia beberapa kali bikin ibunya menangis, dan ini bukan tangis haru, melainkan tangis pilu karena kelakuannya yang dirasa kelewat batas.
Dari situ, kepalaku mulai berisik sama satu pertanyaan: Kalau sosok ayahnya modelan begini, masih relevan nggak sih sebutan "cinta pertama" itu buat si anak?
Secara fisik, anak balita mungkin belum paham apa itu kata-kata kasar. Mereka nggak ngerti isi perdebatan orang dewasa. Tapi jangan salah, anak kecil itu layaknya spons. Mereka punya "radar" emosional yang jauh lebih peka dari kita. Mereka nyerap energi, raut wajah, dan intonasi suara di dalam rumah.
Lalu, apa jadinya kalau seorang anak perempuan melihat bapaknya (sosok pahlawannya) ternyata biasa saja saat membentak kakeknya atau membuat neneknya menangis?
Di sinilah letak bahayanya. Tanpa disadari, si ayah sedang menanamkan sebuah standar cinta yang rusak di kepala anak perempuannya.
Pepatah "cinta pertama" itu sebenarnya punya makna yang jauh lebih berat. Ayah adalah blueprint atau standar utama bagaimana kelak seorang anak perempuan berharap diperlakukan oleh laki-laki. Kalau sedari kecil anak ini merekam bahwa laki-laki itu bolh kasar, boleh emosional, dan wajar membentak perempuan yang lebih tua, maka alam bawah sadarnya akan menganggap perilaku toxic itu sebagai hal yang lumrah.
Besok lusa pas anak ini tumbuh dewasa, jangan kaget kalau dia malah jatuh cinta sama laki-laki temperamental. Sangat mungkin dia terjebak dalam hubungan yang abusif, dan mengira bahwa rasa sakit yang dia terima itu adalah bentuk cinta. Kenapa? Karena begitulah "cinta" yang dia lihat dari bapaknya dulu. Mengerikan sekali dampaknya, kan?
Kadang kita sebagai laki-laki suka lupa. Kita mikir kalau jadi bapak yang baik itu cukup dengan ngajak anak main, nurutin kemauannya, atau beliin mainan mahal. Padahal, pelajaran cinta paling fundamental yang bisa diberikan seorang ayah kepada anak perempuannya adalah memberi teladan bagaimana cara menghargai orang lain, terutama menghargai seorang ibu.
Menjadi cinta pertama itu ternyata bukan cuma soal seberapa lembut kita menimang anak kita sendiri. Lebih dari itu, ini soal seberapa pantas kita menunjukkan kepadanya wujud asli seorang laki-laki sejati. Dan laki-laki sejati, rasanya nggak akan pernah membiarkan air mata ibunya jatuh karena arogansinya.
Gimana menurut teman-teman? Setuju nggak kalau karakter asli seseorang itu sebenarnya dilihat dari cara dia memperlakukan orang tuanya? Yuk, sharing di kolom komentar!
Salam,
Agus Tri Yuniawan
