Interstellar, Relativitas Waktu, dan Rahasia di Balik Doa Tahiyat Akhir

Sobat, kali ini aku nulis agak serius. Disklaimer dulu, ini menurut keyakinanku pribadi, ya. Bagi kita yang beragama Islam, gerakan duduk tahiyat akhir sebelum salam adalah momen yang sangat familiar. Di titik itu, sebelum mengakhiri salat, kita disunahkan membaca sebuah doa perlindungan yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Doanya berbunyi: "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam, wa min 'adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min syarri fitnatil masihid Dajjal."

Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Dajjal.

Sehari minimal lima kali kita merapal doa ini, seringnya secara autopilot. Tapi, pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan berpikir logis: Kenapa Nabi menyuruh kita meminta perlindungan dari hal-hal yang rasanya masih sangat, sangat jauh di masa depan?

Logika manusiawi kita sering kali berbisik, "Neraka dan kiamat itu masih ribuan atau jutaan tahun lagi. Dajjal itu urusan manusia akhir zaman nanti. Kenapa aku harus setakut itu sekarang? Aku lebih butuh doa biar besok angsuran hutangku lunas dan kerjaan lancar."

Kita merasa jarak antara hari ini dengan kiamat atau alam kubur itu membentang sangat panjang. Namun, di sinilah letak jebakan psikologis terbesar umat manusia: Kita mengira bahwa waktu itu absolut. Padahal, waktu itu relatif.

Belajar dari Planet Miller di Film Interstellar

Kalau kamu pernah menonton film sci-fi mahakarya Christopher Nolan berjudul Interstellar, kamu pasti ingat adegan ikonik di Planet Miller. Di planet yang dikelilingi lautan luas dan ombak raksasa itu, gravitasi lubang hitam (Gargantua) bekerja sangat ekstrem hingga membengkokkan ruang dan waktu.

Efeknya? Satu jam yang dihabiskan tokoh utama di planet itu, sama persis dengan 7 tahun waktu yang berjalan di Bumi. Ketika karakter Cooper kembali ke pesawat induknya setelah beberapa jam terjebak di Planet Miller, ia mendapati rekannya yang menunggu di pesawat sudah menua 23 tahun! Padahal bagi Cooper, ia baru pergi sebentar saja.

Itulah visualisasi paling brilian dari Teori Relativitas Einstein. Waktu bukanlah garis lurus yang berjalan sama di semua tempat. Waktu itu bisa melar, bisa menyusut, tergantung di mana kita berada dan seberapa kuat gravitasi di sekitar kita.

Laporan Relativitas Waktu dari Al-Qur'an (1.400 Tahun Lalu)

Jauh sebelum Einstein merumuskan teori relativitas, dan berabad-abad sebelum Christopher Nolan membuat Interstellar, Al-Qur'an sudah lebih dulu memberikan "bocoran" mengejutkan tentang betapa relatifnya waktu di hadapan dimensi ketuhanan.

Dalam Surah An-Nazi'at ayat 46, Allah memberikan gambaran tentang bagaimana perasaan manusia ketika kelak dibangkitkan pada hari kiamat:

"Pada hari mereka melihat hari Kiamat itu, (karena suasananya hebat), mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari."

Bayangkan. Seseorang mungkin hidup di dunia ini selama 70 tahun, atau bahkan Firaun yang berkuasa ratusan tahun. Tapi begitu mereka melangkah keluar dari dimensi ruang-waktu dunia ini (meninggal dunia), 70 tahun yang terasa lama, berdarah-darah, dan penuh drama itu menyusut drastis. Di dimensi akhirat nanti, memori 70 tahun di bumi itu rasanya tak lebih dari sekadar numpang ngopi di sore hari. Sangat singkat. Sangat sepele.

Rahasia Doa Tahiyat Akhir

Nah, sekarang mari kita kembali ke pertanyaan awal: Kenapa kita disuruh berlindung dari azab kubur, kiamat, dan Dajjal yang katanya masih lama itu?

Jawabannya akan membuat bulu kuduk kita merinding: Karena sesungguhnya, kejadian-kejadian itu jaraknya sangat dekat dengan kita.

Ketika seseorang meninggal dunia, ia otomatis keluar dari hukum waktu bumi. Matanya tertutup hari ini, dan saat ia membuka mata di alam barzakh (alam kubur), ia sudah berada di dimensi waktu yang berbeda. Jika hari kiamat baru terjadi 10.000 tahun lagi dalam hitungan kalender bumi, bagi orang yang ada di alam kubur, waktu tunggu puluhan ribu tahun itu mungkin hanya terasa seperti tidur siang sebentar.

Tiba-tiba, ia sudah bangun berhadapan dengan pengadilan Tuhan. Tiba-tiba, neraka Jahanam sudah ada di pelupuk mata.

Ketakutan terbesar dari doa tahiyat akhir adalah kesadaran kosmik ini. Fitnah kehidupan, siksa kubur, dan huru-hara akhir zaman bukanlah dongeng masa depan. Dalam skala waktu semesta, hari pembalasan itu seolah-olah terjadi "besok pagi". Jarak antara tarikan napas kita hari ini dengan azab kubur hanyalah setipis kematian. Dan jarak menuju hari kiamat hanyalah sepanjang kedipan mata dari sudut pandang akhirat.

Maka, mulai hari ini, saat kita duduk di rakaat terakhir dan membaca "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabi jahannam...", jangan lagi membacanya dengan terburu-buru.

Hayati maknanya dalam-dalam. Sadarilah bahwa kita sedang memohon keselamatan dari sebuah ancaman nyata yang jaraknya tidak diukur dengan ribuan tahun, melainkan diukur dengan kapan detak jantung kita berhenti.

Dan jika detak jantung itu berhenti malam ini, maka masa depan yang kita kira masih sangat jauh itu, tiba-tiba sudah hadir di hadapan kita.

Salam,
Agus Tri Yuniawan