Cara Pandangku Tentang Uang

Pernah nggak sih, pas lagi nongkrong ngopi sama teman, tiba-tiba ada yang nyeletuk begini:

"Coba aja saldo gue miliaran, gue pasti bahagia tiap hari, nggak bakal pusing mikirin angsuran." Atau mungkin obrolan versi yang lebih mulia: "Nanti kalau gue udah sukses dan kaya raya, gue bakal rajin sedekah dan bangun panti asuhan."

Dulu, aku sering banget mengangguk setuju kalau dengar kalimat semacam itu. Logikanya kan masuk akal, ya? Kalau uangnya banyak, pasti hidup lebih tenang, bisa beli apa aja, dan otomatis gampang buat berbagi. Tapi seiring berjalannya waktu, melihat realita, dan berbagai macam karakter orang di sekitarku, aku mulai sadar satu hal yang lumayan 'mak jleb'.

Ternyata, uang itu nggak pernah mengubah karakter siapa-siapa. Uang itu sebenarnya cuma pelipat ganda (multiplier). Uang bertugas seperti kaca pembesar yang memperjelas sifat asli yang sudah ada di dalam diri kita.

Coba kita perhatikan baik-baik.

Kalau di saat gajimu masih pas-pasan kamu sudah bisa tersenyum bahagia cuma gara-gara makan pecel lele bareng anak istri di lesehan, maka saat kelak penghasilanmu puluhan juta, kamu bakal lebih bahagia.

Kalau di saat isi dompetmu cuma sisa lima puluh ribu tapi kamu masih rela menyisihkan lima ribu buat sedekah, percayalah, saat kamu jadi miliarder nanti, kamu akan menjadi sosok yang luar biasa dermawan. Sifat dasar "bahagia" dan "suka memberi" itu sudah tertanam, dan uang yang banyak sekadar ngasih kamu "bahan bakar" lebih untuk meluapkannya.

Tapi, hukum pelipat ganda ini juga berlaku sebaliknya. Ini bagian yang lumayan mengerikan.

Kalau orang di saat uangnya sedikit bawaannya ngeluh, pelit pol, gampang marah, dan merasa dunia ini nggak adil, jangan pernah ngimpi dia bakal tiba-tiba jadi orang bijak pas ketiban rejeki nomplok. Dia akan selalu aja nemu hal yang bisa dikeluhkan, alias ada aja yang bikin enggak bahagia.

Saat orang yang pelit dan bermental "kurang" ini ujug-ujug punya uang banyak, dia justru akan jadi makin pelit, makin perhitungan, dan makin arogan. Kenapa? Karena rasa takut kehilangan dan egoisme itu memang sudah jadi karakter dasarnya. Bedanya, sekarang dia punya power dan uang untuk nutupin keburukannya, atau menindas orang lain tanpa rasa takut. Uang yang banyak justru membuat sifat jahatnya makin menjadi-jadi.

Uang itu ibarat pupuk. Kalau yang kamu siram pakai pupuk adalah bibit bunga mawar, ya tumbuhnya bakal jadi taman bunga yang indah. Tapi kalau yang kamu siram itu bibit rumput liar berduri, ya siap-siap aja kebunmu bakal dipenuhi duri yang makin tajam dan rimbun.

Jadi, buat kita-kita yang sekarang mungkin saldonya masih sering bikin insecure di akhir bulan, mari kita ubah cara pandangnya. Berhenti bersembunyi di balik kalimat "aku akan bahagia kalau uangku sudah banyak" atau "aku akan dermawan kalau aku udah kaya".

Bahagia, sabar, dan dermawan itu bukan fasilitas yang otomatis terbuka (unlocked) pas kita kaya. Ketiga hal itu adalah kata kerja yang harus dilatih dari sekarang, justru di saat kita lagi nggak punya apa-apa. Kalau pas lagi susah aja kita gagal jadi orang baik, gimana ceritanya kita bisa lulus pas dikasih ujian harta yang berlimpah?

Yuk, belajar bahagia dari sekarang. Jangan nunggu kaya, keburu tua nanti.

Gimana menurut teman-teman? Punya cerita atau pengalaman melihat "efek pelipat ganda" dari uang di lingkungan sekitar kalian? Mari ngobrol di kolom komentar!

Salam,
Agus Tri Yuniawan