Ketika Kata "Syukur" Menjadi Alat Bungkam
Pemicunya sederhana: banyak pekerja yang merasa haknya dikebiri, namun alih-alih mendapatkan solusi profesional, mereka justru dibungkam dengan dalil agama. Saat mereka menuntut keadilan, mereka dipaksa menelan pil pahit berlabel "Bersyukur". Saya telah menyelami ratusan komentar warganet terkait isu ini, dan percayalah, isinya adalah ungkapan hati.
Pernahkah kamu berada dalam situasi membingungkan seperti ini? Kamu sudah bekerja keras, tapi gajinya tak masuk akal. Mari kita lihat faktanya. Ada seorang mekanik yang curhat sudah bekerja 9 tahun di bengkel resmi, namun gajinya tak pernah menyentuh UMR, apalagi bonus. Mirisnya, setiap briefing, atasan selalu menyematkan kata "bersyukur". Ada pula pelamar kerja di NGO Internasional yang kaget saat pewawancara bilang sebagian gajinya berupa "pahala dari Allah". Belum lagi kisah guru yang diminta maklum karena rezeki "bukan cuma uang", padahal pemilik yayasannya bergaya hidup mewah dengan kendaraan branded.
Jika kalimat "Kamu harus bersyukur masih punya kerjaan" atau "Jangan meludahi sumur tempatmu minum" sering kamu dengar saat menagih hak, waspadalah. Itu bukan nasihat bijak. Menurut warganet, itu adalah intrik teologis yang digunakan manusia hipokrit untuk menyelubungi kebatilan. Di tangan atasan yang manipulatif, kata "Syukur" berubah fungsi. Sejatinya, syukur adalah obat penenang hati agar kita tidak tamak. Namun, kini ia berubah menjadi "manipulasi moral" agar karyawan merasa bersalah atau dianggap kurang iman jika menuntut haknya.
Di titik inilah kita perlu meluruskan logika yang bengkok dengan kepala dingin. Kita harus sadar bahwa hidup ini punya dua jalur yang berbeda namun beriringan: Jalur Ibadah dan Jalur Muamalah. Seorang pemuka agama menegaskan dengan indah: Syukur adalah urusan privasi hati kita kepada Tuhan, sedangkan menuntut gaji adalah urusan muamalah antar-manusia. Keduanya tidak saling menghalangi. Artinya, kamu bisa tetap menjadi hamba yang bersyukur kepada Tuhan, sekaligus menjadi karyawan yang kritis kepada atasan. Menuntut upah yang layak itu bukan tanda kurang iman, melainkan bentuk mencegah kezaliman (amar ma’ruf nahi munkar).
Namun, tulisan ini tidak akan adil jika hanya menyorot satu sisi. Maka, izinkan saya memberikan "oleh-oleh" pertama untuk kita, para pekerja.
Ingatlah, Sobat, bekerja itu adalah pilihan. Hubungan kerja adalah kesepakatan dua belah pihak. Saat kontrak disodorkan, telitilah angkanya. Jika sesuai dengan keringat yang akan kamu keluarkan, ambil dan kerjakan dengan amanah. Tapi jika tidak sesuai, tolaklah dengan baik. Jangan tanda tangan kontrak hanya karena kepepet, lalu mengeluh belakangan seolah-olah kamu dijebak. Kita bukan pohon yang akarnya menancap mati di satu tempat; kita punya kaki untuk melangkah pergi.
Seperti kata warganet yang bijak, "perlawanan" terbaik bukan hanya protes, tapi keluar mencari pekerjaan lain yang memberikan gaji lebih baik. Jika kamu bertemu pengusaha "nakal" yang bertameng ayat agama, segera cari tempat lain yang bisa menghargai jerih payahmu dengan pantas. Itu adalah bentuk harga diri.
Terakhir, ini adalah "oleh-oleh" penutup untuk para atasan yang mengaku beriman. Kami tahu memimpin itu berat, tapi tolong camkan satu hal: Jangan pernah gunakan nama Tuhan sebagai tameng untuk menutupi ketidakmampuan Anda menyejahterakan bawahan.
Agama hadir untuk membebaskan manusia, bukan melanggengkan eksploitasi. Ketika Anda mengatakan "gajinya kecil tapi pahalanya besar" sementara Anda sendiri menikmati kemewahan, Anda sedang melakukan manipulasi spiritual. Pastikan Anda sudah menunaikan kewajiban Anda (memberi upah layak) sebelum menuntut kewajiban mereka (bersyukur). Jangan terbalik. Bayarlah keringat mereka dengan harga yang pantas di dunia, dan biarkan urusan pahala menjadi rahasia indah Tuhan di akhirat nanti.
Salam,
Agus Tri Yuniawan



