Kamu Tuh Cerdas Lho, Tapi Kenapa Tak Jadi Apa-apa?
Tapi, bagaimana jika jawaban yang paling jujur, yang paling sunyi di dalam hati, bukanlah sebuah sanggahan? Bagaimana jika jawaban yang paling nyata adalah sebuah pengakuan:
"Aku mau. Sebenarnya aku juga mau menjadi 'apa-apa' atau 'siapa-siapa' seperti yang kamu bayangkan. Hanya saja... aku belum tahu caranya."
Dan itu tidak mengapa. Sangat tidak mengapa.
Mari kita lihat ini dari sudut pandang yang berbeda. Bayangkan, kecerdasan dan bakatmu itu seperti sebuah pembangkit listrik tenaga air yang hebat, tersembunyi di sebuah lembah yang subur. Ia mampu menghasilkan energi yang luar biasa besar dan kuat. Potensi di dalam dirimu itu nyata. Kecerdasanmu itu memang benar adanya.
Namun, untuk membuat energi itu bisa menerangi kota, menyalakan lampu-lampu di gedung tinggi, dan dihargai oleh dunia, ia butuh sesuatu yang lain. Ia butuh jaringan kabel, tiang-tiang pancang, dan gardu distribusi. Ia butuh sebuah sistem untuk menyalurkan energi hebat itu dari lembah yang sunyi ke tengah keramaian.
Keahlian membangun "jaringan distribusi" inilah yang seringkali merupakan sebuah kecerdasan yang sama sekali berbeda. Ini adalah keahlian untuk berkomunikasi, untuk menjual, untuk membangun relasi, untuk memasarkan diri, dan untuk mengubah potensi menjadi sesuatu yang bernilai di mata orang lain.
Masalahnya, seringkali keahlian sebagai "pembuat energi" tidak datang dalam satu paket dengan keahlian sebagai "pembangun jaringan". Kamu mungkin adalah seorang seniman jenius yang tidak pandai bernegosiasi. Seorang pemikir brilian yang tidak cakap dalam membangun relasi. Seorang penulis hebat yang tidak tahu cara memasarkan tulisannya.
Jadi, ini bukanlah soal kegagalan atau kurangnya kecerdasan. Ini adalah soal perjalananmu yang sudah menguasai cara menghasilkan energi, dan kini sedang terbata-bata belajar cara menyalurkannya. Ini adalah tentang kamu yang jadi 'guru' di satu bidang, dan masih menjadi 'murid' di bidang yang lain.
Maka, jika suatu saat pertanyaan itu datang lagi padamu, kamu tidak perlu merasa kecil hati. Kamu tidak perlu membangun tembok pertahanan dengan argumen yang rumit. Mungkin jawaban yang paling jujur yang bisa kamu berikan—baik untuk yang bertanya maupun untuk dirimu sendiri—adalah:
"Terima kasih sudah melihat potensiku. Sejujurnya, aku juga ingin sampai ke sana. Pembangkit listrikku sudah siap, energinya besar. Saat ini, aku hanya sedang belajar... belajar cara membangun jaringannya. Doakan aku, ya."
Karena "belum sampai" bukan berarti "berhenti berjalan". Itu hanya berarti perjalanannya masih berlangsung. Dan setiap perjalanan butuh waktu dan prosesnya sendiri, sobat. Semangat ya.
Salam,
Agus Tri Yuniawan