Cara Tuhan Ngomong Sama Kamu
Lalu, bagaimana dengan kita? Kita yang setiap hari masih bergelut dengan amarah, iri hati, dan keluh kesah. Lidah kita terlalu kelu, dan hati kita mungkin terlalu berkarat untuk sebuah percakapan agung semacam itu.
Tapi, justru karena itulah Tuhan tidak pernah diam. Karena Dia tahu kita tak akan mampu menerima sapaan-Nya secara langsung, Dia memilih untuk "ngomong" kepada kita dengan cara yang berbeda. Bukan melalui satu percakapan, melainkan melalui selembar "surat cinta" yang sangat panjang, yang kalimat-kalimatnya Dia tulis setiap hari dalam kejadian di sekitar kita.
Aku belajar membaca surat itu perlahan-lahan.
Ada kalanya saat hatiku terasa gundah tanpa sebab yang jelas, aku menemukan sebaris kalimat-Nya. Tiba-tiba saja di jalan, mataku tertuju pada seseorang yang sedang kesusahan. Hatiku tergerak untuk menolong. Dan setelahnya, ajaib, semua gundah di hati sirna, digantikan oleh ketenangan. Itulah cara-Nya berkata, "Aku tahu hatimu resah. Temukan ketenanganmu dengan menjadi sumber ketenangan bagi hamba-Ku yang lain."
Di hari lain, saat amarah sedang membakar dada, tiba-tiba muncul notifikasi di ponsel. Sebuah foto dari orang yang sangat kita cintai, ibu, pasangan, atau anak kita. Seketika, saat menatap wajahnya, api amarah itu mereda. Itulah kalimat-Nya yang lain, yang berbisik, "Ingatlah cinta, karena ia adalah percikan dari sifat-Ku yang akan memadamkan apimu."
Bahkan saat rasa cemburu dan iri membuat dunia terasa sempit, aku menemukan lagi tulisan tangan-Nya. Saat sedang iseng membuka buku, mataku jatuh pada sebuah ayat atau kutipan tentang betapa luasnya karunia Tuhan, dan bahwa setiap jiwa sudah memiliki takarannya masing-masing. Itulah cara-Nya menenangkan, "Jangan sempitkan hatimu dengan memandang milik orang lain. Lihatlah, karunia-Ku yang luas ini cukup untuk semua, dan apa yang Kutetapkan untukmu tak akan pernah tertukar."
Tuhan tahu siapa kita. Dia tahu kita ini lemah. Bahwa kita butuh untuk terus ditolong, butuh untuk selalu diingatkan dengan cara yang paling lembut. Dia tidak akan menyapa kita dengan suara menggelegar yang mungkin tak sanggup kita terima.
Dia memilih "ngomong" lewat ketenangan setelah berbuat baik, lewat kehangatan saat mengingat orang yang kita sayang, dan lewat kebijaksanaan yang datang di saat yang tepat.