Tukang Bosan

by - Mei 22, 2020

Alhamdulillah puasa Ramadhan ini telah hampir kita tuntaskan. Ada bermacam-macam kesan yang membekas pada puasa tahun ini. Sebagaimana yang dilakukan sebagian besar diantara kita ketika bulan suci hampir berakhir, maka biasanya memposting "status sedih" ketika berpisah dengannya, ehehehe...

Tetapi memang hal tersebut adalah naluri alamiah, bahkan ada yang mengutip jika orang tahu besarnya pahala di Bulan Ramadhan, maka ia akan berharap setahun itu Ramadhan semua. Benarkah seperti itu?

Sebagaimana kita tahu, ada ibadah yang tipe waktunya harian, pekanan, bulanan, dan tahunan, baik yang wajib maupun yang selain wajib. Semua sudah diatur oleh Allah dengan berpedoman pada prinsip kemampuan manusia dalam menjalankannya. Puasa Ramadhan hanya dilakukan selama sebulan dari 12 bulan setiap tahunnya. Durasi yang jelas ini dapat menghindarkan manusia dari rasa bosan. Andaikan sepanjang tahun manusia diwajibkan puasa, sangat mungkin ia akan jenuh. Wong kita disuruh #dirumahaja yang baru sekitar dua bulan ini aja bosannya bukan main, iya nggak? Bahkan di laman berita, aturan PSBB yang baru berapa hari saja sudah pada dilanggar.

Manusia adalah tukang bosan, jika dihadapkan pada situasi yang sama secara terus menerus. Allah membuat sekian macam variasi dalam ibadah barangkali untuk disesuaikan dengan sifat manusia ini. Secara fitrah manusia ingin selalu beribadah, berbuat baik, karena sejatinya dia adalah hamba. Namun di sisi lain ia memiliki kelemahan, tidak bisa seperti malaikat yang setiap saat terus menerus beribadah.

Maka dalam kalimat imajiner mungkin Allah berkata, "hambaku, bertaqwalah sesuai kemampuanmu. Shalat fardhu kuwajibkan setiap hari, cuma lima kali sehari, seharusnya 50x tapi sudah kudiskon jadi lima kali saja. Puasa Ramadhan sebulan saja dalam setahun. Kalau masih pengen nambah ya puasa Senin-Kamis, kalau bosan dan pengen ganti ya puasa pertengahan bulan tiga hari, kalau pas bosan nyunnah ya mokak nggak apa-apa. Perbuatan baik banyak, kasih makan orang, bantu tetanggamu, singkirkan paku di jalan, kalau kamu bosan, ya sudah tidur saja nggak apa-apa. dst..."

Sekali lagi, manusia itu mudah banget bosan. Seandainya manusia wajib puasa sepanjang tahun, akan sangat mungkin kewajiban tersebut ditinggalkan dengan berbagai macam alasan. Jika sudah demikian, maka ibadah akan dianggap sebagai beban. Jika ibadah dianggap beban, maka jika timbul suatu akibat jelek, maka yang disalahkan adalah agama. Gara-gara puasa terus aku jadi kurus, misalnya. Yang dulu dekat sama do'i, kelamaan jadi bosan, pengen diseriusin. Yang sudah diseriusin, akhirnya nikah, eh bosan juga. Yang sakit pengen sehat biar panjang umur. Yang sudah panjang umur, malah nanya "aku kok nggak mati-mati tho -_-". Kira-kira, di surga yang selama-lamanya nanti, manusia bosan nggak ya? wkwkwk...

Salam,
Agus Tri Yuniawan

Sumber gambar: taraf[dot]id

You May Also Like

0 komentar