BERGESERNYA PEMAHAMAN

Dulu aku mengira bahwa puasa Ramadhan itu ya poso mbedug/ setengah hari, atau poso ngasar/ sampe ashar, atau poso manuk/ kalau ada burung berkicau maka boleh berbuka, atau poso sapi/ kalau ada sapi melenguh maka boleh makan, dll. Ternyata yang benar puasa Ramadhan itu ya dari imsak sampe maghrib adanya.

Dulu setiap diminta menggambar pemandangan, aku selalu menggambar dua buah gunung dengan matahari terbit di antara keduanya, lalu ada sawahnya, dan ada jalan lurus menuju gunung, dan seterusnya. Namun ternyata keluarga yang rukun, anak-anak yang manut, orangtua yang pengertian, masyarakat yang guyup, itu juga merupakan pemandangan yang indah dipandang mata.

Dulu pun aku mengira bahwa sepeda motor bisa melaju karena daya dorong dari knalpot dibelakangnya. Aku membayangkan asap yang keluar dari knalpot layaknya roket yang mendorong pesawat ulang alik melesat ke angkasa. Namun ternyata knalpot itu sekedar untuk membuang gas sisa hasil pembakaran di dalam mesin saja.

Maka disini aku mengerti, bahwa hidup ini merupakan proses pembelajaran yang tiada henti. Tidak ada orang yang mengklaim bahwa dirinya paling pintar dan paling benar di dunia. Karena semua adalah insan pembelajar abadi.

Jadi ketika aku telah menemukan suatu nilai dalam hidup, kemudian ada saudaraku yang menjalani proses yang kurang pas, maka tak layak... sangat tidak layak, jika aku bertingkah bak koboi, lalu menembaknya begitu saja atas apa yang ia jalani. "Dor...dor...dor..., kamu salah, kamu sesat, kamu celaka", astaghfirullah...

Maka yang kulakukan adalah mengambil cermin dan berkata padanya, "hei, kau itu kenapa? bukankah kamu dulu juga begitu?", "hei, kamu itu masih TK, sikapmu kecut membuat cemberut, sedangkan diluar sana banyak sarjana yang membuat banyak orang tertawa, ambil buku dan belajar lagi sana!", "hei, kamu mencaci HP barumu tidak berguna, kamu mengeluh kartu im3, mentari, three, bahkan simpati busuk sinyalnya, padahal HP itu CDMA."

Akhirnya aku pun mengerti, manusia menjadi mulia karena mempunyai nalar dan rasa. Dan puncak dari pengalaman belajar adalah cinta. 

Cinta, menebarkan selamat di sekitarnya, terus memberi walau tak dilihat mata, sekalipun hanya sebatas doa. Itulah puzzle yang terus disusun hingga mendekati sempurna.

Wahai jiwa, kepingan-kepingan puzzle itu pasti sulit kau temukan, banyak rintangan bahkan kegagalan, kecuali dengan pertolongan Ar-Rahman. 

Tidurlah, istirahatkan dirimu, agar siap belajar lagi. Semoga Illahi Rabbi masih memberikanmu kesempatan, menghirup segarnya udara esok pagi.

Klaten, 15 Juni 2018

Salam,
Agus Tri Yuniawan