Ikhlas itu Sebenarnya Gampang Banget
Di tengah pinggang yang mulai terasa kaku dan bau comberan yng menusuk hidung, pandanganku tak sengaja tertumbuk ke seberang jalan. Di depan gardu ronda, ada dua orang warga yang cuma berdiri santai, bersedekap dada sambil merokok dan tertawa lepas tanpa terlihat niat untuk menyentuh sekop.
Detik itu juga, aku merasa kesal. Pikiran di kepala mulai melayangkan protes: kenapa harus aku yang kotor-kotoran kena lumpur begini sementara yang lain enak-enakan santai?
Niat awalku yang tadinya ingin ikut bergotong royong mendadak buyar. Yang tersisa cuma rasa lelah, pegal, dan perasaan jengkel karena merasa tenagaku diperas secara cuma-cuma.
Nasihat yang Susah Dipraktikkan
Kamu dan aku pasti sering mendengar nasihat orang-orang tua bahwa ikhlas itu harus bersih total, harus melupakan apa yang sudah dikorbankan, dan sama sekali tidak boleh ada hitung-hitungan di dalam kepala. Nasihat itu tentu baik, tapi jujur saja, dalam praktik nyata di lapangan tuntutan semacam itu sering kali terasa terlalu abstrak dan sulit dipraktikkan.
Sebagai manusia biasa, wajar kalau hati kita memberontak saat harus merelakan waktu, tenaga, atau uang tanpa ada kejelasan hasil. Otak kita secara alami menolak kerugian. Ketika kita merasa apa yang kita keluarkan lenyap begitu saja ditelan angin sementara orang lain tinggal memetik enaknya, rasa berat hati itu pasti muncul. Keraguan inilah yang membuat banyak orang menganggap ikhlas sebagai hal yang luar biasa susah.
Membalik Cara Pandang dengan Buku Tabungan
Kupikir, ada satu cara untuk mengakali rasa berat hati tersebut, yaitu dengan logika menabung.
Di tengah rasa pegal mencangkul lumpur selokan waktu itu, aku mencoba memutar alur pikiranku sendiri. Alih-alih meratapi tenaga yang terbuang, aku membayangkan diriku sedang berdiri di depan mesin setor tunai. Setiap ayunan cangkul, peluh yang menetes ke tanah, dan waktu libur yang kupakai untuk membersihkan lingkungan ini bukanlah sesuatu yang hilang menguap. Aku sedang menyetor saldo ke rekening hidupku sendiri.
Begitu kalimat itu kupasang di kepala, "tenang saja, ini aku lagi nabung kok", rasa kesal kepada orang-orang di seberang jalan tadi mendadak reda. Otakku tidak lagi merasa diperas karena aku yakin energiku sedang tersimpan rapi di tempat yang aman. Tindakan mencangkul yang tadinya terasa menyiksa berubah jadi jauh lebih enteng.
Menunggu Saldo Itu Cair
Kebaikan yang kita kerjakan setiap hari, mulai dari menahan diri untuk tidak membalas perlakuan buruk orang lain, membantu kawan yang kerepotan, sampai mengerjakan sisa tugas kantor yang dilempar rekan kerja, sebenarnya bekerja persis seperti tabungan berjangka. Semuanya tercatat dan terus bertambah.
Ketika saldo itu sudah mencukupi batas limitnya, kehidupan akan mencairkannya kembali kepada kita. Wujud pencairannya pun sering kali hadir lewat hal-hal yang sangat kita perlukan: motor yang luput dari paku tajam di jalanan malam, badan yang tetap bugar di tengah cuaca ekstrem, urusan administrasi yang dilancarkan, atau pikiran yang tetap tenang saat masalah datang bertubi-tubi.
Ikhlas ternyata tidak perlu serumit teori di buku-buku tebal. Kita tidak perlu memaksa diri berpura-pura suci tanpa perhitungan apa pun. Cukup yakinkan pikiranmu bahwa setiap kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini adalah setoran tabungan yang aman. Begitu hatimu merasa tenang bahwa hakmu tidak akan hangus, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya, coba deh.
Kapan terakhir kali kamu merasa sangat berat membantu orang lain, dan bagaimana caramu membuang rasa dongkol waktu itu? Tulis ceritamu di kolom komentar, ya.
