Bumi yang Kita Wariskan, Bukan Kita Habiskan

Masih untuk adik-adikku gen-z dan gen alpha. Coba bayangkan dirimu dua puluh tahun dari sekarang.

Kamu mungkin sudah bekerja, punya keluarga, atau tinggal di kota yang berbeda. Banyak hal dalam hidupmu sudah berubah. Teman-teman yang sekarang sering kamu temui mungkin tinggal berjauhan. Tempat-tempat yang akrab bagimu hari ini mungkin sudah punya wajah baru.

Lalu bayangkan seorang anak bertanya tentang masa kecilmu.

“Dulu, di tempat ini masih banyak pohon, ya?”

Atau mungkin, “Memangnya dulu orang-orang bisa main di luar rumah tanpa khawatir udaranya kotor?”

Kamu akan bercerita apa?

Pertanyaan itu mungkin terasa terlalu jauh. Dua puluh tahun memang panjang kalau dihitung dari hari ini. Tapi bagi seorang anak yang sedang tumbuh, waktu itu akan berlalu lebih cepat daripada yang kita kira. Kalian yang sekarang duduk di bangku sekolah kelak jadi orang dewasa yang mewarisi keadaan lingkungan kita. Kalian akan menerima apa yang berhasil kami jaga, dan juga persoalan yang kami biarkan berlarut-larut.

Itulah sebabnya aku merasa pembicaraan tentang lingkungan sebenarnya pembicaraan tentang masa depan manusia.

Kota Modern dengan Udara yang Memburuk?

Kita sering membicarakan masa depan dengan penuh semangat. Kita membayangkan teknologi yang makin maju, kota yang makin modern, pekerjaan yang makin beragam, dan hidup yang makin mudah. Semua itu memang layak diharapkan.

Tapi ada pertanyaan lain yang tidak boleh dilupakan, di lingkungan seperti apa kita akan menjalani semua kemajuan itu?

Apa gunanya kota yang makin modern kalau udara yang dihirup warganya makin buruk? Apa artinya kemajuan kalau air bersih makin sulit didapat? Bagaimana anak-anak bisa tumbuh dengan baik kalau ruang untuk bermain, belajar, dan mengenal alam terus berkurang?

Aku tidak sedang bilang pembangunan harus dihentikan. Manusia butuh rumah, sekolah, jalan, tempat kerja, dan berbagai fasilitas untuk hidup layak. Tapi pembangunan semestinya membuat hidup jadi lebih baik, termasuk bagi mereka yang akan hidup setelah kita. Karena itu, ada satu hal yang perlu kita pikirkan bersama: apakah semua yang kita lakukan hari ini sudah mempertimbangkan akibatnya bagi masa depan?

Keputusan Hari Ini, Akibat bagi Mereka Kelak

Waktu membaca berita kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, pertanyaan itu kembali muncul di kepalaku.

Hutan yang terbakar itu lebih dari sekadar kumpulan pohon yang hilang. Kebakaran bisa merusak habitat satwa, mengganggu kehidupan masyarakat, melepaskan emisi ke atmosfer, dan membuat warga harus menghadapi asap yang berbahaya bagi kesehatan. Kalau kebakaran terus berulang, persoalannya makin panjang. Pemulihan lingkungan butuh waktu, biaya, dan kerja keras, sementara anak-anak yang tinggal di sekitarnya tetap harus menjalani hidup mereka.

Mereka tidak memilih keadaan itu. Mereka tidak menentukan bagaimana lahan dikelola atau bagaimana pencegahan kebakaran dijalankan. Tapi mereka ikut menanggung akibat dari keputusan yang dibuat jauh sebelum mereka cukup dewasa untuk menyampaikan pendapat.

Bukankah itu yang seharusnya kita pikirkan setiap kali mengambil keputusan?

Apa Arti Mewariskan Bumi

Di sinilah makna mewariskan lingkungan jadi penting.

Mewariskan bumi tidak berarti menyerahkan alam dlam keadaan sempurna. Itu mungkin terlalu sulit dicapai. Selama manusia hidup dan berkegiatan, perubahan lingkungan akan terus terjadi. Yang perlu kita perjuangkan adalah supaya perubahan itu tidak menghilangkan kemampuan generasi berikutnya untuk hidup sehat dan layak.

Kita perlu menjaga hutan, memperbaiki pengelolaan sampah, memakai air dengan bijak, dan mengembangkan cara produksi yang lebih bertanggung jawab. Kita juga perlu memastikan masyarakat yang hidup dekat kawasan hutan dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup mereka.

Kalian Tidak Boleh Berjalan Sendirian

Pekerjaan sebesar itu jelas tidak bisa kalian selesaikan sendirian.

Adik-adikku, para Gen Z dan Gen Alpha, kalian boleh mulai dengan mengubah kebiasaan, membuat karya, membangun komunitas, dan menyampaikan gagasan. Sekolah bisa memberi ruang untuk belajar dan melakukan kegiatan lingkungan. Keluarga bisa menumbuhkan kebiasaan baik di rumah. Sementara itu, pemerintah dan dunia usaha perlu mengambil tanggung jawab sesuai kewenangan dan dampak kegiatan mereka.

Kalian tidak seharusnya terus-menerus diminta membersihkan persoalan yang tidak kalian ciptakan. Kalian perlu diberi kesempatan untuk bertanya, mengkritik, dan ikut menyusun solusi. Kalian juga perlu melihat contoh nyata dari kami, orang dewasa.

Akan sulit meminta kalian menjaga lingkungan kalau kalian melihat orang dewasa membuang sampah sembarangan. Akan sulit mengajak kalian menghargai hutan kalau kerusakan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Akan sulit membangun kepedulian kalau suara kalian cuma dianggap pelengkap kegiatan seremonial. Keteladanan membuat pesan jadi lebih berarti.

Bekal untuk Kalian yang Kelak Memimpin

Aku membayangkan suatu hari nanti, kalian yang sekarang masih belajar akan memimpin sekolah, menjalankan usaha, merancang kota, mengelola pertanian, dan membuat kebijakan. Keputusan kalian kelak dipengaruhi oleh apa yang kalian pelajari hari ini. Apakah kalian terbiasa memikirkan akibat jangka panjang? Apakah kalian paham bahwa alam punya batas? Apakah kalian belajar mendengarkan masyarakat yang paling terdampak kerusakan lingkungan?

Aku tidak bisa menentukan semua jawaban kalian di masa depan. Tapi kita bisa saling membantu menyiapkan bekal yang lebih baik.

Kenali alam, jangan cuma menghafal namanya. Luangkan waktu untuk mengamati sungai, merawat tanaman, memahami asal makanan, dan melihat bagaimana sampah dikelola. Ajak teman dan keluarga berdiskusi tentang berita lingkungan, periksa informasinya, dan sampaikan pendapat berdasarkan fakta.

Dengan begitu, kepedulian tidak berhenti jadi slogan yang diucapkan saat peringatan hari lingkungan hidup. Ia menjadi cara berpikir dan kebiasaan mengambil keputusan.

Cerita yang Ingin Kita Titipkan

Pada akhirnya, aku kembali memikirkan pertanyaan sederhana di awal tulisan ini.

Dua puluh tahun dari sekarang, ketika seorang anak bertanya tentang keadaan bumi di masa muda kita, cerita apa yang ingin kita sampaikan?

Mungkin kita akan bercerita tentang masa ketika banyak persoalan lingkungan mulai disadari. Tentang hutan yang terbakar, sungai yang tercemar, dan udara yang pernah membuat anak-anak harus belajar dari rumah. Tapi semoga cerita kita juga memuat hal lain: tentang orang-orang yang memilih memperbaiki keadaan, tentang masyarakat yang bekerja sama menjaga lingkungannya, tentang keputusan-keputusan yang dibuat dengan mempertimbangkan kehidupan generasi berikutnya.

Kita tidak tahu seperti apa dunia dua puluh tahun mendatang. Tapi kita tahu pilihan hari ini ikut menentukan arahnya. Maka jangan sampai generasi berikutnya cuma menerima daftar masalah yang harus mereka selesaikan. Berikan juga kesempatan, pengetahuan, lingkungan yang masih layak dihuni, dan contoh tentang bagaimana manusia semestinya memperlakukan bumi.

Sebab kita semua menempati rumah yang sama, meski tidak hidup pada waktu yang sama. Dan rumah yang baik bukanlah rumah yang seluruh isinya sudah kita habiskan ketika kita pergi. Rumah yang baik adalah rumah yang masih layak ditempati oleh mereka yang datang setelah kita.

Kalau dua puluh tahun lagi ada anak yang bertanya soal bumi di masa mudamu, satu hal apa yang ingin kamu ceritakan dengan bangga? Tulis di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-62 dari Tantangan 60 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 Oktober 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: peoplewise.vn