Ternyata Aku Takut Tidak Disukai Orang-Orang
Ya, aku overthinking: Bagaimana kalau mereka tersinggung? Bagaimana kalau aku dianggap merusak suasana? Bagaimana kalau besok aku jadi canggung saat bertemu mereka?
Perlahan, jariku bergeser. Aku menekan tombol backspace berulang kali sampai layar kembali kosong melompong. Sebagai gantinya, aku hanya mengirimkan satu stiker senyum dan kalimat pendek: "Siap, setuju."
Setelah WA kututup, ada rasa tidak nyaman yang tertinggal. Bukan karena aku kalah berdebat, melainkan karena aku baru saja membungkam suaraku sendiri hanya demi sebuah ilusi bernama "rasa aman".
Ketika Persetujuan Orang Lain Jadi Kompas Hidup
Kejadian kecil itu rasanya sangat mewakili fenomena yang menjangkiti banyak dari kita hari ini. Kamu dan aku sering kali rela menelan mentah-mentah pendapat kita, memendam ketidaknyamanan, dan mengangguk pada hal yang sebenarnya kita benci, semata-mata karena kita takut tidak disukai oleh lingkungan. Kita lebih memilih memakai topeng people-pleaser agar bisa diterima secara sosial.
Ketakutan ini sebenarnya berakar dari cara kita meletakkan harga diri. Kita hidup di era ketika nilai seorang manusia seolah ditakar dari seberapa banyak tepuk tangan yang ia terima. Sebuah pertanyaan yang pernah kutemukan rasanya make sense juga: Siapa yang sebenarnya menentukan nilai dirimu? Apakah seratus atau seribu like di dunia maya benar-benar menentukan seberapa berharga dirimu, dan seberapa bahagia hidupmu?
Ketika kita menggantungkan kebahagiaan pada persetujuan orang lain, kita sedang menyerahkan remot kendali hidup kita kepada mereka. Kita sibuk mereka-reka ekspektasi orang dan memaksakan diri untuk memenuhinya. Hasilnya? Kita mungkin disukai banyak orang, tetapi di saat yang sama, kita menjadi orang asing bagi diri kita sendiri. Capek kan.
Keberanian Memutus Rantai
Fenomena kelelahan ini mengingatkanku pada pemikiran Adlerian yang dikupas dalam buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Pesan utama buku itu sangat radikal tapi masuk akal kok, yaitu: membebaskan diri dari pandangan orang lain adalah syarat mutlak untuk menemukan kebahagiaan yang kita pilih sendiri.
Menurut kacamata psikologi ini, salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah ketidakmampuan kita melakukan "pemisahan tugas" (separation of tasks). Kita mencampuri urusan orang lain dengan cara berusaha mengontrol bagaimana mereka menilai kita. Padahal, mau kita bersikap sebaik malaikat pun, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka. Dan hal itu, perasaan tidak suka mereka, sepenuhnya adalah tugas dan urusan mereka, bukan urusan kita.
Berani tidak disukai bukan berarti kita lantas berubah menjadi manusia egois, arogan, atau sengaja mencari musuh. Keberanian ini adalah tentang melepaskan beban. Tentang menyadari bahwa kita hidup di dunia ini bukan untuk memenuhi ekspektasi siapa pun, sama seperti orang lain juga hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi kita.
Ketika kita berhenti mengemis validasi dan berani menyuarakan apa yang sebenarnya kita rasakan, sekalipun itu berarti ada orang yang akan menjauh, di titik itulah kita benar-benar merdeka. Lebih baik kehilangan beberapa "teman" yang hanya menyukai versi palsu dari diri kita, daripada harus kehilangan diri sendiri. Itulah isi dari buku Berani Tidak Disukai. Dan ketika kamu ingin mempraktikkan dalam keseharian, tentu ada banyak variabel yang juga disesuaikan dengan tipe dirimu sendiri. So, temukan kebijaksanaan baru, hidup ini petualangan rasa, rimba pengalaman. Semangat ya, sukses untukmu.
Punya pengalaman sama dengan tulisan ini? Ceritakan di kolom komentar, ya.
