Semua adalah Karena Kasih Sayang-Nya
Sambil memegang mikrofon, beliau berkata pelan, "Coba kita hitung. Kalau umur kita 75 tahun, dan seumur hidup itu kita pakai untuk beramal tanpa henti, secara hitungan balasannya ya 75 tahun juga di surga. Impas. Lalu kenapa Tuhan menjanjikan surga yang abadi?"
Aula jadi hening. Selama ini, tanpa sadar, kita sering memperlakukan hubungan dengan Sang Pencipta seperti urusan dagang. Setor amal sekian, minta balasan sekian. Padahal begitu keabadian ikut dihitung, cara pikir dagang itu langsung tidak berlaku.
Amal Kita Cuma Proposal
Ustadz tersenyum tipis lalu melanjutkan. Keabadian yang tanpa batas itu bukan bayaran untuk amal kita yang cuma seumur jagung. Itu hadiah, dan hadiah sebesar itu datang dari rahmat dan kasih sayang-Nya.
Kalau mau jujur, amal kita terlalu receh dan bolong di sana-sini untuk dipakai membeli surga. Coba ingat-ingat, berapa banyak perbuatan baik kita yang benar-benar bersih dari ego, riya, atau harapan diam-diam untuk dipuji orang? Sedikit sekali. Jadi amal itu lebih pantas disebut proposal, usaha kecil kita untuk menarik perhatian dan cinta-Nya, supaya kasih sayang-Nya yang kelak menutupi semua kekurangan kita.
Lima Hal yang Bisa Kita Mulai
Lalu bagaimana caranya manusia biasa seperti kita menarik kasih sayang itu? Ustadz menyebut lima hal yang dekat sekali dengan keseharian kita.
Pertama, jangan menyekutukan-Nya. Ini bukan cuma soal ritual mistis zaman dulu, karena bentuknya hari ini jauh lebih halus. Kita bisa saja menuhankan uang, mengagungkan jabatan, atau terlalu memuja validasi di media sosial, sampai lupa bahwa yang memegang kendali atas hidup kita hanya Tuhan.
Kedua, tertib beribadah. Mengatur waktu ibadah sering terasa seperti rantai yang membatasi kebebasan, padahal itu cara kita menyediakan tempat khusus untuk-Nya. Rasanya jelas berbeda dengan ibadah yang cuma kebagian sisa waktu ketika kebetulan sedang senggang.
Ketiga, berdzikir dan membaca Al-Qur'an. Hari-hari kita bising oleh notifikasi dan tuntutan kerja. Menyebut nama-Nya dan merenungi firman-Nya jadi jeda yang menyegarkan, dan membuat hati tidak gampang keras.
Keempat, peduli pada sesama. Kasih sayang dari langit mengalir deras kepada mereka yang mau membagikan kasih sayang di bumi. Membantu teman yang sedang kesulitan, tersenyum dengan tulus, atau sekadar meminjamkan telinga tanpa menghakimi, semuanya termasuk.
Kelima, menjaga hati pasangan. Buatku ini yang paling menohok, sekaligus yang nilainya paling tinggi. Kita sering tampil ramah luar biasa di luar sana, tapi dingin, egois, dan gampang meledak pada orang yang duduk di sebelah kita di rumah. Padahal peduli pada pasangan kedudukannya jauh lebih mulia daripada peduli pada orang asing. Pasangan adalah cermin paling jujur dan ujian empati kita sehari-hari.
Beban yang Pelan-pelan Terasa Ringan
Duduk diam di kursi aula siang itu, ada beban di dada yang terasa pelan-pelan longgar. Ternyata kita tidak harus jadi manusia sempurna dengan amal tanpa noda. Yang diminta hanyalah terus melangkah, merawat kepedulian, dan membiarkan kasih sayang-Nya menyelesaikan sisanya.
Dari kelima hal tadi, mana yang menurutmu paling sulit dijaga di tengah rutinitasmu sekarang? Ceritakan di kolom komentar, ya.
