Husnudzon yang Sesungguhnya Baru Diuji saat Doa Tak Terjawab
Tadi saya melihat sebuah konten yang membuat saya berhenti cukup lama, dan memutarnya ulang untuk mencoba merenungkan maknanya lebih dalam.
Isinya membahas tentang prasangka baik kepada Allah, tetapi dari sudut yng jarang dibicarakan. Selama ini saya sering mendengar nasihat agar selalu berpikir positif, yakin kepada Allah, membayangkan yang baik-baik, dan percaya bahwa sesuatu yang kita inginkan akan datang pada waktu yang tepat.
Tidak ada yang salah dengan berharap.
Tidak ada yang salah dengan berdoa.
Tidak ada pula yang salah dengan menyimpan keinginan yang besar.
Tapi dari situ saya mulai memikirkan satu hal: jangan-jangan, dalam beberapa keadaan, yang kita sebut husnudzon kepada Allah sebenarnya hanyalah keyakinan bahwa Allah akan memenuhi keinginan kita.
Sekilas keduanya memang hampir sama.
Padahal ternyata berbeda.
Datang kepada Allah dengan Skenario yang Sudah Jadi
Kadang-kadang kita datang kepada Allah dengan membawa sebuah skenario yang sudah selesai.
Kita ingin pekerjaan tertentu.
Kita ingin seseorang tetap bersama kita.
Kita ingin usaha yang sedang dirintis berhasil.
Kita ingin mendapatkan jabatan.
Kita ingin sembuh.
Kita ingin sebuah rencana berjalan persis seperti yang sudah kita bayangkan.
Kemudian kita berdoa.
Kita berusaha.
Kita menjaga pikiran tetap positif.
Lalu kita berkata kepada diri sendiri, "Aku yakin Allah akan memberikannya."
Kalimat itu terdengar sebagai bentuk keimanan.
Tetapi saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar sedang mempercayai Allah, atau sebenarnya sedang mempercayai skenario yang sudah saya susun sendiri?
Ada satu istilah yang terus terngiang di kepala saya sejak saat itu: prasangka hasrat.
Yaitu ketika prasangka baik kepada Allah perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa apa yang kita inginkan pasti merupakan sesuatu yang terbaik, sehingga Allah seolah-olah tinggal mewujudkannya.
Di titik itu, pusatnya bukan lagi kehendak Allah.
Pusatnya masih keinginan kita.
Hanya saja dibungkus dengan bahasa agama.
Saat Doa Berjalan Berbeda dari Harapan
Saya rasa hampir semua orang pernah mengalami masa ketika hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.
Ada sesuatu yang sudah diperjuangkan lama, tetapi akhirnya gagal.
Ada pintu yang kita kira akan terbuka, ternyata justru tertutup.
Ada seseorang yang kita kira akan berjalan bersama sampai jauh, ternyata hanya menemani beberapa bagian perjalanan.
Ada pula sesuatu yang sangat kita inginkan, tetapi semakin dikejar justru semakin menjauh.
Saat semuanya berjalan sesuai keinginan, mudah sekali mengatakan bahwa Allah baik.
Namun ketika kenyataan berbeda dari doa kita, di situlah mungkin kualitas prasangka baik benar-benar diuji.
Apakah kita masih mempercayai Allah ketika hasilnya bukan seperti yang kita minta?
Saya kemudian teringat makna sederhana dari salah satu ayat Al-Qur'an: boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal ia tidak baik bagi kita, dan boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal justru di sanalah terdapat kebaikan.
Kalimat itu terasa sederhana ketika dibaca.
Namun sulit sekali ketika harus dijalani.
Sebab manusia memang tahu apa yang diinginkannya.
Tetapi manusia tidak selalu tahu apa yang sebenarnya dibutuhkannya.
Husnudzon Bukan Berarti Semua Keinginan Terkabul
Barangkali kita perlu membedakan dua kalimat berikut.
"Aku yakin Allah akan memberikan apa yang kuinginkan."
dan
"Aku yakin Allah akan memberikan apa yang terbaik, meskipun mungkin berbeda dari yang kuinginkan."
Bagi saya, kalimat kedua terasa jauh lebih menenangkan.
Bukan karena kita berhenti berharap.
Bukan pula karena kita tidak lagi memiliki cita-cita.
Justru kita masih boleh meminta sesuatu dengan sangat sungguh-sungguh.
Kita masih boleh menangis dalam doa.
Kita masih boleh berharap sebuah pintu terbuka.
Namun di balik semuanya itu, ada ruang kecil yang kita sisakan untuk berkata:
"Ya Allah, jika ternyata yang kuinginkan bukan yang terbaik menurut-Mu, arahkan aku kepada sesuatu yang lebih baik."
Mungkin di situlah letak berserah diri yang sebenarnya.
Bukan berhenti berusaha.
Tetapi berhenti memaksa Allah mengikuti rencana kita.
Allah Tetap Baik, Bahkan Ketika Memberi dengan Cara yang Berbeda
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa salah satu kekeliruan manusia adalah terlalu cepat menentukan bentuk kebaikan.
Kita menganggap mendapat sesuatu adalah kebaikan.
Tidak mendapatkannya adalah kegagalan.
Kita menganggap keberhasilan adalah pertolongan.
Kegagalan adalah penolakan.
Padahal pengalaman hidup sering menunjukkan hal yang berbeda.
Ada sesuatu yang dulu sangat saya inginkan, tetapi setelah waktu berjalan cukup panjang, saya justru bersyukur karena tidak mendapatkannya.
Ada jalan yang dulu terasa seperti kegagalan, tetapi kemudian membawa saya menuju tempat lain yang lebih baik.
Ada kehilangan yang pada mulanya hanya terasa menyakitkan, tetapi perlahan mengajarkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah saya pelajari jika semuanya berjalan mudah.
Barangkali karena pandangan kita memang pendek.
Kita hanya bisa melihat bagian kecil dari perjalanan.
Sementara Allah mengetahui keseluruhannya.
Dari Meminta Menuju Mengalirkan
Ada satu hal lain yang terus saya pikirkan setelah itu.
Selama ini mungkin terlalu banyak energi hidup kita digunakan untuk bertanya:
"Apa yang akan kudapat?"
Apa yang akan saya peroleh dari pekerjaan ini?
Apa yang akan saya dapat dari hubungan ini?
Apa keuntungan dari melakukan kebaikan ini?
Apa balasan dari usaha yang sudah saya lakukan?
Padahal mungkin ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting:
"Apa yang bisa saya berikan melalui hidup ini?"
Jika diberi ilmu, siapa yang bisa terbantu dengannya?
Jika diberi rezeki, siapa yang bisa ikut merasakan?
Jika diberi jabatan, apa yang bisa diperbaiki?
Jika diberi waktu, kepada siapa perhatian itu bisa diberikan?
Jika diberi kemampuan, kebaikan apa yang bisa lahir darinya?
Pertanyaannya tidak lagi hanya tentang apa yang datang kepada kita.
Tetapi juga tentang apa yang mengalir melalui kita.
Dan saya rasa, pergeseran kecil ini bisa mengubah banyak hal.
Kita tidak lagi melihat kehidupan hanya sebagai tempat meminta.
Tetapi juga sebagai tempat mengabdi.
Kedewasaan Iman yang Sesungguhnya
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.
Husnudzon kepada Allah bukanlah teknik untuk membuat kenyataan mengikuti keinginan kita.
Bukan pula cara spiritual untuk memastikan semua yang kita bayangkan akan terjadi.
Husnudzon justru mungkin terasa paling nyata ketika kenyataan bergerak ke arah yang tidak kita pahami, tetapi kita masih memilih untuk percaya.
Kita tetap berusaha.
Kita tetap berdoa.
Kita tetap berharap.
Tetapi kita tidak lagi menilai kebaikan Allah hanya dari seberapa banyak keinginan kita yang terpenuhi.
Karena bisa jadi pemberian Allah hadir dalam bentuk mendapatkan sesuatu.
Namun bisa pula hadir dalam bentuk dijauhkan dari sesuatu.
Bisa jadi pertolongan datang dengan dibukakan jalan.
Tetapi bisa juga dengan ditutupkannya sebuah pintu.
Dan mungkin kedewasaan iman dimulai ketika kita mampu berkata:
"Ya Allah, aku mempunyai banyak keinginan. Tetapi aku lebih percaya kepada pengetahuan-Mu daripada kepada keinginanku sendiri."
Lalu, untuk diri saya sendiri dan mungkin juga untuk siapa pun yang membaca tulisan ini, ada beberapa pertanyaan yang layak direnungkan:
Ketika saya mengatakan sedang berprasangka baik kepada Allah, apakah saya benar-benar mempercayai Allah, atau hanya sedang berharap Allah menyetujui keinginan saya?
Apakah saya masih bisa menyebut Allah baik, ketika jawaban doa saya ternyata berbeda dari yang sya harapkan?
Dan yang mungkin paling sulit:
Jika hari ini saya berhenti bertanya "apa yang akan saya dapat dari hidup?", lalu menggantinya dengan "kebaikan apa yang bisa saya alirkan melalui hidup saya?", apa yang akan berubah?
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-26 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay
