Jika Bisa Bertemu Diri Sendiri di Usia Dua Puluh
Beberapa waktu lalu saya pernah iseng melakukan survei kecil-kecilan kepada beberapa teman yang usianya sudah mendekati masa pensiun. Pertanyaannya sederhana: "Seandainya hari ini Anda bisa bertemu dengan diri sendiri ketika berusia dua puluh tahun, nasihat apa yang akan Anda sampaikan?"
Jawabannya ternyata bermacam-macam. Ada yang ingin menyuruh dirinya lebih rajin menabung. Ada yang berharap dahulu lebih berani mengambil kesempatan. Ada yang mengatakan agar jangan terlalu sibuk bekerja dan lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga. Ada pula yang ingin mengingatkan dirinya untuk menjaga kesehatan dan tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain.
Saya kemudian menyadari bahwa jawaban-jawaban itu sebenarnya seperti ringkasan perjalanan hidup mereka. Orang berbicara tentang sesuatu yang kini dianggap penting karena ia sudah mengalami sendiri apa akibat ketika dahulu mengabaikannya.
Mungkin hampir setiap orang mempunyai kalimat, "Seandainya dulu saya tahu."
Seandainya dulu tahu bahwa orang tua tidak akan selamanya ada. Seandainya dulu tahu bahwa kesehatan jauh lebih mahal daripada yang dibayangkan. Seandainya dulu lebih berani. Seandainya dulu tidak mengambil keputusan itu. Ada pula orang yang, setelah menjalani kehidupan rumah tangga bertahun-tahun, pernah berpikir bahwa seandainya dahulu ia lebih mengenal dirinya sendiri dan lebih jernih dalam memilih pasangan hidup, mungkin jalan hidupnya akan berbeda. Bukan selalu berarti ia ingin menghapus seluruh perjalanan yang telah terjadi, tetapi kadang manusia memang baru memahami besarnya sebuah pilihan setelah hidup cukup lama bersama konsekuensinya. Ketika usia bertambah, banyak hal yang dahulu membingungkan tiba-tiba terlihat begitu jelas.
Keanehan yang Ada dalam Hidup
Tetapi di situlah letak keanehan hidup.
Ketika berusia dua puluh tahun, kita mengambil keputusan dengan pengetahuan seorang berusia dua puluh tahun. Kita belum mengalami kehilangan yang kelak mengubah cara memandang keluarga. Belum mengalami kegagalan yang mengajarkan kerendahan hati. Belum merasakan tubuh yang mulai meminta perhatian. Kita sering menilai diri kita pada masa lalu menggunakan kebijaksanaan yang baru kita peroleh bertahun-tahun kemudian.
Kebijaksanaan yang Lahir dari Ketidaksempurnaan
Barangkali kisah hidup manusia memang tidak dibuat sempurna.
Selalu ada keputusan yang ternyata keliru, kesempatan yang terlewat, orang yang salah kita percaya, atau hal penting yang baru kita sadari setelah terlambat. Termasuk keputusan-keputusan besar yang dahulu kita ambil dengan keyakinan penuh, tetapi bertahun-tahun kemudian baru kita pahami ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tetapi anehnya, justru dari ketidaksempurnaan itulah sebagian kebijaksanaan lahir.
Kalau sejak usia dua puluh kita sudah mengetahui semua yang kita ketahui hari ini, mungkin hidup akan jauh lebih rapi. Namun belum tentu kita akan menjadi manusia yang sama.
Berhenti Menyesali, Terus Melanjutkan
Ada pelajaran yang bisa disampaikan lewat nasihat. Ada pula pelajaran yang rupanya baru benar-benar dipahami setelah dijalani.
Karena itu, saya mulai berpikir bahwa terus-menerus menyesali masa lalu mungkin tidak banyak gunanya. Diri kita yang sekarang justru dibentuk oleh diri kita dahulu yang pernah salah memilih, pernah gagal, pernah kehilangan, lalu tetap melanjutkan perjalanan.
Surat dari Diri Sendiri Dua Puluh Tahun Mendatang
Kita memang tidak mempunyai mesin waktu untuk kembali menemui diri sendiri pada usia dua puluh tahun. Tetapi ada cara lain untuk menggunakan kesadaran itu.
Bayangkan diri kita dua puluh tahun mendatang sedang berdiri di hadapan kita hari ini.
Mungkin ia akan berkata, "Lebih seringlah menemui orang tuamu." Atau, "Jaga tubuhmu mulai sekarang." Bisa juga, "Jangan habiskan terlalu banyak hidup untuk memikirkan penilaian orang." Barangkali ia hanya berkata, "Nikmati masa ini. Kelak kamu akan merindukannya."
Sebelum Kalimat "Seandainya Dulu" Terucap Lagi
Kita tentu tidak tahu.
Tetapi sebelum dua puluh tahun berlalu dan kita kembali mengucapkan kalimat seandainya dulu saya tahu, mungkin ada baiknya bertanya kepada diri sendiri:
Jika diri saya dua puluh tahun mendatang bisa menemui saya hari ini, nasihat apa yang kemungkinan besar akan ia berikan?
Hal apa yang sebenarnya sudah saya tahu penting, tetapi sampai sekarang masih terus saya tunda?
Dan,
adakah sesuatu yang masih bisa saya lakukan hari ini agar kelak saya tidak perlu mengucapkan, "Seandainya dulu…"
Salam,
Agus Tri Yuniawan
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-27 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay