Diakali karena Dianggap Tidak Mengerti

Suatu sore di bawah langit yang mulai menguning, aku merenungkan kisah tentang seorang wanita paruh baya yang kesehariannya tak pernah lepas dari lumpur sawah. Kita sebut saja beliau Nenek. Penampilannya sangat bersahaja, tutur katanya lugu, dan ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Siapa pun yang melihatnya sekilas mungkin hanya akan menganggapnya sebagai petani tua biasa. Namun, di balik kesederhanaan penampilannya itu, semesta menitipkan rezeki yang luar biasa. Ia memiliki aset tanah dan hamparan sawah yang cukup banyak, hasil dari jerih payah dan ketekunannya selama bertahun-tahun.

Saat Baik Hati Dianggap Peluang

Sayangnya, keluguan dan kebaikan hati Nenek justru menjadi magnet bagi orang-orang dengan niat yang keliru. Ada saja segelintir orang di sekitarnya yang datang dengan wajah memelas untuk meminjam uang. Namun, ketika tiba saatnya menagih janji, alih-alih mengembalikan, orang-orang ini justru marah dan berbalik menyerang Nenek dengan kata-kata kasar.

Tragedi yang lebih menyayat hati terjadi saat ia hendak melakukan transaksi jual beli tanah. Oleh pihak pembeli, tanah tersebut diukur berulang kali hingga tiga kali putaran. Di akhir pengukuran, luas tanahnya tiba-tiba menyusut hingga seratus meter lebih sempit dari ukuran aslinya. Karena ketidaktahuannya dan rasa sungkan yang telanjur dimanfaatkan, Nenek terpaksa mengangguk dan menerima hasil yang tidak masuk akal itu. Belum lagi, pihak yang menguruskan proses jual beli tersebut ikut mengambil keuntungan dengan menarik tarif jasa yang jauh di atas ambang kewajaran.

Pintar tapi Tega

Mendengar rentetan kejadian ini, kamu dan aku mungkin akan langsung bertanya-tanya, mengapa ada manusia yang tega memanfaatkan sosok renta dan tak berpendidikan seperti itu? Kalau digali lebih dalam, akar masalahnya sering kali bukan cuma soal kerakusan akan harta. Ada sesuatu yang lebih mengerikan yang sedang bekerja di sana, yaitu kesombongan intelektual.

Orang-orang yang merasa dirinya lebih modern, lebih pintar, dan lebih berpendidikan terkadang mengalami kecacatan moral. Mereka memandang keluguan orang lain sebagai sebuah kebodohan yang "sah" untuk dieksploitasi. Di dalam kepala mereka, ada pembenaran yang sangat licik, "Ah, dia tidak sekolah, dia tidak akan mengerti, dan dia juga tidak butuh uang sebanyak itu." Mereka merasa lebih berhak atas kekayaan tersebut hanya karena mereka memiliki kelicikan untuk memanipulasi angka dan aturan.

Siapa yang Sebenarnya Jatuh Miskin?

Peristiwa ini pada akhirnya memaksa kita untuk merenung ulang tentang definisi kemiskinan yang sesungguhnya. Nenek memang kehilangan beberapa jengkal tanahnya, dan ia mungkin kehilangan sebagian uangnya akibat diakali oleh orang-orang yang tak tahu berterima kasih. Namun, ia tidak pernah kehilangan kedamaian dan kelapangan hatinya.

Sebaliknya, orang-orang yang terlihat memenangkan transaksi itu, yang pulang membawa uang hasil menipu dan memanipulasi, sebenarnya adalah pihak yang paling miskin. Mereka menukar nilai kemanusiaan dan harga diri mereka dengan sepetak tanah dan beberapa lembar uang. Pendidikan tinggi dan kepintaran yang mereka banggakan nyatanya gagal membuat mereka menjadi manusia yang seutuhnya.

Pernahkah kamu menyaksikan sendiri kejadian di mana kebaikan dan kesederhanaan seseorang justru dimanfaatkan oleh mereka yang merasa lebih pintar? Coba bagikan perenunganmu di kolom komentar, ya.

Salam, 
Agus Tri Yuniawan 
_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-18 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay Sumber 
gambar: AI image