Kenapa Orang yang "Kelebihan Usaha" Selalu Menang Saat Krisis Datang?
Sering kali, orang-orang yang melakukan hal-hal di luar kewajiban ini dipandang sebelah mata, bahkan dikritik. Tapi sadarkah kita, apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah sebuah mekanisme negosiasi tingkat tinggi?
Mari kita bedah dari tiga sudut pandang yang mungkin sering kita temui sehari-hari.
Email di Jam 9 Malam dan Pengajuan Cuti
Di dunia kerja, kita mungkin punya satu teman sekantor yang dedikasinya bikin geleng-geleng kepala. Sebut saja namanya Andi. Ia selalu menyelesaikan tugas dengan rapi, penurut pada instruksi atasan, dan bahkan masih rela membalas email atau merespons krisis pekerjaan di luar jam kerja.
Tak sedikit rekan kerjanya yang berbisik-bisik, "Ngapain sih kerja keras banget? Toh gajinya sama saja."
Sampai suatu hari, Andi tiba-tiba harus mengambil cuti mendadak karena urusan keluarga yang mendesak. Kalau biasanya pengajuan cuti harus melewati proses birokrasi yang berbelit, punya Andi langsung disetujui hari itu juga tanpa banyak tanya. Begitu pula saat ada peluang promosi jenjang karier; namanya melenggang mulus di urutan pertama.
Apa yang sebenarnya terjadi? Andi sedang membangun mekanisme negosiasi. Kesediaannya merespons pekerjaan di luar jam wajib adalah caranya menaikkan "daya tawar" di mata atasan. Ia punya nilai lebih yang membuatnya sangat diperhitungkan.
Sujud Sunnah di Tengah Hidup yang Sudah Sempurna
Hal serupa juga berlaku dalam urusan spiritual. Mungkin kamu pernah melihat seseorang yang hidupnya tampak sudah sangat mapan, hartanya berkecukupan, keluarganya harmonis, kesehatannya prima. Tak ada satu pun krisis yang sedang mengancam hidupnya.
Namun, di tengah kesempurnaan itu, ia masih rutin terbangun di sepertiga malam untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang sifatnya tidak wajib.
"Ngapain kamu capek-capek ibadah sunnah terus? Kamu masih punya keinginan apa sih? Kan semua kebutuhanmu sudah terpenuhi," begitu kira-kira komentar yang kadang terlontar dengan nada heran.
Pertanyaan seperti ini wajar saja muncul. Tapi jawabannya kembali pada konsep daya tawar. Ibadah yang tidak wajib bukan sekadar rutinitas untuk meminta sesuatu secara instan, melainkan mekanisme negosiasi seorang hamba kepada Tuhannya. Ketika kelak badai hidup datang menerjang, hamba yang punya "tabungan" kedekatan ekstra ini akan lebih mudah mendapat pertolongan dan kelapangan hati. Ia sudah membangun daya tawarnya di jalur langit.
Tetangga yang Selalu Hadir di Tengah Kesibukan
Contoh ketiga datang dari kehidupan bertetangga di sekitar kita. Ada seorang warga yang sebenarnya sangat sibuk bekerja, tapi selalu menyempatkan diri hadir di setiap kerja bakti membersihkan selokan kampung atau membantu mendirikan tenda saat ada tetangga yang hajatan. Padahal, kalaupun ia absen dan hanya membayar iuran, rasanya tidak akan ada yang memarahinya.
Lalu suatu ketika, warga sibuk ini tertimpa musibah. Tanpa diminta atau dikomando, seluruh warga kampung berbondong-bondong datang membantu, membawakan makanan, meringankan bebannya.
Sekali lagi, ini soal daya tawar. Tenaga ekstra yang ia keluarkan saat kerja bakti bukan hal yang sia-sia, itu adalah negosiasi sosial yang memberinya tempat istimewa di hati masyarakat.
Daya Tawar Ada di Ekstra Mil
Dari ketiga kisah di atas, ada satu benang merah yang bisa kita tarik. Melakukan hal-hal di luar kewajiban, baik sebagai karyawan, sebagai hamba, maupun sebagai bagian dari masyarakat, bukan tindakan cari muka atau buang-buang energi. Itu adalah strategi negosiasi paling elegan.
Dengan bersedia melakukan hal yang tidak wajib, kita sedang meningkatkan daya tawar kita sendiri. Kita tidak lagi dipandang sebagai orang biasa, melainkan sosok yang selalu diperhitungkan saat ruang dan waktu tiba-tiba menuntut kompromi.
Jadi, sudahkah kita membangun daya tawar kita hari ini?
Salam,
Agus Tri Yuniawan
_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81.
Sumber gambar: AI generation
